Makkah, Javanusa—Deg-degan itu datang tiba-tiba. Di kamar sederhana bernomor 471 di kawasan Jarwal, Makkah, Nenek Epa (82) sempat mengira kedatangan petugas kesehatan dan pembimbing ibadah membawa kabar bahagia.
“Deg-degan seperti mau dapat hadiah,” katanya sambil tertawa dan memperlihatkan satu gigi yang tersisa.
Tekanan darahnya memang naik pagi itu. Namun, kondisi itu bukan karena sakit. Haru yang bercampur bahagia membuat perasaannya sulit dibendung setelah menunggu panggilan haji selama 13 tahun.
Kini, di usia senja, Epa tidak hanya berhasil menuntaskan umrah wajib tanpa kursi roda. Ia juga merasakan pengalaman yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya, yakni berhaji dengan tenang dan mendapat pelayanan penuh perhatian selama berada di Tanah Suci.
“Enak… seperti raja. Raja 40 hari,” ujarnya sambil tersenyum.
Suasana Hangat di Kamar Jemaah
Suasana kamar nomor 471 di Hotel Abraj Almisk, kawasan Jarwal Sektor 6, tampak hangat pada pagi itu. Tawa beberapa jemaah perempuan terdengar berkali-kali dari dalam kamar yang berisi lima ranjang tersebut.
Di tengah suasana itu, Epa duduk mengenakan mukena putih. Wajahnya terlihat cerah dengan senyum lebar yang khas. Perempuan asal Embarkasi Palembang Kelompok Terbang (Kloter) 3 atau PLM-03 itu tampak menikmati setiap momen selama menjalani ibadah haji.
Kedatangan tim kesehatan, pembimbing ibadah, tim Media Center Haji, serta petugas lainnya sempat membuatnya salah tingkah. Ia mengaku jantungnya berdebar cukup kencang.
“Nenek ada darah tinggi?” tanya petugas kesehatan.
“Tidak… tapi kenapa naik?” jawabnya polos sambil tersenyum.
Petugas kesehatan kemudian meminta Epa beristirahat dan tidak beraktivitas berat terlebih dahulu.
“Jangan dulu ya, istirahat dulu. Belum boleh keluar,” ujar petugas dengan lembut.
Pembimbing ibadah juga memberikan penjelasan yang menenangkan. Mereka meminta Epa tetap beribadah di musala hotel karena pahala salat tetap besar selama masih berada di wilayah Kota Suci Makkah.
Umrah Tanpa Kursi Roda
Meski usianya sudah 82 tahun, Epa membuktikan kondisi fisik bukan penghalang untuk beribadah. Ia mampu menyelesaikan seluruh rangkaian umrah wajib tanpa bantuan kursi roda.
“Semua jalan kaki… alhamdulillah sampai tahalul selesai,” katanya mantap.
Epa mengaku tidak memiliki keluhan kesehatan berarti. Pendengarannya masih baik, penglihatannya jelas, dan lututnya tetap kuat untuk berjalan jauh.
“Lutut saya tidak sakit. Di rumah saya tinggal di rumah kayu. Naik turun tangga bisa sampai 40 kali sehari,” tuturnya.
Kebiasaan itu membuat tubuhnya tetap bugar hingga sekarang. Selain aktif bergerak, Epa juga rutin menjalankan salat tahajud setiap malam.
“Setiap jam dua saya tahajud, setiap hari,” ujarnya.
Di rumah, aktivitasnya lebih banyak diisi dengan ibadah. Ia tinggal bersama anak-anaknya yang juga membiayai perjalanan hajinya ke Tanah Suci.
Menunggu Panggilan Haji Selama 13 Tahun
Perjalanan Epa menuju Tanah Suci menyimpan cerita panjang. Ia harus menunggu selama 13 tahun sejak pertama kali mendaftar haji.
“Tapi waktu daftar masih muda,” katanya sambil terkekeh.
Tahun lalu, sebenarnya ia sudah mendapat jadwal keberangkatan. Namun, rasa takut membuatnya memilih menunda keberangkatan karena belum memiliki pendamping.
“Saya takut… tidak ada yang mendampingi,” ujarnya.
Keputusan itu berubah pada 2026. Epa akhirnya mantap berangkat setelah ditemani sahabat dekatnya, Herawati, yang juga masih memiliki hubungan keluarga dan tinggal berdekatan dengannya.
“Karena ada kawan setia… jadi saya berani,” katanya lirih.
Ia percaya keberangkatannya tahun ini merupakan ketentuan terbaik dari Allah SWT.
“Sudah diatur… berangkatnya tahun ini,” tuturnya.
Tangis Haru Saat Melihat Ka’bah
Momen paling membekas bagi Epa terjadi saat pertama kali melihat Ka’bah di Masjidil Haram. Rasa haru langsung memenuhi hatinya ketika berada di depan bangunan suci tersebut.
“Ya Allah… terima kasih aku dipanggil datang ke sini…,” ucapnya mengenang momen tersebut.
Kalimat itu terus diulangnya karena rasa syukur yang begitu besar. Air mata pun jatuh tanpa bisa ditahan.
“Semua rasa ada… senang, haru… nangis sendiri,” kenangnya.
Dalam doanya, Epa tidak meminta hal muluk-muluk. Ia hanya mendoakan anak-anak, suami, keluarga, dan orang-orang terdekatnya.
“Untuk anak-anak… suami… semua keluarga… ibu…,” katanya pelan.
Merasa Dilayani Seperti Raja
Hari-hari Epa di Tanah Suci berjalan sederhana bersama teman-temannya, termasuk Rohima (70), seorang pensiunan guru yang juga sedang menunaikan ibadah haji.
“Makan, tidur, ibadah,” kata Epa singkat.
Meski sederhana, suasana itu justru membuatnya merasa sangat nyaman. Pelayanan yang ramah serta kebutuhan yang tersedia membuatnya merasa istimewa selama menjalankan ibadah haji.
“Biasanya raja sehari… ini 40 hari dilayani,” katanya sambil tertawa.
Epa juga bercerita tentang masa kecilnya yang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi.
“Saya dulu tidak tamat sekolah,” akunya.
Namun, ia tetap dekat dengan Al-Qur’an dan ibadah. Menurutnya, banyak teman seusianya yang tidak bisa membaca huruf latin, tetapi mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar.
“Sekali duduk bisa satu juz,” katanya bangga.
Selama berada di Madinah, Epa sudah menyelesaikan empat juz bacaan Al-Qur’an. Kini, di Makkah, ia kembali melanjutkan kebiasaan tersebut sambil membaca Surah Yasin dan Al-Waqiah.
Harapan Kembali ke Tanah Suci
Kunjungan Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daerah Kerja Mekah, Erti Herlina, semakin menghidupkan suasana kamar jemaah. Dalam kesempatan itu, Erti mengingatkan jemaah agar tidak ragu bertanya kepada petugas haji berseragam cokelat muda.
“Semua sip!” kata Epa saat ditanya soal pelayanan haji.
Suasana semakin cair ketika Epa memperkenalkan dirinya dengan candaan sederhana.
“Nama saya Epa… nama internasional,” katanya polos.
Ucapan itu langsung membuat seisi kamar tertawa. Epa pun tampak malu dan menyandarkan tubuhnya ke samping ranjang sambil bersembunyi di balik punggung Rohima.
Di akhir perbincangan, Epa mengungkapkan harapan yang masih tersimpan dalam hatinya. Ia ingin kembali lagi ke Tanah Suci bersama anak-anak dan cucunya.
“Ya Allah… semoga anak, cucu, dan keturunanku bisa datang juga ke sini…,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Di usia senja, Nenek Epa menunjukkan panggilan Allah selalu datang pada waktu terbaik. Dengan hati penuh keyakinan, ia akhirnya menuntaskan perjalanan spiritual yang telah lama dinantikannya. (*/red)






