Olahraga Saat Kabut Asap, Ini Risikonya bagi Kesehatan

Penulis -

Selasa, 8 September 2026 - 08:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi olahraga saat kabut asap. (Foto: AI Generated)

Ilustrasi olahraga saat kabut asap. (Foto: AI Generated)

Javanusa.com—Olahraga di tengah kabut asap bukan pilihan yang aman. Paparan polutan dari kebakaran hutan dapat mengganggu sistem pernapasan hingga meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.

Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak kabut asap sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Anjuran tersebut juga berlaku untuk kegiatan olahraga yang membutuhkan paparan udara terbuka.

Dilansir dari KlikDokter, kabut asap termasuk bentuk polusi udara yang dapat meningkatkan risiko infeksi akibat virus dan bakteri. Salah satu gangguan yang dapat muncul ialah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kabut Asap Dapat Memicu ISPA dan Asma

Menghirup udara yang tercemar kabut asap dapat menimbulkan keluhan dalam waktu relatif singkat. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk dan iritasi pada tenggorokan.

Risiko tersebut menjadi lebih serius bagi orang yang memiliki kerentanan terhadap penyakit pernapasan. Kabut asap dari kebakaran hutan juga dapat memicu serangan asma.

Serangan asma dapat ditandai dengan batuk, mengi, dan sesak napas. Pada kondisi berat, penderita bahkan dapat mengalami kehilangan kesadaran.

Namun, dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan. Paparan dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi fungsi organ lain.

Paparan Jangka Panjang Berisiko bagi Jantung dan Paru-paru

Kabut asap membawa materi partikulat (particulate matter) yang dapat masuk ke dalam sistem pernapasan. Partikel tersebut juga dapat memicu peradangan serta penyempitan pembuluh darah.

Kondisi itu dapat meningkatkan risiko serangan jantung pada kelompok rentan. Risikonya lebih besar pada orang yang memiliki riwayat serangan jantung atau faktor risiko penyakit jantung koroner.

Paparan kabut asap dalam jangka panjang juga dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan lainnya.

Salah satunya ialah penurunan fungsi paru secara permanen, terutama pada anak-anak. Studi yang dikutip sumber tersebut menemukan kapasitas paru anak dapat berkurang hingga 20 persen akibat paparan kabut asap terus-menerus.

Baca Juga :  Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar, Menkes Imbau Warga Batasi Aktivitas di Luar Rumah

Kabut asap juga dapat membawa logam berat, termasuk timbal, merkuri, dan arsen. Jika paparan berlangsung terus-menerus, zat tersebut berpotensi terakumulasi di dalam tubuh.

Arsen berkaitan dengan peningkatan risiko kanker. Sementara itu, merkuri dapat menyebabkan kerusakan saraf dan kelainan bawaan lahir.

Adapun timbal dapat mengganggu fungsi otak dan menyebabkan masalah belajar pada anak.

Selain itu, polutan dari kabut asap dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Paparan polutan dapat memicu pengerasan sekaligus penyempitan pembuluh darah.

Sebaiknya Tunda Olahraga di Luar Ruangan

Melihat berbagai risiko tersebut, masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas luar ruangan ketika kabut asap sedang pekat.

Menunda olahraga di ruang terbuka menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan polutan. Pilihan yang lebih aman ialah berolahraga di dalam ruangan dengan kualitas udara yang baik.

Jika seseorang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi partikel tinggi dapat membantu mengurangi paparan. Sumber tersebut menyarankan masker berlabel N95, N97, atau N99.

Waktu aktivitas juga perlu diperhatikan. Pilih waktu ketika kualitas udara lebih baik dan hindari beraktivitas saat konsentrasi polutan sedang tinggi.

Jangan memaksakan diri berolahraga ketika muncul batuk, sesak napas, iritasi tenggorokan, atau keluhan pernapasan lainnya. Mengurangi paparan sejak awal dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap. (*)

Berita Terkait

Perkuat Pariwisata Kesehatan Sumbar, Fadly Amran Dorong Digitalisasi Herbal
Lem Gigi Palsu: Jangan Asal Pilih, Ini Cara Menggunakannya dengan Aman
Jerawat Pasir di Wajah Sulit Hilang? Ini 5 Cara Mengatasinya dengan Aman
Jantung Koroner: Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Menurunkan Risikonya
Cacar Air pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Kapan Harus ke Dokter
Cara Membaca Hasil USG 4D Saat Hamil, Ini Istilah dan Angka yang Perlu Dipahami
Rutin Minum Jus Wortel, Apa Benar Bisa Menyehatkan Mata dan Kulit?
Toilet Jongkok atau Duduk, Mana yang Lebih Sehat? Ini Posisi yang Disarankan

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 23:02 WIB

Alee Rilis Single Apa Kabarmu?, Angkat Rindu yang Kembali Setelah Perpisahan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:08 WIB

BLINGOUTKID Rilis Single Freak Like Me, