Pessel, Javanusa—Manusia pada dasarnya ingin bahagia. Namun, banyak yang salah memahami hakikat kebahagiaan itu sendiri.
Hal itu disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Khairatul Hasanah Muhammadiyah Lakitan, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Ustad Sapta Kardeni, kepada media ini Jumat (31/10/2025) di Lakitan.
Melalui kajiannya Ustad Sapta Kardeni menyampaikan pesan yang menyejukkan hati tentang makna kebahagiaan sejati menurut Islam dengan mengangkat tema “Bahagia dengan Membahagiakan Orang Lain”.
Ia menyampaikan semua manusia pada dasarnya ingin bahagia. Namun, banyak yang salah memahami hakikat kebahagiaan itu sendiri.
Menurutnya, kebahagiaan sejati tidak terletak pada kekayaan, jabatan, atau kemewahan hidup.
Kebahagiaan yang sebenarnya adalah kedekatan diri kepada Allah SWT. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin tenang, damai, dan tentram jiwa nya.
Ia menjelaskan ketenangan hati merupakan karunia yang Allah berikan kepada hamba-hamba yang beriman dan beramal saleh. Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 97.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik,” jelasnya.
Menurut Ustad Sapta, ayat tersebut menggambarkan kebahagiaan bukan hasil dari pencapaian duniawi, tetapi buah dari iman dan amal saleh.
“Kehidupan yang baik yang dijanjikan Allah SWT itu bukan sekadar kelapangan rezeki, tapi juga ke lapangan hati,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Sapta Kardeni mengingatkan salah satu amal yang paling dicintai oleh Allah setelah melaksanakan kewajiban adalah menggembirakan hati sesama muslim.
Hal itu dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.
“Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah SWT setelah melaksanakan berbagai kewajiban adalah menggembirakan hati seorang muslim,” katanya.
Hadis ini, jelasnya, menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya saling membahagiakan antar umat.
“Membahagiakan orang lain adalah bentuk ibadah sosial yang bernilai tinggi di sisi Allah,” tutur Ustad Sapta.
Ia mengungkapkan, amal tersebut bisa dilakukan dalam banyak bentuk, tidak harus besar atau mahal.
“Kadang cukup dengan senyuman, kata-kata yang baik, atau membantu meringankan beban orang lain,” ujarnya.
Ustadz Sapta lalu mengingatkan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal membahagiakan orang lain.
“Beliau selalu tersenyum, membantu siapa pun yang membutuhkan, dan tidak pernah menolak permintaan pertolongan selama mampu,” katanya.
Hal itu juga dijelaskan dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Thabrani.
“Manusia yang paling dicintai Allah SWT adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dalam hadis itu juga disebutkan bahwa amal yang paling dicintai Allah SWT adalah memberi makan orang lapar, membantu yang kesulitan, membayar hutang saudaranya, atau sekadar menghilangkan kesusahannya.
Ustad Sapta menjelaskan, Rasulullah SAW bahkan bersabda. “Sesungguhnya aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama satu bulan”.
Hadis ini kata Sapta, menunjukkan betapa besar keutamaan menolong sesama.
“Bayangkan, Nabi menyamakan membantu saudara yang membutuhkan dengan pahala lebih besar daripada i’tikaf sebulan di Masjid Nabawi. Itu menunjukkan betapa Islam mengajarkan kita untuk peduli,” ungkapnya.
Dalam penjelasannya, Ustad Sapta menyebut kebahagiaan yang lahir dari memberi manfaat kepada orang lain akan kembali kepada diri sendiri.
“Ketika kita membahagiakan orang lain, sesungguhnya kita sedang membahagiakan diri kita sendiri,” ujarnya.
Ia juga menekankan amal seperti itu tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga spiritual.
“Hati kita menjadi tenang karena merasa berguna bagi orang lain, dan Allah SWT mencintai hamba yang menjadi sumber manfaat bagi sesamanya,” katanya.
Ustad Sapta juga mengingatkan bahwa membahagiakan orang lain tidak selalu dengan uang.
Ada banyak cara sederhana, seperti menolong tetangga, mendengarkan curahan hati teman, atau sekadar mengucapkan doa untuk orang lain.
Menurutnya, dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering melupakan nilai-nilai empati dan kepedulian.
“Kita sibuk mengejar kebahagiaan pribadi, tapi lupa bahwa kebahagiaan sejati justru datang ketika kita membuat orang lain bahagia,” ujarnya.
Ia menambahkan, orang yang selalu berusaha membahagiakan orang lain tidak akan dibiarkan Allah dalam kesedihan.
“Allah Maha Adil. Siapa yang berbuat baik, maka kebaikan itu akan kembali kepadanya dalam bentuk kebahagiaan dan ketenangan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu Ustad Sapta juga mengingatkan agar umat Islam menjauhi sikap egois dan individualistis.
“Kebahagiaan bukan untuk dinikmati sendiri, tapi untuk dibagikan. Karena ketika kita berbagi, kebahagiaan itu justru bertambah,” ujarnya.
Ia kemudian juga menyinggung tentang pentingnya menjaga lisan. “Kalau tidak bisa membuat orang lain bahagia, setidaknya jangan menyakitinya. Lisan yang baik bisa menjadi sumber kebahagiaan, tapi lisan yang buruk bisa menghancurkan kedamaian,” ingatnya.
Menurut Ustad Sapta, Islam sangat menekankan keseimbangan antara ibadah ritual dan ibadah sosial. “Tidak cukup hanya rajin shalat dan puasa, tapi harus juga peduli kepada sesama. Itulah wujud iman yang sempurna,” ungkapnya.
Beranjak dari hal itu, maka ia mengajak semua umat untuk meneladani Rasulullah SAW dalam hal kelembutan dan kasih sayang. “Rasulullah tidak akan tidur dalam keadaan kenyang jika tetangganya lapar. Ini pelajaran besar bagi kita semua,” ucapnya.
Ustad Sapta juga menekankan pentingnya memperbaiki niat dalam beramal.
“Jangan membahagiakan orang lain karena ingin dipuji, tapi karena ingin mendapat ridha Allah SWT. Niat yang ikhlas itulah yang membuat amal kita diterima,” ingatnya lagi.
Ditegaskannya Prokopim kebahagiaan sejati tidak bisa dibeli, tetapi bisa diraih melalui keikhlasan, kesyukuran, dan kepedulian. “Ketika kita ikhlas membantu, hati kita lapang. Ketika kita bersyukur, hidup terasa cukup,” katanya.
Ustad Sapta juga mengajak semua untuk memperbanyak doa agar dijadikan Allah sebagai hamba yang membawa kebahagiaan bagi orang lain.
“Mintalah kepada Allah agar hati kita lembut, tangan kita ringan membantu, dan lisan kita menebar kebaikan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang bahagia karena mampu membahagiakan orang lain, dan semoga kebahagiaan kita berlanjut hingga akhirat,” harapnya.
Ia berharap semoga kajian ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam dimanapun berada agar tidak salah arah dalam mencari kebahagiaan.
Sebab kebahagiaan tidak ditemukan di luar diri, tetapi tumbuh dari hati yang dekat dengan Allah dan peduli terhadap sesama. (yoniks)






