5 Penyebab Sariawan yang Sering Tidak Disadari, Ketahui Cara Mengatasinya agar Cepat Sembuh

Penulis -

Jumat, 3 Juli 2026 - 22:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi sariawan. (Foto: AI Generate)

Ilustrasi sariawan. (Foto: AI Generate)

Javanusa.com—Sariawan sering muncul secara tiba-tiba dan mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari makan hingga berbicara.

Meski umumnya dapat sembuh sendiri, kondisi ini ternyata dipicu oleh berbagai kebiasaan dan faktor kesehatan yang kerap luput dari perhatian.

Hampir setiap orang pernah mengalami sariawan. Namun, tidak sedikit yang mengira penyebabnya hanya karena makanan pedas atau tergigit saat makan. Padahal, banyak faktor lain yang dapat memicu munculnya luka di rongga mulut.

Penyebab sariawan memang tidak selalu mudah dipastikan. Meski demikian, sejumlah kebiasaan sehari-hari, kekurangan nutrisi, hingga kondisi medis tertentu diketahui dapat meningkatkan risikonya. Berikut beberapa penyebab sariawan yang perlu diketahui.

1. Menyikat Gigi Terlalu Keras

Cara menyikat gigi yang terlalu kuat dapat melukai gusi maupun lapisan dalam mulut. Risiko juga meningkat jika menggunakan sikat gigi dengan bulu yang kasar. Luka kecil tersebut kemudian bisa berkembang menjadi sariawan.

2. Tidak Sengaja Menggigit Bibir atau Lidah

Cedera ringan akibat tergigit saat makan atau berbicara menjadi salah satu penyebab sariawan yang paling sering terjadi. Selain itu, luka juga dapat muncul karena tertusuk duri ikan, tusuk gigi, atau alat makan yang mengenai jaringan mulut.

3. Penggunaan Kawat Gigi atau Gigi Palsu

Pemakaian kawat gigi terkadang menimbulkan gesekan pada bagian dalam pipi sehingga memicu luka. Kondisi serupa juga dapat terjadi pada pengguna gigi palsu yang ukurannya kurang sesuai dengan rongga mulut.

4. Kebersihan Mulut Kurang Terjaga

Menjaga kebersihan gigi dan mulut berperan penting dalam mencegah sariawan. Jika kebersihan tidak terjaga, bakteri lebih mudah berkembang sehingga meningkatkan risiko infeksi, peradangan, dan munculnya luka di rongga mulut.

5. Stres dan Kelelahan

Tekanan emosional maupun kelelahan fisik juga dapat memicu sariawan. Kondisi ini sering kali tidak disadari, padahal stres dapat memengaruhi daya tahan tubuh dan membuat luka di mulut lebih mudah muncul.

Baca Juga :  11 Minuman yang Bisa Membantu Mengatasi Susah Tidur, dari Jus Ceri hingga Teh Chamomile
Kondisi Medis yang Dapat Memicu Sariawan

Selain faktor kebiasaan, sariawan juga dapat berkaitan dengan penyakit tertentu. Beberapa di antaranya meliputi penyakit Crohn, penyakit celiac, serta gangguan sistem kekebalan tubuh seperti AIDS dan lupus.

Kekurangan nutrisi juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Asupan vitamin B12, zinc, zat besi, dan asam folat yang tidak mencukupi dapat meningkatkan risiko munculnya sariawan.

Cara Mengatasi Sariawan agar Cepat Pulih

Meski sebagian besar sariawan akan sembuh dengan sendirinya, beberapa langkah berikut dapat membantu mempercepat proses penyembuhan.

1. Menjaga Kebersihan Rongga Mulut

Sikat gigi secara rutin menggunakan sikat berbulu lembut dan pasta gigi yang sesuai. Bersihkan pula sela-sela gigi dengan benang gigi untuk mengurangi penumpukan sisa makanan.

2. Mengompres dengan Es

Mengulum potongan es di area yang mengalami sariawan dapat membantu mengurangi rasa nyeri sekaligus meredakan peradangan.

3. Memenuhi Kebutuhan Nutrisi

Pastikan tubuh memperoleh vitamin B12, zinc, zat besi, dan asam folat dalam jumlah cukup. Nutrisi tersebut dapat diperoleh dari sayuran hijau, buah-buahan, serta makanan bergizi lainnya.

4. Memanfaatkan Obat Kumur Berbahan Alami

Obat kumur yang mengandung daun sirih, daun saga, atau akar manis (licorice) dapat menjadi pilihan karena memiliki sifat antibakteri, antijamur, dan antiradang. Selain membantu meredakan sariawan, bahan alami tersebut juga dapat menjaga kesegaran mulut.

5. Menghindari Makanan Pemicu

Jika sariawan dipicu oleh makanan pedas, asam, atau terlalu panas, sebaiknya hentikan sementara konsumsi makanan tersebut. Langkah ini membantu mencegah iritasi lebih lanjut dan mempercepat penyembuhan luka.

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Sariawan umumnya membaik dalam waktu satu hingga dua minggu. Namun, segera konsultasikan ke dokter apabila luka tidak kunjung sembuh lebih dari dua minggu, sering kambuh, berukuran besar, atau disertai keluhan lain yang mengganggu.

Baca Juga :  8 Manfaat Jalan Kaki untuk Kesehatan, Bantu Turunkan Berat Badan hingga Jaga Jantung

Dokter akan mencari penyebab sariawan dan memberikan penanganan yang sesuai, baik untuk mengatasi infeksi, mengurangi peradangan, maupun meredakan nyeri. (*/red)

Berita Terkait

Kenali 7 Ciri Penyakit Jantung pada Wanita, Jangan Abaikan Gejala Awalnya
Perkuat Pariwisata Kesehatan Sumbar, Fadly Amran Dorong Digitalisasi Herbal
Lem Gigi Palsu: Jangan Asal Pilih, Ini Cara Menggunakannya dengan Aman
Jerawat Pasir di Wajah Sulit Hilang? Ini 5 Cara Mengatasinya dengan Aman
Jantung Koroner: Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Menurunkan Risikonya
Cacar Air pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Kapan Harus ke Dokter
Cara Membaca Hasil USG 4D Saat Hamil, Ini Istilah dan Angka yang Perlu Dipahami
Rutin Minum Jus Wortel, Apa Benar Bisa Menyehatkan Mata dan Kulit?

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Dorong Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Cegah Korupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru