Bandar Lampung, Javanusa—Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong hilirisasi komoditas agro, khususnya singkong, untuk memperkuat industri pangan berbasis sumber daya lokal.
Komoditas ini dinilai memiliki peluang besar karena dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Seperti tepung tapioka, Modified Cassava Flour (MOCAF), pati termodifikasi, glukosa, sorbitol, hingga beragam produk turunan lain yang dibutuhkan industri.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) menggelar kegiatan Penguatan Hilirisasi Berbasis Agro dan Peningkatan Daya Saing IKM Pangan Provinsi Lampung di Bandar Lampung, Kamis (16/7). Program ini bertujuan membangun ekosistem hilirisasi yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Hilirisasi Dukung Diversifikasi Pangan Nasional
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menegaskan hilirisasi singkong menjadi bagian penting dalam mendukung percepatan penganekaragaman pangan nasional sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024.
“Hilirisasi dan penganekaragaman pangan bukanlah dua agenda yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dalam mewujudkan industri pangan nasional yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Faisol dalam keterangannya, Jumat (17/7).
Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai instrumen kebijakan untuk memastikan pengembangan industri singkong berjalan secara optimal. Kebijakan tersebut sekaligus melindungi industri pengolahan dalam negeri dan menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku.
Selain itu, pemerintah memperkuat industri singkong melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) serta mekanisme persetujuan impor yang berbasis pertimbangan teknis.
Pendekatan tersebut dirancang agar mampu memperkuat keterkaitan sektor hulu dan hilir sekaligus meningkatkan nilai tambah di kawasan sentra produksi.
“Regulasi yang baik harus diikuti dengan peningkatan kapasitas industri. Oleh karena itu, kemampuan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi produksi modern menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri pangan nasional,” tegas Faisol.
Lampung Jadi Sentra Strategis Industri Singkong
Faisol juga mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Lampung yang telah menerbitkan regulasi mengenai tata kelola dan hilirisasi ubi kayu. Aturan tersebut diharapkan mampu memperkuat kemitraan antara petani dengan pelaku industri.
Ia menilai implementasi regulasi perlu diperluas hingga tingkat kabupaten dan kota agar manfaatnya dirasakan lebih luas. Langkah itu dinilai penting karena Lampung merupakan produsen singkong terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 51 persen terhadap produksi nasional.
“Saya mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam memperkuat daya saing industri singkong daerah. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi modal penting agar program hilirisasi ini mampu memberikan manfaat nyata bagi petani maupun industri,” katanya.
Perkuat Kemitraan IKM dan Industri Besar
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan mengenai pentingnya pengembangan industri olahan singkong untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
“Kami juga memanfaatkan momentum ini untuk menyosialisasikan Program Dana Alokasi Khusus (DAK), sekaligus membuka peluang kemitraan antara IKM dengan industri lanjutan agar tercipta rantai pasok yang semakin kuat,” ujar Reni.
Menurutnya, keberhasilan hilirisasi membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Karena itu, Kemenperin menggandeng Kementerian PPN/Bappenas, Asosiasi Industri Roti, Biskuit dan Mi Instan (AROBIM), serta PT Thai Wah Indonesia sebagai mitra strategis.
“Kehadiran industri besar sangat penting karena dapat memberikan gambaran langsung mengenai kebutuhan pasar, standar mutu, teknologi pengolahan, hingga tata kelola rantai pasok yang telah diterapkan di industri. Dengan demikian, IKM dapat meningkatkan kualitas produknya agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional,” tutur Reni.
Pelatihan dan Restrukturisasi Mesin untuk IKM
Program penguatan hilirisasi di Lampung diikuti sekitar 80 peserta yang berasal dari pemerintah daerah serta pelaku IKM MOCAF dan tapioka dari berbagai kabupaten dan kota.
Rangkaian kegiatan akan berlanjut melalui Workshop Sistem Keamanan Pangan dan Diversifikasi Produk Olahan Singkong bagi IKM, serta diseminasi Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan untuk pelaku industri pangan.
Direktur IKM Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan Afrizal Haris menjelaskan workshop keamanan pangan berlangsung selama dua hari dengan melibatkan 30 pelaku IKM MOCAF dan tapioka.
Sementara itu, program restrukturisasi mesin akan diikuti sekitar 120 pelaku IKM pangan sebagai upaya meningkatkan efisiensi produksi sekaligus kualitas produk. (*)






