Javanusa.com—Bekerja hingga larut malam atau menyelesaikan tugas di luar jam kerja sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak pekerja, terutama di kawasan perkotaan.
Meski sesekali lembur mungkin sulit dihindari, kebiasaan bekerja berlebihan dalam jangka panjang dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan mental.
Para ahli menilai jam kerja yang terlalu panjang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Berikut sejumlah dampak lembur yang perlu mendapat perhatian.
1. Meningkatkan Risiko Depresi
Depresi menjadi salah satu gangguan mental yang paling sering dikaitkan dengan jam kerja yang berlebihan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa semakin lama seseorang bekerja setiap pekan, semakin tinggi pula risiko munculnya gejala depresi. Kondisi ini banyak ditemukan pada profesi dengan tingkat tekanan tinggi, seperti tenaga kesehatan, akuntan, maupun pekerja yang dituntut memenuhi target ketat.
Risiko tersebut juga cenderung lebih besar pada perempuan yang harus menjalankan peran ganda, baik sebagai pekerja maupun pengelola urusan rumah tangga dan keluarga.
2. Memicu Ketergantungan Alkohol
Tekanan kerja yang terus-menerus dapat mendorong sebagian orang mencari pelarian untuk mengurangi stres. Salah satu perilaku yang kerap muncul adalah konsumsi alkohol secara berlebihan.
Dalam beberapa kasus, kebiasaan tersebut berkembang menjadi ketergantungan atau alkoholisme, yang termasuk gangguan kesehatan mental. Risiko ini meningkat pada pekerja yang menghabiskan lebih dari 40 jam kerja per minggu dan memiliki tingkat stres tinggi.
Selain berdampak pada kesehatan psikologis, konsumsi alkohol berlebihan juga dapat merusak fungsi organ tubuh dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.
3. Menurunkan Kualitas Tidur
Lembur yang dilakukan secara terus-menerus sering kali mengganggu pola tidur. Pikiran yang masih dipenuhi pekerjaan membuat seseorang sulit beristirahat dengan tenang, bahkan setelah meninggalkan tempat kerja.
Kurang tidur memang bukan gangguan mental. Namun, kondisi ini dapat memicu berbagai masalah psikologis seperti stres, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, hingga menurunnya kemampuan mengambil keputusan.
Untuk mengurangi dampaknya, pekerja dapat menerapkan pola kerja yang seimbang. Salah satu metode yang cukup populer adalah bekerja selama 52 menit kemudian beristirahat selama 17 menit. Waktu istirahat dapat dimanfaatkan untuk berjalan sejenak, melakukan peregangan, atau berbincang santai agar pikiran lebih segar.
4. Menyebabkan Gangguan Kecemasan
Jam kerja yang panjang juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari maupun produktivitas di tempat kerja.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
-
- Merasa khawatir secara berlebihan dan terus-menerus.
- Sulit berkonsentrasi atau mengingat informasi.
- Kehilangan minat terhadap pekerjaan.
- Menghindari interaksi dengan rekan kerja, teman, atau keluarga.
Jika gejala tersebut berlangsung dalam waktu lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah yang tepat.
Cara Mengurangi Kebiasaan Lembur
Lembur sesekali mungkin tidak dapat dihindari. Namun, pekerja perlu memastikan kondisi tersebut tidak menjadi rutinitas yang berlangsung terus-menerus.
Beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi frekuensi lembur:
-
- Membuat batas yang jelas antara urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi.
- Menentukan prioritas tugas agar pekerjaan lebih terorganisir.
- Menyusun jadwal kerja yang realistis.
- Tidak selalu menerima tambahan pekerjaan di luar tanggung jawab utama.
- Memanfaatkan waktu istirahat secara optimal.
- Mengurangi gangguan dengan menonaktifkan notifikasi yang tidak penting saat bekerja.
- Menyediakan waktu khusus untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang disukai.
Menjaga Produktivitas dan Kesehatan Secara Seimbang
Mencapai target dan memberikan kinerja terbaik memang penting dalam dunia kerja. Namun, menjaga kesehatan mental tidak kalah pentingnya. Lembur yang dilakukan terus-menerus dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, gangguan tidur, hingga perilaku adiktif.
Karena itu, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi perlu menjadi perhatian setiap pekerja. Jika mulai merasakan gejala gangguan mental akibat tekanan kerja, jangan ragu mencari bantuan profesional agar kondisi tidak semakin memburuk. (*/red)






