Javanusa.com—Banyak perempuan merasa khawatir saat menyadari ukuran payudara kanan dan kiri tidak sama. Kondisi yang dikenal sebagai payudara asimetris ini sebenarnya cukup umum terjadi. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut tidak menandakan adanya gangguan kesehatan yang serius.
Payudara asimetris merupakan kondisi ketika kedua payudara memiliki perbedaan ukuran, bentuk, posisi, atau volume. Dengan demikian, ketidaksimetrisan tidak hanya terlihat dari ukuran yang lebih besar atau lebih kecil, tetapi juga dapat tampak pada bentuk dan letaknya.
Para ahli menyebut sangat sedikit perempuan yang memiliki ukuran payudara benar-benar sama. Karena itu, perbedaan ringan hingga sedang pada kedua payudara masih tergolong normal.
Sering Terjadi Saat Masa Pubertas
Perbedaan ukuran payudara umumnya mulai terlihat saat masa pubertas. Pada periode ini, tubuh mengalami perubahan hormonal yang memengaruhi perkembangan jaringan payudara.
Sebagian remaja perempuan mengalami pertumbuhan payudara yang tidak seimbang pada awal masa pubertas. Namun, seiring bertambahnya usia, ukuran kedua payudara sering menjadi lebih seimbang tanpa memerlukan tindakan medis.
Meski demikian, apabila perbedaan ukuran tetap bertahan setelah perkembangan payudara selesai, kondisi tersebut kemungkinan menetap hingga usia dewasa.
Apa Penyebab Payudara Asimetris?
Hingga saat ini, belum ada penyebab pasti yang menjelaskan mengapa ukuran payudara dapat berbeda. Namun, sejumlah faktor diduga berperan, mulai dari perubahan hormon estrogen, faktor anatomi tubuh, hingga riwayat cedera pada area dada.
Secara anatomi, payudara tersusun atas jaringan lemak dan kelenjar yang berfungsi memproduksi ASI. Struktur jaringan tersebut dapat berkembang berbeda pada setiap sisi tubuh sehingga memengaruhi ukuran maupun bentuk payudara.
Selain itu, perubahan hormon selama siklus menstruasi juga dapat membuat ukuran payudara tampak berubah sementara. Menjelang ovulasi, misalnya, payudara sering terasa lebih penuh, kencang, dan sensitif akibat peningkatan aliran darah serta penumpukan cairan dalam jaringan payudara.
Kondisi tersebut membuat perbedaan ukuran terlihat lebih jelas. Namun, ukuran payudara biasanya kembali normal setelah memasuki fase menstruasi.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Pada umumnya, payudara besar sebelah bukan kondisi berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Ketidaksimetrisan ukuran payudara juga tidak memengaruhi kemampuan menyusui maupun meningkatkan risiko kanker payudara.
Namun, perempuan perlu menjalani pemeriksaan medis apabila perbedaan ukuran muncul secara tiba-tiba. Pemeriksaan juga penting jika kondisi tersebut disertai benjolan, nyeri, perubahan bentuk kulit, atau keluarnya cairan tidak normal dari puting.
Selain itu, konsultasi dengan dokter perlu dilakukan ketika selisih ukuran sangat mencolok. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gangguan kepercayaan diri, ketidaknyamanan fisik, maupun tekanan psikologis.
Dalam kasus yang sangat jarang, kondisi ini dapat berkaitan dengan Juvenile Breast Hypertrophy (JHB). Kelainan tersebut menyebabkan pertumbuhan berlebihan pada salah satu payudara selama masa remaja sehingga ukurannya jauh lebih besar dibandingkan sisi lainnya.
Apakah Payudara Asimetris Bisa Diatasi?
Bagi perempuan yang merasa terganggu dengan perbedaan ukuran payudara, langkah paling sederhana adalah memilih bra yang sesuai dengan ukuran payudara yang lebih besar. Selain itu, penggunaan bantalan tambahan pada sisi yang lebih kecil dapat membantu menciptakan tampilan yang lebih seimbang.
Apabila ketidaksimetrisan menimbulkan keluhan fisik maupun psikologis yang signifikan, dokter dapat mempertimbangkan tindakan bedah setelah melakukan evaluasi menyeluruh.
Beberapa prosedur yang umum digunakan meliputi operasi pengurangan ukuran payudara yang lebih besar (breast reduction surgery) atau pemasangan implan pada payudara yang lebih kecil. Kedua prosedur tersebut bertujuan menciptakan proporsi payudara yang lebih seimbang.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menjalani operasi pengurangan pada payudara yang lebih besar cenderung melaporkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang memilih pemasangan implan.
Meski demikian, perempuan sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis bedah plastik sebelum memutuskan menjalani operasi. Konsultasi tersebut penting untuk mempertimbangkan manfaat, risiko, serta hasil yang diharapkan dari tindakan yang akan dilakukan. (*/red)






