10 Ciri Orang Setia dalam Hubungan: Tanda Kesetiaan Bisa Terlihat Sejak Masa PDKT

Penulis -

Jumat, 29 Mei 2026 - 09:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Image by Pexels

Image by Pexels

Javanusa.com—Di tengah derasnya arus informasi di media sosial yang kerap menampilkan kasus perselingkuhan dan pengkhianatan dalam hubungan, muncul kekhawatiran baru di kalangan banyak orang terhadap komitmen dalam menjalin relasi.

Dikutip dari Hipwee, fenomena ini membuat sebagian orang menjadi lebih berhati-hati, bahkan cenderung memiliki “trust issue” ketika akan memulai hubungan baru.

Pertanyaan yang kemudian sering muncul adalah, apakah masih ada karakter orang yang benar-benar setia dan tidak mudah tergoda untuk berselingkuh?

Jawabannya, masih ada. Kesetiaan bukanlah sesuatu yang hilang di tengah kompleksitas hubungan modern. Namun, ia tidak muncul secara kebetulan atau semata-mata karena keberuntungan dalam memilih pasangan. Kesetiaan merupakan hasil dari karakter, nilai diri, serta cara seseorang memaknai komitmen dalam hubungan.

Menariknya, tanda-tanda kesetiaan tersebut sering kali sudah dapat terlihat bahkan sebelum hubungan resmi dimulai, misalnya saat masa pendekatan (PDKT). Pada fase ini, cara seseorang berkomunikasi, bersikap, hingga memperlakukan orang lain dapat menjadi indikator awal mengenai kecenderungan karakter yang dimilikinya.

Psikoterapis Esther Perel pernah mengatakan, “The quality of our relationships determines the quality of our lives.” (Esther Perel, Mindvalley Blog).

Pernyataan ini menegaskan bahwa kualitas hubungan sangat dipengaruhi oleh kualitas pribadi yang menjalaninya. Individu yang mampu menjaga komitmen, menghargai orang lain, serta memiliki kontrol diri yang baik cenderung membangun hubungan yang lebih sehat dan stabil.

Orang yang memiliki karakter setia tidak hanya sekadar “tidak berselingkuh”, tetapi juga menunjukkan integritas dalam berbagai aspek kehidupan. Mereka jujur, konsisten, dan memahami batasan dalam relasi. Bahkan dalam fase PDKT, sikap mereka biasanya sudah mencerminkan bagaimana mereka akan bersikap dalam hubungan jangka panjang.

Namun, dalam praktiknya, banyak orang terjebak pada euforia jatuh cinta sehingga mengabaikan tanda-tanda penting tersebut. Padahal, pengamatan sejak awal dapat membantu seseorang menilai apakah calon pasangan memiliki kecenderungan untuk menjaga komitmen atau justru sebaliknya.

Baca Juga :  Alat Pendeteksi Tsunami Akan Dipasang di Pantai Anas Malik Pariaman
10 Karakter Orang yang Tidak Mudah Selingkuh

Berikut ini sepuluh karakter yang sering ditemukan pada orang yang tidak mudah selingkuh dan memiliki kecenderungan kuat untuk menjaga kesetiaan dalam hubungan:

1. Jujur Tanpa Syarat

Kejujuran menjadi fondasi utama dalam kesetiaan. Orang dengan karakter ini tidak merasa perlu menyembunyikan jati diri demi terlihat sempurna. Dalam fase PDKT sekalipun, mereka cenderung terbuka mengenai masa lalu, pengalaman hubungan sebelumnya, dan tidak menutupi hal-hal penting, tanpa menjatuhkan pihak lain.

2. Mengetahui Batas Diri dan Orang Lain

Mereka memiliki kesadaran yang kuat terhadap batasan dalam berinteraksi. Hubungan dengan lawan jenis dijaga tetap wajar, tidak ambigu, dan tidak memberikan ruang untuk kesalahpahaman atau potensi godaan.

