Javanusa.com—Hasrat menghadirkan gaya hidup mewah bagi keluarga kerap memicu penderitaan yang tak terduga.
Tema nyata inilah yang diangkat oleh sutradara Hasto Broto lewat karya drama keluarga terbarunya bertajuk Menang untuk Kalah.
Terjebak Cicilan demi Gengsi Klaster Mewah
Langkah Bima (Surya Saputra) memindahkan keluarganya ke kawasan klaster elite menjadi awal kehancuran. Demi memenuhi impian tersebut, ia nekat mengambil cicilan rumah mewah beserta seluruh perabot barunya.
Keputusan impulsif Bima menguras tabungan pribadi secara drastis dalam waktu singkat. Dewi (Lulu Tobing) bersama kedua anaknya, Reina (Putri Ziani) dan Rako (Ajil Ditto), tidak menyadari kondisi finansial yang memburuk.
Keluarga kecil ini awalnya merasa sangat bangga atas pencapaian sang kepala keluarga. Namun, kejayaan semu itu runtuh begitu serangkaian musibah finansial datang menghampiri.
Terjerumus Judi Online dan Jalan Pintas
Situasi ekonomi yang mendesak membuat Bima bertindak gegabah tanpa memperhitungkan risiko. Ia memilih jalan instan dengan menjajal peruntungan pada platform judi online (judol).
Keputusan nekat tersebut bukannya menyelesaikan masalah, melainkan membuat situasi keuangan semakin terpuruk. Kebahagiaan yang sempat terpancar di rumah baru itu berubah menjadi penderitaan mendalam bagi seluruh anggota keluarga.
Film berdurasi 116 menit ini menyasar penonton dewasa dengan label Lembaga Sensor Film (LSF) 17 tahun ke atas. Karya ini memadukan akting para aktor senior seperti Yessy Gusman, Surya Saputra, dan Lulu Tobing dengan bintang muda bakat tinggi.
Diproduseri langsung oleh Hasto Broto bersama Salman Alfarisy, Menang untuk Kalah siap memberikan pelajaran moral berharga. Bioskop di seluruh Indonesia akan menayangkan film drama ini secara serentak mulai 19 November 2026. (*)






