Penerbangan Internasional Belitung Kembali Dibuka: Konektifitas Jadi Kunci Emas Pariwisata Indonesia

Penulis -

Sabtu, 9 Mei 2026 - 15:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Belitung. (Foto: Kemenpar)

Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Belitung. (Foto: Kemenpar)

​Oleh: Daniel Alexander Napitupulu, ST, MBA.

Belitung, Javanusa—Perjuangan panjang selama lima tahun akhirnya membuahkan hasil manis bagi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang.

Tepat pada Minggu (3/5/2026), penerbangan reguler internasional kembali mendarat di Pulau Belitung, menandai momentum kebangkitan sektor pariwisata sekaligus membuka keran devisa baru bagi perekonomian daerah dan nasional.

​Maskapai berbiaya rendah (LCC) dari grup Singapore Airlines, Scoot, kini resmi melayani rute penerbangan langsung dari Bandara Changi, salah satu hub penerbangan tersibuk di Asia Tenggara, menuju Belitung sebanyak dua kali seminggu.

Penerbangan perdana ini mencatatkan kesuksesan besar dengan tingkat keterisian kabin yang didominasi oleh wisatawan mancanegara asal Singapura.

​Sebelumnya, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah melakukan berbagai kajian mendalam terkait dampak ekonomi dan efek berganda (multiplier effect) dari pembukaan gerbang internasional ini. Proyeksinya sangat optimis, pertumbuhan perekonomian di Pulau Belitung berpotensi melonjak hingga 8 persen, didorong kuat oleh devisa yang dibawa oleh para wisatawan internasional.

​Konektivitas adalah Kunci

​Konektivitas internasional merupakan kunci emas investasi yang paling krusial untuk mengembangkan ekosistem destinasi pariwisata.

Jika kita melirik Bali, Langkawi (Malaysia), atau Koh Samui (Thailand), wilayah-wilayah tersebut mampu bertransformasi menjadi destinasi kelas dunia utamanya karena aksesibilitas dan konektivitas udara yang mumpuni.

​Nilai jual produk pariwisata di sebuah kawasan akan berbanding lurus dengan daya beli dan distribusi mata uang asing yang beredar di sana. Mekanismenya nyaris serupa dengan kegiatan ekspor produk fisik. Bedanya, pada sektor pariwisata, “ekspor” tersebut dinikmati langsung di tempat.

Transaksi mata uang asing terjadi lebih seketika, dan dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat akar rumput, bahkan hingga memengaruhi pendapatan harian seorang pengemudi taksi di pintu kedatangan bandara.

Baca Juga :  47 Hotel dan Resor Indonesia Masuk Michelin Keys 2026, Kemenpar Sebut Rekor Baru

​Potensi ekonomi dari ekosistem pariwisata semacam ini bahkan sudah dilirik dan dikembangkan secara masif oleh negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

​KEK Tanjung Kelayang yang berlokasi di Pulau Belitung, sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Prioritas, telah mengambil langkah signifikan.

Kawasan ini memposisikan dirinya sebagai lokomotif utama untuk meretas konektivitas internasional sebagai pintu masuk (entry point) devisa pariwisata bagi Indonesia.

​Memanfaatkan momentum strategis di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, KEK Tanjung Kelayang terus bersinergi dengan Kemenko Perekonomian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata, serta jajaran pemerintah daerah untuk mewujudkan penerbangan regional internasional bersama Scoot.

​“Hari ini, satu per satu masa depan pariwisata yang menjadi daya dorong pertumbuhan ekonomi dan penyedia lapangan kerja sudah terwujud,” tegas Direktur Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK Tanjung Kelayang, Daniel Alexander Napitupulu.

​Kembalinya penerbangan internasional ini bukan sekadar pendaratan sebuah pesawat, melainkan lepas landasnya perekonomian Belitung menuju kancah global. (*)

Berita Terkait

Fauzi Bahar, Sang “Pamberang” yang Tampil sebagai Panglima di Tengah Gempa
Menanti Remaja Masjid Reborn
Menyiapkan Istithaah Manasik Haji Mandiri
Jaga Pesisir Selatan dari Rantau: Menguatkan Generasi Melalui Badan Diklat DPP PKPS
Tri Sukses Haji dan Ikhtiar yang Tidak Pernah Selesai
Kesuksesan Debut Kemenhaj 2026 dan Visi Baru Ekosistem Haji Indonesia
Foto AI dalam Jurnalistik: Pendukung Berita atau Ancaman Kebenaran?
Kemandirian adalah DNA Pesantren

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:20 WIB

MUI Sesalkan Konser Andrea Bocelli Tetap Digelar, Minta Pemerintah Tinjau Ulang Izin

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:31 WIB

Erick Yusuf: Film Buya Hamka Jadi Tuntunan di Tengah Krisis Keteladanan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:44 WIB

Sinopsis Film Laut Bercerita dan The Doll Ghawiah, Dua Film Lokal Terbaru Tayang Hari Ini!

Rabu, 28 Oktober 2026 - 22:12 WIB

Bunga Nafisa dan Deandra Nadira Rilis Single Dar Der Dor Ser, Usung Musik Endikup

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Lewat Merayu Waktu, Eltasya Angkat Kisah Sulit Melepaskan Masa Lalu

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Gandeng LDR Team, Lindee Cremona Rilis Single Dewasaku Membanggakanmu

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:11 WIB

Ruth Garcia Rilis Lagu Salahkah, Ungkap Pergulatan Batin Usai Dikhianati

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:05 WIB

AI Mampu Bikin Film, Nezar Patria Soroti Tantangan Baru Sensor Film

Berita Terbaru