Padang, Solsel—Pemerintah Kabupaten Solok Selatan kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam upaya percepatan penurunan angka stunting.
Wakil Bupati Solok Selatan H. Yulian Efi menegaskan keberhasilan ini merupakan buah kerja keras lintas sektor yang konsisten dan terarah.
Ia menyampaikan hal itu saat menghadiri Rapat Koordinasi Regional dan Advokasi Pencegahan Stunting 2025 yang digelar oleh Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) RI, Rabu (9/10/2025) di Kota Padang.
Forum tersebut mempertemukan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota se-Sumatera Barat untuk menyatukan langkah menuju Indonesia Emas 2045, dengan fokus mempercepat penurunan stunting secara berkelanjutan.
Berdasarkan data Setwapres RI, angka stunting nasional berhasil turun dari 37,2 persen (2013) menjadi 19,8 persen (2024). Pemerintah menargetkan angka itu terus menurun hingga 14,2 persen pada 2029 dan 5 persen pada 2045.
Sementara itu, di Sumatera Barat, prevalensi stunting menurun dari 29,9 persen (2018) menjadi 24,9 persen (2024).
Meski demikian, dalam tiga tahun terakhir penurunan tersebut cenderung stagnan, sehingga dibutuhkan strategi baru serta sinergi lintas sektor agar hasilnya lebih signifikan.
Solsel Torehkan Angka Terendah di Sumbar
Di tingkat kabupaten, Solok Selatan mencatat capaian luar biasa. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, angka stunting di daerah ini hanya 14,7 persen.
Bahkan, data Posyandu September 2023 menunjukkan penurunan hingga 10,2 persen, menjadikan Solok Selatan sebagai salah satu daerah dengan angka stunting terendah di Sumatera Barat.
“Kami tidak ingin puas dengan capaian ini. Fokus kami menjaga tren positif dan mencegah munculnya kasus baru,” ujar Wabup Yulian Efi dengan tegas.
Capaian tersebut tidak datang begitu saja. Pemerintah daerah berhasil menggerakkan kolaborasi aktif antara TPPS, Bappeda, Dinas Kesehatan, PKK, serta pemerintah nagari. Seluruh unsur bekerja memastikan program penurunan stunting berjalan efektif hingga tingkat keluarga.
Sinergi dan Komitmen Bersama
Dalam forum yang sama, seluruh kepala daerah di Sumatera Barat menandatangani Komitmen Bersama percepatan penurunan stunting.
Langkah ini menjadi wujud keseriusan daerah untuk bergerak serentak menekan angka stunting demi generasi sehat dan unggul.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menegaskan pentingnya pendekatan “by name, by address, by case, by intervention” agar program pencegahan stunting lebih tepat sasaran dan berdampak nyata di lapangan.
“Stunting bukan sekadar persoalan gizi, tapi tantangan peradaban yang harus kita jawab bersama,” tegas Mahyeldi.
Soal Masa Depan Bangsa
Mengakhiri pernyataannya, Wabup Yulian Efi menegaskan perjuangan menurunkan angka stunting bukan sekadar tugas administratif, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
“Anak-anak hari ini adalah generasi penerus Indonesia Emas. Kita tidak boleh membiarkan mereka kehilangan kesempatan tumbuh sehat dan cerdas,” pungkasnya. (*/red)






