Jakarta, Javanusa—Film Indonesia Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (My Own Last Supper) berhasil menembus ajang bergengsi Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026.
Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) menilai pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa karya perfilman nasional dengan cerita kuat dan relevan memiliki peluang besar bersaing di tingkat internasional.
Film hasil kolaborasi Matta Cinema Production dan Ruang Basbeth Bercerita itu mengangkat dinamika keluarga Tionghoa-Indonesia yang hidup dengan trauma identitas etnis, namun tetap menghadirkan pesan tentang harmoni dan kemanusiaan.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan kualitas cerita menjadi kekuatan utama yang membawa film tersebut mampu menembus festival film internasional.
“Selamat atas pencapaian film Indonesia yang mengangkat kehidupan dari berbagai sisi anak, dewasa, dan orang tua dengan penyajian sinematik yang menarik. Dengan cerita yang berkualitas tentu film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang memiliki daya saing untuk menjangkau layar internasional,” ujar Irene Umar usai preview screening di XXI Agora Mall, Jakarta, Jumat (17/7).
Angkat Nilai Keluarga dan Kemanusiaan
Dukungan juga datang dari Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka. Menurutnya, film tersebut menyajikan kisah keluarga yang dekat dengan realitas masyarakat sekaligus membawa pesan kemanusiaan yang dapat diterima lintas budaya.
“Film My Own Last Supper memiliki makna keluarga yang sangat mendalam. Penonton akan diajak mengikuti perjalanan hidup seseorang yang tidak mudah, tetapi harus mampu bertahan. Intinya, film ini akan mengingatkan kita untuk kembali kepada keluarga dan banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dari dinamika keluarga yang disajikan,” kata Isyana.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan. Ia menilai alur cerita film mampu menggambarkan pergulatan batin setiap tokoh secara emosional.
“Setelah menonton, kita bisa memahami konflik batin dari setiap personal yang ada dalam cerita ini. Ada orang tua yang sudah ditinggal oleh istrinya. Selain itu, bagaimana perasaan anak-anak dalam menghadapi situasi keluarga Tionghoa yang bergejolak,” ujar Veronica.
Adaptasi Novel dan Angkat Sejarah Kemanusiaan
Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang merupakan adaptasi novel karya Wisnu Suryaning Adji yang diterbitkan Bentang Pustaka. Kisahnya menyoroti kehidupan keluarga Tionghoa-Indonesia dengan latar sejarah yang membentuk trauma psikologis sekaligus memperlihatkan pentingnya keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat.
Produser film, Nugroho Dewanto, mengatakan tim produksi ingin menghadirkan gambaran yang lebih utuh mengenai kehidupan keluarga Tionghoa-Indonesia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.
“Kami merasa penting membuat film ini karena ingin menunjukkan kehidupan keluarga Tionghoa-Indonesia sebagai sesuatu yang normal, hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang. Kami berharap film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang menjadi pengingat agar sejarah kelam yang pernah terjadi tidak terulang kembali dan masyarakat bisa melihat bahwa pada dasarnya kita semua sama,” tutur Nugroho Dewanto.
Ekraf Perkuat Daya Saing Perfilman Nasional
Keberhasilan film tersebut dinilai sejalan dengan komitmen Kementerian Ekonomi Kreatif dalam memperkuat industri perfilman Indonesia melalui dukungan terhadap karya orisinal, perluasan jejaring internasional, serta pembukaan akses ke pasar global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan subsektor film, animasi, dan video menjadi sektor ekonomi kreatif dengan pertumbuhan tertinggi pada 2025, yakni mencapai 17,59 persen.
Menutup acara, Irene Umar mengajak masyarakat mendukung perfilman nasional dengan menonton karya-karya Indonesia, termasuk My Own Last Supper atau Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang.
“Kami mengajak masyarakat untuk menonton My Own Last Supper atau film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang sebagai wujud memberikan dukungan bagi perfilman Indonesia,” tutupnya.
Preview screening film tersebut turut dihadiri Staf Khusus Bidang Penguatan Ekosistem Ekraf dan Data Jago Anggara, Ketua Umum Eka Tjipta Foundation sekaligus CEO DAAI TV Indonesia Hong Tjhin, produser Lyza Anggraheni, serta para pemain, di antaranya Verdi Solaiman, Melissa Karim, dan Jessy Davita. (*)






