Mentan Amran Ungkap Dugaan Penipuan Beras Fortifikasi, Berpotensi Rugikan Konsumen Rp71 Triliun

Penulis -

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mentan Andi Amran Sulaiman. (Foto: Ditjen PKH Kementan)

Mentan Andi Amran Sulaiman. (Foto: Ditjen PKH Kementan)

Jakarta, Javanusa—Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap dugaan praktik penjualan beras fortifikasi yang tidak memenuhi standar, namun dipasarkan dengan harga tinggi.

Temuan tersebut diperkirakan menyebabkan potensi kerugian konsumen mencapai Rp71 triliun serta berpotensi merugikan negara hingga sekitar Rp56 triliun dari sisi subsidi pangan.

Amran menjelaskan, beras fortifikasi merupakan pangan yang diperkaya vitamin dan mineral untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat berpenghasilan rendah, kelompok rentan, serta anak-anak yang berisiko mengalami stunting. Karena mendapat dukungan pemerintah, harga produk tersebut seharusnya tidak jauh berbeda dengan beras medium.

Namun, hasil pengawasan Kementerian Pertanian menemukan adanya produk yang dijual dengan harga jauh di atas kewajaran, bahkan mencapai Rp42 ribu per kilogram.

“Fortifikasi itu diberikan vitamin-vitamin khusus untuk masyarakat menengah ke bawah, orang yang stunting, atau kekurangan gizi. Logikanya harganya harus murah, minimal setara beras medium atau sedikit lebih tinggi karena ada tambahan vitamin. Tapi ternyata ada yang dijual sampai Rp42 ribu per kilogram. Ini tidak masuk akal, ini akal-akalan,” kata Mentan Amran saat doorstop bersama wartawan di Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Lebih lanjut, Amran mengungkapkan sekitar 80 persen sampel beras fortifikasi yang telah diuji tidak memenuhi standar yang berlaku. Pemeriksaan dilakukan oleh tiga laboratorium berbeda untuk memastikan akurasi hasil pengujian.

“Yang terdaftar itu sekitar 80 persen tidak sesuai standar. Harga rata-ratanya Rp22.665 per kilogram, bahkan ada yang mencapai Rp42 ribu. Ini sangat ekstrem. Kami menggunakan banyak laboratorium agar hasilnya akurat dan seluruh temuan akan kami tindak lanjuti,” ujarnya.

Potensi Kerugian Konsumen dan Negara

Menurut Amran, praktik tersebut tidak hanya membuat konsumen membeli produk yang tidak sesuai dengan klaim fortifikasi, tetapi juga mengurangi efektivitas program subsidi pangan yang telah dibiayai negara.

Baca Juga :  Kementerian UMKM dan APSKI Perkuat Kolaborasi, Dorong Kampus Jadi Pusat Lahirnya Wirausaha Baru

Pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi sektor pangan sekitar Rp164 triliun pada 2026. Dari nilai tersebut, potensi subsidi yang berkaitan dengan peredaran beras fortifikasi diperkirakan mencapai sekitar Rp56 triliun.

Amran menilai penyimpangan tersebut sebagai bentuk penyalahgunaan karena proses produksi beras turut memperoleh berbagai fasilitas subsidi, mulai dari pupuk, irigasi, benih, listrik, bahan bakar minyak, hingga alat dan mesin pertanian.

“Ini barang subsidi. Produksinya mendapat subsidi pupuk, irigasi, listrik, BBM, benih, traktor, dan lain-lain. Sudah barang subsidi, dipakai menipu pula rakyat. Ini kejam. Selain merugikan masyarakat sekitar Rp71 triliun, juga merugikan negara karena subsidi yang diberikan tidak tepat sasaran,” katanya.

Diduga Bergeser dari Kasus Beras Premium

Kementerian Pertanian menduga pelaku mengalihkan modus usahanya ke beras fortifikasi setelah pengawasan terhadap beras premium diperketat.

Menurut Amran, pergeseran tersebut didorong oleh potensi keuntungan yang jauh lebih besar karena harga jual beras fortifikasi dapat mencapai puluhan ribu rupiah per kilogram.

“Dugaannya terjadi pergeseran. Karena premium sudah kita kunci pengawasannya, mereka bergeser ke fortifikasi. Bayangkan kalau dijual sampai Rp42 ribu per kilogram, keuntungan yang diperoleh sangat besar,” ujar dia.

Kementan Siapkan Sanksi Tegas

Amran memastikan pemerintah akan terus menindak praktik mafia pangan demi melindungi hak masyarakat memperoleh pangan bergizi dengan harga yang terjangkau.

“Kita tidak boleh berhenti memerangi mafia pangan. Ini bukan sekadar soal angka, tetapi mereka merampas hak rakyat. Yang dirugikan adalah masyarakat kecil yang seharusnya mendapat pangan bergizi dengan harga terjangkau,” tegasnya.

Saat ini, Kementerian Pertanian telah mengumpulkan barang bukti dan menyelesaikan tahapan administrasi sebelum menyerahkan hasil pemeriksaan kepada aparat penegak hukum. Pemerintah juga menyiapkan sanksi administratif berupa pencabutan izin edar bagi produsen yang terbukti melanggar ketentuan.

Baca Juga :  Digitalisasi Arsip Dinilai, Padang Targetkan 3 Besar Nasional

“Saya sudah minta dicek sedetail mungkin. Kalau sudah terbukti melanggar, izinnya kami cabut. Yang melanggar harus diberi hukuman berat agar memberikan efek jera,” kata Amran.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian memeriksa 15 merek beras fortifikasi. Hasil pengawasan menunjukkan sekitar 80 persen sampel tidak memenuhi standar fortifikasi.

Pengawasan akan terus diperluas melalui koordinasi dengan Satgas Pangan dan aparat penegak hukum untuk memastikan seluruh produk yang beredar memenuhi standar mutu serta melindungi hak konsumen. (*)

Berita Terkait

Fadly Amran Lantik Indra Noferi sebagai Dewas Perumda PSM Padang
Tekan Inflasi dan Lonjakan Harga Cabai, Pemko Padang Gelar Gerakan Pangan Murah di Batang Arau
Fadly Amran Sambut Investasi Green SM Rp500 Miliar, Taksi Listrik Segera Hadir di Padang
Maigus Nasir Resmikan Kampung Budi Daya Ikan Air Tawar di Kelurahan Pisang, 53 Keluarga Terima Bantuan
Progres Flyover Sitinjau Lauik I Capai 35,275 Persen, Jembatan 1 Rampung
Pemerintah Siapkan Storage di Dalam Negeri, Impor Crude Tak Lagi Mampir ke Negara Lain
Pemko Padang Lengkapi Fasilitas Basement Blok II dan III Pasar Raya, Pedagang Diminta Mulai Berjualan
Tekan Gejolak Harga Pangan, Pemerintah Gelar GPM Serentak di 38 Provinsi

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:55 WIB

Pembangunan Drainase Padang Tembus 10 Km, Lampaui Target 4 Km

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:25 WIB

Muswil VII APTISI Sumbar Digelar 31 Oktober, Universitas Fort De Kock Jadi Tuan Rumah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:52 WIB

Lantik 33 Pejabat Pemprov Sumbar, Arry Yuswandi Tekankan Kompetensi dan Etika Birokrasi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:09 WIB

DPC GMNI Padang Gelar Refleksi 98 Tahun Sumpah Pemuda: Soroti Skandal Ijazah Gibran

Kamis, 29 Oktober 2026 - 00:33 WIB

Atasi Kendala Peradilan, Fadly Amran Dorong PKS dengan Pengadilan Agama Padang

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:52 WIB

Fadly Amran Dorong Penguatan Pendidikan Diniyah Lewat Program Smart Surau

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:02 WIB

Mahyeldi Ajak Pemuda Sumbar Jaga Persatuan dan Waspadai Bahaya Narkoba

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:12 WIB

Fadly Amran Tutup Diksarmil Menwa Pagaruyung Sumbar Angkatan ke-49, Tekankan Wawasan Kebangsaan dan Kesiapsiagaan Bencana

Berita Terbaru