Jakarta, Javanusa—Menteri Agama (Menang) Nasaruddin Umar menargetkan Indonesia terbebas dari buta huruf Al-Qur’an dalam tiga tahun.
Pemerintah menggandeng organisasi masyarakat Islam untuk memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an hingga ke berbagai daerah.
Target tersebut menguat setelah Wahdah Islamiyah mengukuhkan 10.000 guru Al-Qur’an. Para pengajar itu akan ikut menjalankan gerakan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Menag Soroti Tingginya Angka Buta Huruf Al-Qur’an
Menag Nasaruddin Umar mengatakan, persoalan buta huruf Al-Qur’an masih membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Ia menyebut sekitar 60 persen umat Islam di Indonesia masih belum mampu membaca Al-Qur’an.
“Keberadaan 10.000 guru Al-Qur’an menjadi salah satu kontribusi konkret masyarakat dalam membantu mengatasi persoalan buta huruf Al-Qur’an. Menurut data statistik, masih ada kurang lebih 60% warga umat Islam Indonesia yang buta huruf Al-Quran. Kementerian Agama tidak bisa menyelesaikan sendiri urusan besar seperti ini. Di sinilah peran ormas-ormas Islam,” ujar Menag.
Pernyataan tersebut ia sampaikan saat membuka Muktamar V Wahdah Islamiyah di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Nasaruddin, langkah Wahdah Islamiyah dapat memperluas jangkauan pendidikan Al-Qur’an. Ribuan guru tersebut diharapkan mampu menjangkau masyarakat yang selama ini belum memperoleh pembelajaran secara memadai.
10.000 Guru Ditargetkan Membimbing 100.000 Murid
Nasaruddin menilai pengukuhan 10.000 guru Al-Qur’an memiliki dampak besar jika setiap pengajar membimbing sedikitnya 10 orang.
“Kontributor yang paling konkret adalah Wahdah Islamiyah menyumbangkan 10.000 pembebas buta huruf Al-Qur’an di Indonesia,” katanya.
Ia kemudian menghitung potensi jangkauan program tersebut. Dengan asumsi setiap guru membimbing 10 murid, sebanyak 10.000 guru dapat membantu 100.000 orang belajar membaca Al-Qur’an.
“Kalau 10 ribu guru Al-Qur’an, setiap orang nya membebaskan 10 orang dari buta huruf Al-Qur’an, maka kita akan punya kader. 10 ribu guru kali 10 murid. Dalam tempo insya allah paling lambat belajar huruf Al-Qur’an tiga bulan. Saya yakin insya Allah dalam tempo tiga tahun Indonesia akan bebas daripada buta huruf Al-Qur’an,” tambahnya.
Guru Al-Qur’an Diminta Membentuk Karakter
Menag mengingatkan bahwa tugas guru Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan membaca. Para pengajar juga memiliki peran dalam membangun karakter dan nilai peserta didik.
“Guru Al-Qur’an tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga perlu membentuk karakter peserta didik. Semoga tentu kita tidak hanya mengajarkan membaca Al-Qur’an, tetapi kita juga berharap semoga para guru ini berhasil menembus batin-batin para muridnya sebagai seorang guru,” tutur Menag.
Karena itu, pembelajaran Al-Qur’an perlu menyentuh aspek pengetahuan sekaligus pembentukan kepribadian. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pendidikan agama memberi dampak lebih luas dalam kehidupan peserta didik.
Menag Ajak Guru Rawat Moderasi Beragama
Selain pemberantasan buta huruf Al-Qur’an, Nasaruddin mengajak para guru untuk ikut menjaga karakter Indonesia sebagai bangsa yang moderat.
Ia menilai nilai moderasi tidak bertentangan dengan penguatan syariat dan kehidupan religius. Keduanya justru dapat berjalan beriringan dalam kehidupan berbangsa.
“Mari kita merawat Indonesia sebagai bangsa yang moderat. Moderat itu jangan dipertentangkan dengan kekuatan syariah kita, kekuatan religi kita. Negara religi atau negara moderat, itu jangan dipertentangkan. Indonesia menggabungkan keduanya,” katanya. (*)






