Sawahlunto, Javanusa—Kota Sawahlunto mencatatkan langkah baru dalam pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi melalui soft launching Hotel Saka Ombilin Heritage. Hotel ini resmi menjadi hotel bintang empat pertama di kota warisan dunia tersebut.
Kehadiran hotel ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Pemerintah Kota Sawahlunto dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). General Manager PTBA Unit Pertambangan Ombilin, Yulfaizon mengawal langsung kerja sama tersebut.
Acara ini dihadiri jajaran pimpinan PTBA dan unsur pimpinan daerah. Di antaranya Direktur Utama PTBA Arsal Ismail, Direktur Operasi dan Produksi PTBA Ilham Yacob, Sekretaris Daerah Kota Sawahlunto Rovanly Abdams, serta unsur Forkopimda Kota Sawahlunto.
Rencana Reaktivasi Tambang Ombilin
Di sela kegiatan, Direktur Operasi dan Produksi PTBA Ilham Yacob menyampaikan pembaruan terkait rencana pengoperasian kembali tambang batubara di Sawahlunto melalui metode penambangan terbuka (open pit mining).
Saat ini, perusahaan memfokuskan penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk mendapatkan persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dokumen RKAB tersebut memuat empat pilar utama. Pertama, landasan legal sebagai dasar hukum operasional pertambangan.
Kedua, alat kendali untuk mengatur teknis produksi, strategi pemasaran, dan alokasi anggaran. Ketiga, standar keamanan dan lingkungan yang menjamin kepatuhan terhadap K3 serta pelestarian lingkungan hidup. Keempat, akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban perusahaan kepada pemerintah.
Dari keseluruhan prosedur yang dijalankan, perusahaan telah memperoleh rekomendasi dari Kementerian Kebudayaan pada Desember 2026. PTBA menargetkan pengoperasian awal tambang pada 2027.
Harapan Pemko untuk Dampak Ekonomi
Sekretaris Daerah Kota Sawahlunto, Rovanly Abdams, menyambut positif rencana optimalisasi aset tersebut. Pemerintah kota berharap langkah ini dapat menjadi stimulus bagi perekonomian lokal.
Selain itu, kebijakan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali roda ekonomi daerah yang sempat melambat dan membuka peluang lapangan kerja baru secara luas, khususnya bagi masyarakat Sawahlunto.
Langkah ini juga dipandang sebagai upaya harmonis dalam mengoptimalkan warisan budaya yang dimiliki Kota Sawahlunto. (*/red)






