7 Manfaat Anak Ikut Lomba, Bisa Melatih Percaya Diri dan Kemampuan Sosial

Penulis -

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi anak mengikuti lomba lari. (Foto: AI Generate)

Ilustrasi anak mengikuti lomba lari. (Foto: AI Generate)

Javanusa.com—Mengajak anak mengikuti perlombaan bukan sekadar mencari kemenangan. Kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk melatih kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, hingga cara menghadapi keberhasilan dan kegagalan.

Dilansir dari laman Halodoc, bagi anak usia 3–4 tahun ke atas, pengalaman mengikuti lomba juga dapat membantu perkembangan emosi, motivasi, serta kemampuan berkompetisi secara sehat.

Manfaat Anak Ikut Lomba

Orang tua dapat memanfaatkan kegiatan perlombaan sebagai bagian dari proses belajar anak. Selain menemukan potensi dan bakat, terdapat sejumlah manfaat positif yang dapat diperoleh.

Pertama, anak belajar memahami arti menang dan kalah. Pengalaman tersebut membantu anak mengenali bahwa setiap perlombaan memiliki hasil yang berbeda.

Kedua, lomba membantu anak mengenali kelebihan dan kekurangan dirinya. Anak dapat mengetahui kemampuan yang sudah dikuasai sekaligus bagian yang masih perlu dikembangkan.

Ketiga, kegiatan kompetitif dapat melatih kemampuan berpikir kritis. Anak juga belajar memecahkan masalah dan mengambil keputusan dalam situasi tertentu.

Selain itu, perlombaan dapat menumbuhkan motivasi untuk mencapai tujuan. Anak belajar berusaha dan menyelesaikan tantangan sesuai kemampuan yang dimilikinya.

Pengalaman tampil di hadapan orang lain juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Interaksi dengan peserta, juri, maupun lingkungan baru turut melatih keterampilan sosial anak.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Anak Ikut Lomba

Meski memiliki berbagai manfaat, orang tua perlu menyesuaikan perlombaan dengan kondisi dan karakter anak. Dukungan yang tepat akan membantu anak menikmati proses tanpa merasa terbebani.

1. Kenali Karakter Anak

Temperamen anak menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum memilih perlombaan. Orang tua perlu melihat apakah anak cukup percaya diri tampil di depan umum atau justru mudah merasa gugup.

Anak yang pemalu dapat membutuhkan pendekatan berbeda. Misalnya, orang tua dapat menggunakan istilah “pertunjukan menyanyi” daripada “lomba menyanyi” agar anak tidak merasa terlalu tertekan.

Baca Juga :  Presiden: Jika APBN Mencukupi, Bantuan Pangan CBP Akan Dilanjutkan
2. Pilih Lomba Sesuai Usia dan Minat

Jenis perlombaan sebaiknya sesuai dengan usia, kemampuan, serta ketertarikan anak. Pilihan yang tepat membuat anak lebih mudah menikmati kegiatan tersebut.

Ketika anak merasa nyaman dengan aktivitas yang diikuti, kepercayaan dirinya juga dapat berkembang secara lebih positif.

3. Kenalkan Suasana Perlombaan

Bagi anak yang belum pernah mengikuti lomba, orang tua dapat mengenalkan konsep perlombaan terlebih dahulu. Salah satu caranya dengan mengajak anak menyaksikan perlombaan secara langsung.

Orang tua juga perlu menjelaskan aturan, durasi, serta perlengkapan yang harus dipersiapkan. Pemahaman tersebut dapat mengurangi rasa takut dan membuat anak lebih siap.

4. Berikan Dukungan Tanpa Menuntut

Dukungan orang tua berperan penting dalam membangun kepercayaan diri anak. Berikan apresiasi karena anak sudah berani mencoba, bukan hanya ketika memperoleh juara.

Orang tua juga perlu menjelaskan bahwa perlombaan merupakan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dan mengenali kemampuan diri. Hindari tuntutan berlebihan atau terlalu banyak campur tangan ketika anak sedang mengikuti lomba.

5. Jangan Membandingkan Anak

Membandingkan kemampuan anak dengan peserta lain bukan cara yang tepat untuk membangun jiwa kompetitif. Sikap tersebut justru dapat membuat anak merasa kurang percaya diri.

Sebagai gantinya, orang tua dapat memberikan penghargaan terhadap usaha dan perkembangan anak. Fokuskan perhatian pada proses yang sudah dijalani, bukan semata-mata hasil akhir.

6. Ajarkan Cara Menghadapi Menang dan Kalah

Orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak memahami hasil perlombaan. Ketika menang, anak perlu belajar menghargai peserta lain dan tidak bersikap sombong.

Sebaliknya, kekalahan dapat membuat sebagian anak kecewa atau menangis. Orang tua perlu menjelaskan bahwa tujuan mengikuti lomba bukan hanya mendapatkan juara.

Baca Juga :  Buka Daun Ramadan BI Sumbar, Wawako Maigus Nasir Dorong UMKM Naik Kelas

Berikan apresiasi atas keberanian dan usaha anak selama mengikuti perlombaan. Dengan begitu, anak dapat melihat kekalahan sebagai pengalaman untuk belajar dan mengembangkan kemampuannya.

7. Lomba sebagai Bagian dari Proses Tumbuh Kembang

Mengikutsertakan anak dalam perlombaan dapat menjadi pengalaman yang bermanfaat jika orang tua memberikan pendampingan secara tepat. Fokus utama sebaiknya berada pada proses belajar, keberanian mencoba, dan perkembangan kemampuan anak.

Dengan pendekatan tersebut, anak dapat belajar berkompetisi secara sehat sekaligus mengembangkan kepercayaan diri dan keterampilan sosial sejak dini. (*)

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Dorong Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Cegah Korupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru