Bali, Javanusa—Bali memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) terkemuka di dunia.
Dukungan kekayaan budaya, keindahan alam, serta tren peningkatan penyelenggaraan pertemuan internasional menjadi modal penting bagi Pulau Dewata untuk bersaing dengan berbagai destinasi MICE global.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa dalam sambutannya pada pelantikan pengurus Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) periode 2026–2031 di The Meru, Sanur, Bali, Jumat (5/6/2026) malam.
Menurutnya, keberadaan BaliCEB diharapkan mampu menjadi motor penggerak dalam memperkuat daya saing industri MICE Bali yang berkualitas dan berkelanjutan.
“Kehadiran BaliCEB harus menjadi instrumen baru, semangat baru, dan kekuatan baru bagi kita semua untuk mewujudkan Bali sebagai destinasi MICE kelas dunia, sekaligus menjaga kekuatan Bali dan mendorong terciptanya pariwisata yang berkualitas serta berkelanjutan,” kata Ni Luh Puspa.
Bali Catat Tren Positif Industri MICE
Menurut Ni Luh Puspa, Bali memiliki potensi besar dalam industri MICE global. Data International Congress and Convention Association (ICCA) menunjukkan Bali berada di peringkat ke-38 dunia sebagai destinasi penyelenggaraan pertemuan internasional asosiasi.
Ia menjelaskan, sektor MICE memiliki nilai strategis karena mampu menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas dibandingkan wisata konvensional.
Kehadiran peserta rapat, konferensi, dan pameran internasional turut meningkatkan tingkat hunian hotel, penggunaan transportasi, konsumsi produk UMKM, serta pertumbuhan sektor ekonomi kreatif dan berbagai jasa pendukung.
Kinerja Bali pada sektor ini juga menunjukkan perkembangan yang positif. Sepanjang 2024, Bali berhasil menyelenggarakan 54 pertemuan internasional yang memenuhi kriteria ICCA. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan 34 pertemuan internasional pada tahun sebelumnya.
Ni Luh Puspa menilai keunggulan utama Bali terletak pada perpaduan kekayaan alam, budaya, dan keramahtamahan masyarakat yang menjadi daya tarik tersendiri bagi penyelenggara kegiatan internasional.
“Setiap destinasi memiliki keunggulannya masing-masing. Bali memiliki kekuatan yang khas melalui kekayaan alam, budaya, dan keramahtamahan masyarakat yang menjadi daya tarik tersendiri bagi penyelenggaraan kegiatan MICE. Potensi inilah yang perlu terus kita optimalkan agar Bali semakin kompetitif di tingkat global,” ujarnya.
Tantangan yang Perlu Diselesaikan
Meski memiliki peluang besar, Wamenpar mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu ditangani untuk memperkuat daya saing Bali sebagai destinasi MICE dunia. Tantangan tersebut meliputi peningkatan kualitas infrastruktur, pengelolaan lingkungan, penanganan sampah, serta penguatan berbagai aspek pendukung lainnya.
Menurutnya, perhatian pemerintah pusat terhadap pembangunan dan pengembangan Bali menjadi peluang strategis yang perlu dimanfaatkan seluruh pemangku kepentingan.
“Saya pikir ini adalah kesempatan yang harus kita ambil bersama. Mari kita bergotong royong menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di Bali sehingga kita benar-benar mampu mewujudkan Bali sebagai destinasi MICE kelas dunia,” katanya.
Selain meningkatkan jumlah penyelenggaraan event internasional, Ni Luh Puspa berharap BaliCEB dapat mendorong penerapan praktik penyelenggaraan acara yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Event saat ini sudah dituntut memiliki standar yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Jadi bukan sekadar menyelenggarakan kegiatan, tetapi juga memastikan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
BaliCEB Fokus pada Lima Agenda Utama
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bali, Wayan Koster, menekankan pentingnya BaliCEB bekerja secara terukur dan konsisten melalui program-program konkret yang mampu mendukung pengembangan sektor pariwisata, khususnya industri MICE, dalam lima tahun mendatang.
“Sehingga BaliCEB benar-benar dapat memainkan peran strategis dalam pengembangan pariwisata, khususnya sektor MICE di Bali,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum BaliCEB periode 2026–2031, Ketut Jaman, mengatakan kepengurusan baru akan berfokus pada lima agenda utama.
Program tersebut meliputi penguatan posisi Bali sebagai destinasi MICE global berbasis budaya dan keberlanjutan, peningkatan promosi internasional serta jejaring global, penguatan strategi bidding event internasional secara aktif dan terstruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia MICE, serta penguatan standar layanan, pemanfaatan teknologi, keamanan, dan praktik keberlanjutan.
Selain itu, BaliCEB juga berkomitmen memperluas manfaat ekonomi industri MICE bagi masyarakat Bali. Manfaat tersebut mencakup pelaku UMKM, sektor ekonomi kreatif, komunitas lokal, seniman, hingga pekerja pariwisata.
“Pengembangan industri MICE tidak hanya tentang mendatangkan event internasional, tetapi juga memastikan manfaat ekonominya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat Bali,” ujar Ketut Jaman.
Turut mendampingi Wamenpar dalam kegiatan tersebut Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kementerian Pariwisata, Vinsensius Jemadu, serta Direktur Utama Politeknik Pariwisata Bali, Ida Bagus Putu Puja. (*/red)






