Javanusa.com—Aktivitas pariwisata di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo mulai kembali normal setelah gempa bumi M7,7 mengguncang wilayah Mbay–Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026.
Kementerian Pariwisata terus memantau kondisi destinasi wisata dan fasilitas pendukung di wilayah terdampak. Pemantauan tersebut dilakukan melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF).
BPOLBF merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Pariwisata yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan kawasan otorita pariwisata Labuan Bajo–Flores.
Kondisi Pariwisata Labuan Bajo Mulai Pulih
Sejak gempa terjadi, BPOLBF melakukan pengecekan berkala terhadap akomodasi, destinasi wisata, fasilitas pariwisata, hingga akses menuju kawasan wisata.
Tim juga mendatangi sejumlah hotel, restoran, dan destinasi untuk memastikan kondisi di lapangan. Selain itu, BPOLBF membuka hotline informasi agar wisatawan dan pelaku usaha memperoleh informasi yang akurat.
Hasil pemantauan menunjukkan aktivitas wisata di Labuan Bajo mulai berjalan seperti biasa. Pelabuhan Marina Labuan Bajo juga telah beroperasi normal.
Akses pelayaran menuju Taman Nasional Komodo kembali terbuka. Sejumlah destinasi utama, seperti Pulau Padar, Loh Liang di Pulau Komodo, Loh Buaya di Pulau Rinca, dan Gili Lawa, juga kembali menerima wisatawan.
Pada 17 Agustus 2026, jumlah kunjungan ke kawasan tersebut mencapai lebih dari 2.000 wisatawan dalam sehari.
Destinasi lain turut menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Pulau Kelor dan Kampung Adat Todo di Manggarai tetap beroperasi dan ramai dikunjungi.
Sementara itu, Batu Cermin kembali menerima pengunjung sejak 16 Agustus 2026.
Kondisi Hotel di Manggarai Barat
Pemantauan BPOLBF juga mencakup kondisi akomodasi di Manggarai Barat. Mayoritas hotel besar berada dalam kondisi aman dengan kerusakan ringan. Hotel tersebut antara lain Ayana, Crowne Plaza, Sudamala, Ta’aktana Marriott, dan Meruorah.
Pasokan listrik serta jaringan internet di kawasan tersebut juga kembali normal. Tidak ada laporan tamu yang memilih mempercepat kepulangan akibat kondisi pascagempa.
Namun, kondisi berbeda terjadi di Hotel Jayakarta. Hotel tersebut mengalami kerusakan struktural berat sehingga pengelola menutupnya sementara.
Seluruh tamu Hotel Jayakarta telah dievakuasi. Pihak hotel juga memberikan penanganan kepada para tamu setelah proses evakuasi.
Sejumlah Destinasi Masih Ditutup
Meski Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo mulai pulih, beberapa destinasi di Flores masih tutup sementara.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian untuk menjaga keselamatan wisatawan. Destinasi yang masih memerlukan perhatian antara lain Wae Rebo dan Ruteng Pu’u di Manggarai.
Taman Nasional Kelimutu di Ende juga masih tutup karena terdapat longsoran pada dinding kawah. Selain itu, Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Gugus Pulau Teluk Maumere di Sikka belum kembali beroperasi.
Sejumlah kawasan wisata di Ngada dan Nagekeo juga menghadapi kendala komunikasi serta pasokan listrik.
Kondisi penerbangan di beberapa wilayah Flores turut mengalami penyesuaian. Bandara Ende membatalkan seluruh penerbangan hingga 20 Agustus 2026.
Bandara Frans Sales Lega Ruteng juga membatalkan penerbangan Wings Air hingga 22 Agustus 2026.
Sementara itu, Bandara Komodo Labuan Bajo, Bandara Frans Seda Maumere, dan Bandara Gewayantana Larantuka tetap beroperasi dengan penyesuaian jadwal penerbangan.
Data Korban dan Dampak Gempa
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (BPBD NTT) per 18 Agustus 2026 pukul 09.00 WITA, gempa tercatat menewaskan 69 orang.
Selain itu, sebanyak 331 orang mengalami luka-luka. Jumlah warga yang mengungsi mencapai 34.689 orang.
Gempa juga menyebabkan kerusakan pada 19.297 rumah. Rinciannya terdiri atas 6.463 rumah rusak berat, 2.481 rumah rusak sedang, dan 12.006 rumah rusak ringan.
Aktivitas gempa susulan masih berlangsung. BMKG mencatat 2.403 gempa susulan hingga 18 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB.
Dari jumlah tersebut, 24 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5.
Kabupaten Manggarai mencatat 26 korban meninggal dunia. Sementara itu, Manggarai Timur mencatat 25 korban meninggal dunia.
Nagekeo menjadi wilayah pusat gempa. Sejumlah daerah juga menetapkan status siaga bencana, termasuk Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, dan Flores Timur.
BPOLBF Buka Hotline Informasi Wisata
Untuk membantu wisatawan memperoleh informasi terbaru, BPOLBF menyediakan hotline pariwisata di nomor 0811-3879-4555.
Layanan tersebut memberikan informasi mengenai kondisi destinasi, aksesibilitas, dan akomodasi setelah gempa.
Sejumlah wisatawan mancanegara dari Italia, Jerman, dan Prancis telah menggunakan layanan tersebut. Mereka memperoleh informasi mengenai kondisi destinasi sekaligus konfirmasi bahwa aktivitas wisata di Labuan Bajo tetap berlangsung.
Kementerian Pariwisata bersama BPOLBF, pemerintah daerah, dan instansi terkait juga terus melakukan pendataan. Verifikasi mencakup kerusakan akomodasi, daya tarik wisata, serta fasilitas pendukung di seluruh kabupaten terdampak.
Koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan AirNav juga terus berlangsung. Pemerintah mengupayakan pemulihan operasional bandara melalui skema Get Airport Ready for Disaster (GARD).
Wisatawan Diminta Utamakan Keselamatan
Kementerian Pariwisata mengingatkan wisatawan yang hendak berkunjung ke Flores agar mengutamakan keselamatan.
Wisatawan juga perlu memantau informasi melalui sumber resmi sebelum berangkat. Menghubungi hotline BPOLBF dapat menjadi langkah tambahan untuk memastikan kondisi destinasi dan akses perjalanan.
Imbauan tersebut penting karena gempa susulan masih terjadi di sejumlah wilayah Flores.
Kementerian Pariwisata bersama seluruh pemangku kepentingan akan melanjutkan proses pemulihan sektor pariwisata. Pemerintah menempatkan keselamatan wisatawan dan masyarakat sebagai prioritas.
Pada saat yang sama, pemulihan tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan aktivitas pariwisata dan perekonomian masyarakat Nusa Tenggara Timur. (*)






