Mimbar Jumat, Ustad Sapta Kardeni: Ketika Cinta kepada Rasul Diuji dengan Ketaatan

Penulis -

Jumat, 24 Oktober 2025 - 08:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Ustad Sapta Kardeni, Pimpinan Pondok Pesantren Khairatul Hasanah Muhammadiyah Lakitan. (Foto: Dok. Sapta)

Ustad Sapta Kardeni, Pimpinan Pondok Pesantren Khairatul Hasanah Muhammadiyah Lakitan. (Foto: Dok. Sapta)

Pessel, Javanusa—Cinta kepada Rasulullah bukanlah sekadar ucapan yang keluar dari lisan. Ia adalah manifestasi iman yang nyata, yang terwujud dalam ketaatan kepada ajaran beliau.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan kemajuan teknologi saat ini, umat Islam kembali diingatkan sejauh mana kecintaan nya kepada Rasulullah agar benar-benar berakar dalam hati dan berbuah dalam amal.

Barang siapa yang membenci sunnah ku maka bukan  termasuk golonganku. (HR Al-Bukhari dan Muslim) ini, menjadi cermin bagi setiap Muslim agar menilai diri apakah ia benar-benar mengikuti sunnah Nabi, atau justru berpaling dari jalan yang beliau tunjukkan

Hal itu disampaikan Ustad Sapta Kardeni, Pimpinan Pondok Pesantren Khairatul Hasanah Muhammadiyah Lakitan, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) Sumbar, Jumat (24/10/2025) kepada media ini.

Ukuran cinta kepada nabi bukan sekadar memperbanyak pujian, tetapi dengan meneladani sunnah beliau dalam seluruh aspek kehidupan.

Seseorang belum sempurna imannya, hingga Rasulullah lebih ia cintai dari pada orang tuanya, anaknya, bahkan dirinya sendiri.

Menurut Sapta, mengikuti sunnah bukan hanya tentang pakaian atau penampilan luar, tetapi tentang bagaimana hati dan perilaku seseorang menyesuaikan diri dengan ajaran Rasulullah. Sunnah adalah jalan hidup Nabi, yang mencakup akhlak, ibadah, muamalah, dan cara berpikir Islami yang lurus.

Ustad Sapta menjelaskan saat ini banyak orang mengaku mencintai Rasulullah, namun malas menjalankan shalat berjamaah, jarang membaca Al-Qur’an, dan abai terhadap akhlak yang beliau ajarkan.

“Apakah masih layak disebut pengikut Nabi jika sunnah beliau justru ditinggalkan,” ujarnya.

Dalam konteks modern, mengikuti sunnah berarti berpegang pada Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman yang benar, sebagaimana dipraktikkan oleh para sahabat Nabi. Bukan dengan menambah-nambahi ibadah yang tidak pernah diajarkan, atau mengurangi hal-hal yang sudah beliau tetapkan.

Baca Juga :  IMDI 2025 Naik, Pesisir Selatan Perkuat Literasi Digital hingga ke Nagari

“Menghidupkan sunnah bukan berarti menolak kemajuan,” jelas Ustad Sapta.

Tetapi menjadikan nilai-nilai Islam sebagai panduan dalam setiap langkah kehidupan, termasuk dalam bekerja, bermedia sosial, dan bersikap terhadap sesama.

“Dengan begitu, Islam tidak menjadi simbol masa lalu, tetapi panduan masa depan,” jelasnya.

Ia menambahkan, mencintai nabi juga berarti mendahulukan sabda dan ketetapan beliau di atas pendapat siapa pun, termasuk tokoh besar, guru, atau bahkan diri sendiri. Jika pendapat itu bertentangan dengan sunnah, maka seorang mukmin sejati akan tunduk pada apa yang diajarkan Rasulullah.

Cinta kepada Nabi harus dibuktikan dengan menuntut ilmu dan mengamalkannya. “Menuntut ilmu syar’i bukan sekadar hobi atau tren. Tetapi bentuk nyata kecintaan kepada Rasul yang telah menyampaikan risalah agar kita tidak tersesat,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menolong sunnah Nabi dengan harta dan tenaga, mendukung dakwah, menyebarkan ilmu, dan menjaga generasi muda dari pemikiran yang menyesatkan. Dalam dunia digital, ini bisa diwujudkan dengan berbagi konten positif dan menolak informasi yang menistakan agama.

Ustad Sapta, mengingatkan bahayanya mengubah atau menambah ajaran agama tanpa dasar yang sah. “Bid’ah dalam urusan ibadah bukanlah bentuk cinta, tapi justru tanda bahwa seseorang menganggap ajaran Rasulullah belum sempurna,” katanya.

Padahal Allah telah menegaskan, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, (QS Al-Ma’idah: 3). Selain itu, memperbanyak shalawat menjadi salah satu bukti cinta kepada nabi. Allah sendiri memerintahkan,

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat Nya bershalawat kepada Nabi, (QS Al-Ahzab: 56).

Shalawat bukan sekadar doa, tetapi bentuk penghormatan dan kasih yang menumbuhkan ketenangan hati. Ustad Sapta menjelaskan bahwa sunnah bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari agama Islam itu sendiri. “Sunnah adalah jalan Nabi, jalan menuju Allah yang bila ditinggalkan, maka kita akan tersesat di jalan lain,” ungkapnya.

Baca Juga :  Novermal Yuska Kawal Pembangunan Irigasi Lubuk Kubang, 2.400 Hektare Sawah akan Produktif di Nagari Lakitan Tengah  

Karenanya, setiap Muslim perlu memahami bahwa mengikuti sunnah berarti menjaga kemurnian Islam. Dalam kehidupan nyata, sunnah bisa dimulai dari hal-hal sederhana, senyum kepada sesama, berkata jujur, menepati janji, hingga menjaga kebersihan. Semua itu adalah ajaran Nabi yang bila diamalkan, akan membuat masyarakat lebih damai dan bermartabat.

Ustad Sapta juga menyinggung fenomena umat Islam yang terpecah hanya karena perbedaan furu’iyyah (cabang ibadah), padahal sunnah mengajarkan ukhuwah dan kasih sayang.

“Kita sering lupa bahwa musuh utama umat bukan sesama Muslim, tetapi kebodohan dan hawa nafsu yang menjauhkan dari tuntunan nabi,” ujarnya.

Mengutip firman Allah SWT dalam QS At-Taubah ayat 24, Sapta Kardeni, menegaskan bahwa cinta kepada keluarga, harta, dan dunia tidak boleh mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasul Nya. Jika itu terjadi, maka seseorang berada dalam ancaman azab.

“Cinta kepada nabi berarti siap berkorban demi menegakkan kebenaran,” ingatnya.

Ayat lain dalam QS Al-Hasyr ayat 7 memperkuat pesan bahwa apa yang Rasul perintahkan kepada kalian, terimalah, dan apa yang beliau larang, tinggalkanlah.

Dari itu Ustad Sapta, mengajak umat agar tidak selektif dalam menjalankan perintah Rasul, memilih yang mudah dan meninggalkan yang berat.

Meneladani Rasulullah juga berarti menjadikan beliau sebagai uswah hasanah, suri teladan terbaik. Dalam QS Al-Ahzab ayat 21 disebutkan, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir. Maka, siapa pun yang berharap keselamatan dunia akhirat wajib mencontoh beliau.

Dalam kehidupan bermasyarakat, teladan Nabi terlihat pada sikap rendah hati, adil, dan penyayang. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan dengan kebaikan.

“Inilah sunnah yang paling sulit, tapi paling tinggi nilainya di sisi Allah,” ujar Ustad Sapta.

Baca Juga :  Perkuat Generasi Qurani, Pemkab Pessel Apresiasi Wisuda Tahfiz Ponpes Hijrah Medinah Lengayang

Ia juga mengingatkan bahwa mengikuti sunnah bukan berarti kaku, tetapi bijak. Nabi mengajarkan keseimbangan antara ibadah, kerja, dan kasih sayang kepada keluarga. “Islam tidak menuntut kita menjadi malaikat, tapi manusia yang taat dan berakhlak,” katanya.

Ustad Sapta juga menekankan di era digital ini, cinta kepada Nabi harus tampak dalam perilaku bermedia tidak menyebar hoaks, tidak menghina sesama, dan menjaga adab komunikasi.

“Karena lidah dan jari kita akan dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya mengingatkan.

Cinta kepada Rasulullah juga mendatangkan banyak keutamaan, kesempurnaan iman, kecintaan Allah SWT, kebersamaan dengan nabi di akhirat, dan manisnya keimanan. “Barangsiapa mencintai Nabi dengan sepenuh hati, maka hidupnya akan dipenuhi ketenangan,” tuturnya.

Berdasarkan hal itu, maka Ustad Sapta Kardeni mengajak umat Islam agar terus menumbuhkan cinta kepada Rasulullah melalui amal nyata.

Cinta sejati bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan dengan mengikuti sunnah beliau dalam setiap tarikan napas kehidupan. “Semoga kita semua tergolong dalam umat yang benar-benar mencintai Nabi dan mendapat syafaat beliau di hari akhir nanti,” tutupnya. (niks)

Berita Terkait

Perkuat Ketahanan Pangan, Pemko Padang Dorong Budidaya Ikan RAS dan Mina Padi
Pemko Padang Perkuat Smart Surau, 400 Guru TQA/MDTW Ikuti Pembekalan
Padang Mulai Uji Teknologi AI untuk Petakan Kerusakan Infrastruktur Pascabencana
Kabut Asap Selimuti Padang, BPBD Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Penumpang KA Lembah Anai Terlibat Perselisihan, KAI Ingatkan Etika di Kereta
Kafilah Bungus Teluk Kabung Siap Hadapi MTQN ke-42 Kota Padang, Persiapan Capai 85 Persen
Padang Utara Siapkan 72 Kafilah, Targetkan Juara Umum MTQN ke-42 Kota Padang
KAI Divre II Sumbar Tutup 30 Perlintasan Liar, Keselamatan di Jalur Kereta Diperketat

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:59 WIB

Gulat Kota Padang Juara Umum Porprov XVI Sumbar, Raih 16 Medali Emas

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Usai Bertugas di FIFA ASEAN Cup 2026, Pedro Rodriguez Umumkan Pensiun

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Stefano Cugurra Resmi Tangani Semen Padang FC, Targetkan Promosi ke Super League

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:04 WIB

Gateball Kota Padang Raih Emas Perdana Porprov Sumbar 2026 lewat Double Putra

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:54 WIB

Edo Vernando Sumbang Emas Pertama Biliar Kota Padang di Porprov Sumbar 2026

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Jadwal Lengkap Pertamina Grand Prix Indonesia: MotoGP, Sprint, hingga Balapan Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

MotoGP Mandalika 2026: Perebutan Gelar Memanas, Martin dan Marquez Cuma Terpaut 2 Poin

Berita Terbaru

Mikel Arteta sepakat memperpanjang kontrak di Arsenal. (Foto: IG @mikelarteta)

Olahraga

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Okt 2026 - 08:06 WIB