Javanusa.com—Masturbasi memicu sejumlah perubahan fisiologis pada tubuh, mulai dari meningkatnya aliran darah hingga perubahan hormon setelah orgasme.
Respons tersebut melibatkan kerja otak, sistem saraf, pembuluh darah, dan organ reproduksi.
Aktivitas seksual secara mandiri ini umum dilakukan pria maupun wanita. Tubuh akan memberikan respons otomatis ketika seseorang menerima rangsangan seksual.
Memahami respons tersebut dapat membantu seseorang mengenali proses normal yang terjadi selama aktivitas seksual. Melansir Halodoc, berikut tujuh perubahan utama yang dapat muncul saat masturbasi.
1. Aliran Darah ke Area Genital Meningkat
Rangsangan seksual membuat sistem saraf otonom meningkatkan aliran darah menuju area genital. Kondisi ini dapat menyebabkan ereksi pada pria.
Pada wanita, peningkatan aliran darah dapat memicu pembengkakan klitoris serta meningkatkan pelumasan vagina.
2. Otak Melepaskan Dopamin
Rangsangan seksual juga mengaktifkan sistem penghargaan atau reward system di otak. Salah satu zat kimia saraf yang berperan dalam proses tersebut ialah dopamin.
Pelepasan dopamin berkaitan dengan munculnya rasa senang, puas, dan penghargaan setelah mendapatkan stimulasi seksual.
3. Oksitosin dan Endorfin Meningkat
Ketika orgasme terjadi, tubuh melepaskan sejumlah hormon dan zat kimia saraf, termasuk oksitosin dan endorfin.
Keduanya berkaitan dengan rasa rileks dan membantu tubuh meredakan sensasi nyeri secara alami. Respons ini turut membuat tubuh terasa lebih tenang setelah orgasme.
4. Detak Jantung dan Tekanan Darah Naik Sementara
Aktivitas seksual meningkatkan kerja sistem saraf simpatik. Akibatnya, detak jantung, laju pernapasan, dan tekanan darah dapat meningkat untuk sementara.
Respons tersebut biasanya berlangsung selama fase rangsangan seksual dan mencapai puncaknya menjelang atau saat orgasme.
5. Otot Mengalami Ketegangan
Tubuh juga mengalami myotonia atau peningkatan ketegangan otot selama rangsangan seksual. Kondisi ini terutama terlihat pada otot di sekitar panggul, paha, dan perut.
Menjelang orgasme, beberapa kelompok otot dapat mengalami kontraksi secara involunter. Setelah orgasme, ketegangan tersebut kemudian berangsur mereda.
6. Respons Stres Tubuh Berubah
Aktivitas seksual dapat memengaruhi respons biologis yang berkaitan dengan stres. Salah satu perubahan yang dikaitkan dengan proses tersebut ialah penurunan kadar kortisol.
Kortisol dikenal sebagai hormon yang berperan dalam respons tubuh terhadap stres. Perubahan kadar hormon ini turut mendukung munculnya perasaan lebih rileks.
7. Prolaktin Dapat Memicu Rasa Kantuk
Setelah orgasme, tubuh mengalami perubahan hormonal, termasuk pelepasan prolaktin. Kondisi tersebut berkaitan dengan munculnya rasa tenang dan kantuk.
Karena itu, sebagian orang merasa lebih mudah mengantuk setelah mengalami orgasme. Respons ini merupakan bagian dari perubahan fisiologis setelah aktivitas seksual.
Tetap Perhatikan Kebersihan dan Kenyamanan
Masturbasi merupakan aktivitas seksual yang umum dan secara fisiologis tidak selalu menimbulkan masalah. Namun, kebersihan serta cara melakukannya tetap perlu diperhatikan.
Cuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas seksual. Langkah sederhana ini membantu mengurangi risiko iritasi atau masuknya bakteri ke area genital.
Jika membutuhkan pelumas, pilih produk berbahan dasar air. Pelumas dapat mengurangi gesekan berlebihan yang berpotensi menyebabkan lecet atau luka kecil pada kulit genital.
Frekuensi juga perlu diperhatikan. Aktivitas seksual sebaiknya tidak sampai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, aktivitas sehari-hari, atau menimbulkan masalah pada sensitivitas area genital.
Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Dokter?
Keluhan tertentu setelah masturbasi membutuhkan perhatian medis. Nyeri hebat pada organ intim, iritasi yang tidak kunjung membaik, atau luka yang terus berulang menjadi alasan untuk berkonsultasi.
Seseorang juga sebaiknya mencari bantuan profesional jika dorongan untuk melakukan masturbasi terasa sulit dikendalikan. Terutama jika kebiasaan tersebut mulai mengganggu aktivitas, hubungan sosial, atau kondisi psikologis.
Dengan memahami respons tubuh dan memperhatikan kebersihan serta kenyamanan, seseorang dapat mengenali perubahan normal sekaligus mengetahui tanda yang membutuhkan pemeriksaan medis. (*)






