Javanusa.com—Dalam beberapa tahun terakhir, dunia hubungan percintaan di era digital ikut melahirkan banyak istilah baru di kalangan anak muda.
Salah satunya adalah istilah cowok mokondo, yang kerap muncul di media sosial untuk menggambarkan pola perilaku tertentu dalam hubungan.
Apa itu cowok mokondo?
Istilah mokondo merupakan singkatan gaul dari ungkapan “modal … doang”, yang merujuk pada pria yang dianggap hanya mengandalkan penampilan atau rayuan tanpa memberikan kontribusi seimbang dalam hubungan.
Dalam konteks percintaan, istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang cenderung mengambil keuntungan dari pasangan, baik secara emosional maupun material, tanpa memberikan timbal balik yang setara.
Mengapa dianggap sebagai red flag?
Dalam hubungan yang sehat, keseimbangan peran dan kontribusi menjadi hal penting. Ketika salah satu pihak hanya menerima tanpa memberi, hubungan berisiko menjadi tidak seimbang.
Dikutip dari laman Kelas Cinta, perilaku yang sering dikaitkan dengan cowok mokondo dianggap sebagai red flag karena dapat menunjukkan kurangnya komitmen, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap pasangan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan dan konflik dalam hubungan.
Ciri-ciri cowok mokondo dalam hubungan
Meski tidak bisa digeneralisasi, ada beberapa pola perilaku yang sering diasosiasikan dengan istilah ini, antara lain:
1. Minim kontribusi dalam hubungan
Cenderung tidak terlibat dalam pengeluaran atau usaha bersama, termasuk saat berkencan.
2. Fokus berlebihan pada fisik
Lebih menekankan aspek penampilan dibandingkan kedekatan emosional atau kualitas komunikasi.
3. Menghindari komitmen
Tidak menunjukkan keseriusan dalam hubungan jangka panjang dan cenderung menjalani relasi yang tidak jelas arah.
4. Kurang inisiatif
Jarang menunjukkan usaha seperti merencanakan pertemuan, memberi perhatian kecil, atau menjaga komunikasi.
5. Sering mencari alasan
Menghindari tanggung jawab dengan berbagai alasan saat dibutuhkan dalam situasi tertentu.
Dampak memiliki pasangan dengan pola seperti ini
Hubungan dengan ketimpangan kontribusi dapat menimbulkan sejumlah dampak emosional, seperti:
-
- Perasaan tidak dihargai
Salah satu pihak merasa usaha yang diberikan tidak mendapatkan apresiasi yang layak. - Kelelahan emosional
Hubungan terasa berat karena hanya satu pihak yang terus berusaha mempertahankan keseimbangan. - Menurunnya kepercayaan
Pengalaman buruk dapat memengaruhi cara pandang terhadap hubungan di masa depan. - Ketidakstabilan finansial emosional
Tekanan dalam hubungan juga dapat berdampak pada rasa aman secara psikologis dan finansial.
- Perasaan tidak dihargai
Cara menghindari hubungan yang tidak seimbang
Untuk menghindari hubungan yang merugikan, beberapa langkah berikut dapat menjadi pertimbangan:
-
- Perhatikan tindakan, bukan sekadar ucapan
Konsistensi perilaku lebih penting dibanding janji yang tidak diwujudkan. - Tetapkan batasan sejak awal
Batasan yang jelas membantu menjaga hubungan tetap sehat dan saling menghargai. - Bangun komunikasi terbuka
Diskusi yang jujur dapat membantu menilai keseriusan dan arah hubungan. - Jangan ragu mengevaluasi hubungan
Jika hubungan tidak memberikan dampak positif, penting untuk mempertimbangkan ulang kelanjutannya.
- Perhatikan tindakan, bukan sekadar ucapan
Kesimpulan
Istilah cowok mokondo pada dasarnya merujuk pada pola hubungan yang tidak seimbang, di mana salah satu pihak lebih banyak menerima dibanding memberi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan emosional dan kualitas hubungan.
Hubungan yang sehat idealnya dibangun atas dasar saling menghargai, kerja sama, dan kontribusi dua arah. Mengenali tanda-tanda ketidakseimbangan sejak awal dapat membantu seseorang menjaga diri dan memilih hubungan yang lebih sehat dan dewasa. (*/red)






