Nasionalisme dan Kebangsaan, Refleksi Kemerdekaan RI ke-80

Penulis -

Minggu, 17 Agustus 2025 - 14:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Agusmardi

Javanusa.com—Delapan puluh tahun sudah Republik Indonesia berdiri di atas darah, keringat, dan air mata para pejuang kemerdekaan. Namun, semangat nasionalisme yang dulu menyatukan, kini mulai tergerus oleh kepentingan pragmatis dan ambisi pribadi segelintir elite negeri.

Demokrasi yang diharapkan menjadi alat rakyat untuk berdaulat, perlahan berubah menjadi panggung sandiwara. Sistem kepartaian, yang semestinya mencerminkan aspirasi masyarakat, malah menjelma menjadi alat transaksi kekuasaan.

Kita menyaksikan dengan getir bagaimana perilaku sebagian pejabat negara telah menyimpang jauh dari nilai-nilai kejujuran dan pengabdian. Mereka hadir bukan sebagai pelayan rakyat, tapi sebagai pewaris tahta yang sibuk memperkaya diri dan kelompoknya.

Padahal, para pendiri bangsa merancang republik ini bukan sekadar untuk mengganti penjajahan asing dengan penjajahan dari anak bangsa sendiri. Mereka bermimpi tentang Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat, bukan negeri yang dikendalikan oleh segelintir oligarki.

Ketika demokrasi dibajak oleh kapitalisme, maka suara rakyat pun tenggelam dalam gelombang kekuasaan yang digerakkan oleh uang. Pemilu menjadi ritual formal, bukan proses substantif untuk menghadirkan pemimpin yang berintegritas.

Kita merindukan sosok negarawan bukan sekadar politisi. Mereka yang berbicara atas nama nurani, bukan partai; yang bekerja demi masa depan rakyat, bukan demi kursi atau jabatan. Namun kini, sosok seperti itu semakin langka, menjadi suara di tengah riuhnya kepalsuan.

Negeri ini tengah berada di simpang jalan. Simbiosis antara kekuasaan dan uang membuat penyakit korupsi bukan lagi sekadar tindakan, tapi sudah menjadi budaya yang diwariskan dari satu rezim ke rezim berikutnya.

Apakah kita hanya akan diam? Tidak! Nasionalisme sejati menuntut kita untuk bersikap, bukan sekadar berteriak di hari kemerdekaan. Kita tidak boleh lelah mencintai negeri ini, meski seringkali dikhianati oleh mereka yang seharusnya menjaganya.

Baca Juga :  Radical Break !

Nasionalisme bukan jargon yang dijual saat kampanye, bukan pula atribut yang dikenakan saat upacara. Ia adalah sikap hidup—ketika seseorang memilih jujur di tengah kebohongan, memilih melayani di tengah kerakusan, dan memilih berkorban di tengah budaya menghisap.

Masih ada harapan. Masih ada anak bangsa yang menjunjung tinggi integritas dan cita-cita kemerdekaan. Mereka bekerja dalam diam, membangun dari bawah, dan menolak tunduk pada sistem yang korup.

Mari kita beri ruang bagi mereka yang masih punya nurani. Republikan sejati adalah mereka yang menjadikan rakyat sebagai pusat dari setiap keputusan. Yang sadar bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hadiah.

Kemerdekaan tidak akan berarti jika rakyat tetap terjajah oleh kemiskinan, ketidakadilan, dan kebohongan. Maka tugas kita hari ini adalah menjaga agar api perjuangan itu tidak padam—bahkan harus menyala lebih terang di tengah kegelapan zaman.

Mengkritik bukan berarti membenci negeri ini. Justru karena kita mencintainya, kita tak ingin melihatnya runtuh dalam kebusukan yang dibuat oleh tangan-tangan pengkhianat bangsa.

Mari jadikan HUT RI ke-80 ini sebagai momen refleksi. Bukan sekadar pesta seremonial, tetapi waktu untuk bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita layak menyandang gelar sebagai anak bangsa yang merdeka?

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Semoga negeri ini kembali menemukan jalan lurusnya. Mari jaga Indonesia, dengan hati yang jernih, nurani yang hidup, dan semangat kebangsaan yang tak pernah padam. Merdeka!

Padang, 17 Agustus 2025

Berita Terkait

Fauzi Bahar, Sang “Pamberang” yang Tampil sebagai Panglima di Tengah Gempa
Menanti Remaja Masjid Reborn
Menyiapkan Istithaah Manasik Haji Mandiri
Jaga Pesisir Selatan dari Rantau: Menguatkan Generasi Melalui Badan Diklat DPP PKPS
Tri Sukses Haji dan Ikhtiar yang Tidak Pernah Selesai
Kesuksesan Debut Kemenhaj 2026 dan Visi Baru Ekosistem Haji Indonesia
Foto AI dalam Jurnalistik: Pendukung Berita atau Ancaman Kebenaran?
Penerbangan Internasional Belitung Kembali Dibuka: Konektifitas Jadi Kunci Emas Pariwisata Indonesia

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:26 WIB

Tanpa Tegar, Sumsel United Siap Tempur Lawan Semen Padang

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:24 WIB

Stadion Haji Agus Salim Padang Punya Kapasitas 12.067 Penonton, Ini Fasilitasnya

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:42 WIB

Genoa Bungkam Juventus 2-0, Bianconeri Tertahan di Peringkat 8

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Hasil Carabao Cup: Manchester City Singkirkan Brighton Lewat Adu Penalti 4-3

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Tanpa Harry Kane, Bayern Munich Bantai Magdeburg 6-1 di DFB Pokal

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:10 WIB

Liverpool Singkirkan Chelsea Lewat Adu Penalti, Lolos ke Perempat Final Carabao Cup

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:04 WIB

Fortuna Sittard Singkirkan Sparta Rotterdam, Justin Hubner Cs Lolos ke Babak Kedua Piala KNVB

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:55 WIB

AC Milan Dibantai Bologna 2-4 di San Siro, Samuel Mbangula Cetak Hattrick

Berita Terbaru

Sumsel United siap menghadapi Semen Padang di Pegadaian Championship 2026/2027. (Foto: ileague.id)

Liga 2

Tanpa Tegar, Sumsel United Siap Tempur Lawan Semen Padang

Kamis, 29 Okt 2026 - 18:26 WIB