3. Memiliki Rasa Hormat yang Tinggi

Rasa hormat menjadi prinsip yang melekat dalam diri mereka. Sikap dan ucapan mereka konsisten, tidak bermain-main dalam memberi perhatian, serta tidak membangun kedekatan dengan banyak orang secara bersamaan tanpa kejelasan.

4. Dewasa Secara Emosional

Individu dengan kematangan emosional mampu mengelola perasaan seperti bosan, marah, atau kecewa tanpa melarikan diri ke hubungan lain. Dalam fase pendekatan, mereka juga menunjukkan kesabaran dalam merespons situasi kecil yang tidak sesuai harapan.

5. Tidak Bergantung pada Validasi Orang Lain

Harga diri mereka tidak ditentukan oleh perhatian eksternal. Mereka tidak membutuhkan pengakuan dari banyak orang untuk merasa bernilai, sehingga lebih stabil dalam menjalin hubungan.

6. Komunikatif dan Terbuka

Mereka cenderung jelas dalam menyampaikan perasaan, tujuan, dan batasan sejak awal. Hal ini membuat hubungan yang terbangun tidak dipenuhi dengan asumsi atau kebingungan.

7. Memahami Tujuan Hubungan

Sebelum masuk ke dalam hubungan, mereka sudah memiliki kejelasan tentang arah yang diinginkan, apakah untuk hubungan serius atau sebatas perkenalan. Konsistensi ini tercermin dari sikap mereka sejak awal PDKT.

Baca Juga :  Apakah Sering Bertengkar dengan Pasangan Masih Wajar? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
8. Menjaga Batas di Dunia Nyata dan Digital

Kesetiaan juga tercermin dalam perilaku di ruang digital. Mereka tidak membangun interaksi yang menggoda dengan orang lain di media sosial atau platform komunikasi lainnya, dan lebih fokus pada hubungan yang sedang dijalani.

9. Memilih Pasangan Setiap Hari

Kesetiaan dipandang sebagai keputusan yang terus diperbarui. Mereka secara sadar memilih untuk tetap bertahan dan berkomitmen, serta berupaya menjaga hubungan meskipun menghadapi tantangan.

10. Prinsip Harga Diri yang Kuat

Mereka memiliki standar moral dan integritas yang jelas. Mengkhianati pasangan dipandang sebagai tindakan yang merusak nilai diri sendiri, sehingga godaan untuk berselingkuh dapat lebih mudah dikendalikan.

Kesetiaan pada akhirnya berkaitan erat dengan nilai diri dan karakter seseorang. Individu yang setia umumnya memiliki kombinasi kualitas seperti kejujuran, penghormatan terhadap orang lain, kematangan emosional, serta kesadaran akan komitmen yang dijalani.

Dengan memahami tanda-tanda ini sejak fase awal perkenalan, seseorang dapat lebih bijak dalam menilai calon pasangan. Namun di sisi lain, kualitas hubungan yang baik juga tidak hanya bergantung pada satu pihak, melainkan pada dua individu yang sama-sama memiliki kesadaran untuk menjaga komitmen.

Tidak ada manusia yang sepenuhnya sempurna, tetapi hubungan yang sehat selalu dibangun oleh usaha, kesadaran, dan pilihan yang terus diperbarui setiap hari. (*/red)

Berita Terkait

4 Kebiasaan Pasangan Bahagia yang Bisa Membuat Hubungan Tetap Harmonis
Suami yang Baik Bukan Harus Sempurna, Ini Cara Membangun Rumah Tangga Penuh Cinta
Cara Mengembalikan Semangat Hidup Saat Merasa Hampa, Ini Langkah Sederhananya
Benarkah Wanita Selalu Benar? Ini Kata Psikolog
Wanita Mengajak Menikah Duluan, Lumrah Kah? Ini Penjelasan Psikolog
Benarkah Pernikahan Paling Rawan di Tahun Ketujuh? Ini 5 Fase yang Perlu Diketahui
Perselingkuhan di Tempat Kerja Bisa Berawal dari Kedekatan, Ini Cara Mencegahnya
10 Ciri Pasangan Mulai Bosan dalam Hubungan, Kenali Tandanya

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Dorong Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Cegah Korupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru