Pessel, Javanusa—Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Doni Harsiva Yandra, mengajak masyarakat Nagari Koto Berapak, Kabupaten Pesisir Selatan, meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Ia menekankan pentingnya mitigasi sejak dini agar masyarakat mampu mengurangi risiko dan melindungi keselamatan keluarga.
Ajakan tersebut disampaikan Doni saat menyosialisasikan Peraturan Daerah (Perda) Sumatera Barat Nomor 4 Tahun 2023 tentang Penanggulangan Bencana di Jalan Rumah Panjang Gunung Cerek, Nagari Koto Berapak, Kecamatan Bayang, Minggu (18/10/2026).
Doni Tekankan Pentingnya Mitigasi Bencana
Doni menjelaskan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup dilakukan ketika bencana terjadi. Masyarakat perlu membangun kebiasaan mengenali potensi bahaya dan memahami langkah pencegahan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kesadaran terhadap bencana perlu dibangun sejak dini. Masyarakat harus memahami bahwa kesiapsiagaan bukan hanya dilakukan ketika bencana datang, tetapi juga melalui upaya pencegahan dan pengurangan risiko dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Doni.
Menurutnya, pengetahuan mengenai tindakan sebelum, saat, dan setelah bencana dapat membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat dalam situasi darurat.
Karena itu, ia menilai penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat. Keduanya memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang lebih aman dan tangguh.
“Penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran dalam menyiapkan kebijakan dan penanganan, sementara masyarakat juga perlu mengambil bagian melalui peningkatan pengetahuan, kewaspadaan, serta kepedulian terhadap kondisi lingkungan,” katanya.
Perda Nomor 4 Tahun 2023 Jadi Landasan Penanggulangan Bencana
Sosialisasi tersebut memperkenalkan Perda Sumbar Nomor 4 Tahun 2023 sebagai landasan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah. Regulasi ini mencakup upaya pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat, hingga pemulihan pascabencana.
Dalam kegiatan itu, Sekretaris BPBD Provinsi Sumatera Barat, Ilham Wahab, S.Sos., turut hadir untuk mendukung penyampaian informasi kebencanaan kepada masyarakat.
Melalui sosialisasi tersebut, warga diharapkan mampu mengenali potensi ancaman di lingkungan masing-masing. Pemahaman ini menjadi bekal penting untuk menentukan tindakan yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Wali Nagari Koto Berapak Lazuardi, Ketua Bamus Yurizal, tokoh masyarakat, ninik mamak, bundo kanduang, pemuda, pemudi, serta warga setempat.
Keterlibatan berbagai unsur masyarakat ini dinilai penting untuk memperluas edukasi kebencanaan. Pemerintah nagari, tokoh adat, dan generasi muda dapat membantu menyebarkan informasi hingga ke tingkat keluarga.
Libatkan Tokoh Adat dan Generasi Muda
Doni menilai tokoh masyarakat dan generasi muda memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya sadar bencana. Keterlibatan mereka dapat memperkuat penyebaran informasi dan mendorong masyarakat lebih siap menghadapi keadaan darurat.
“Peran tokoh masyarakat dan generasi muda sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan budaya sadar bencana. Edukasi harus terus dilakukan agar masyarakat semakin siap, tidak panik ketika menghadapi keadaan darurat, serta mengetahui langkah yang harus diambil untuk melindungi keselamatan bersama,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ketangguhan masyarakat bermula dari lingkungan terdekat. Warga dapat mengurangi risiko bencana dengan mengenali potensi bahaya, menjaga lingkungan, memahami jalur evakuasi, dan mengetahui akses informasi kebencanaan.
Langkah-langkah tersebut perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar pengetahuan yang muncul ketika bencana mengancam.
Dorong Masyarakat Pesisir Selatan Lebih Siaga
Melalui sosialisasi Perda Penanggulangan Bencana, Doni berharap masyarakat Nagari Koto Berapak memahami regulasi sekaligus menerapkan pengetahuan kebencanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menegaskan bahwa koordinasi, kepedulian, dan pemahaman bersama menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko serta dampak bencana.
“Harapan kita, masyarakat semakin peduli dan siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana. Dengan kebersamaan, koordinasi, dan pemahaman yang baik, risiko dapat ditekan dan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” tutupnya. (*)






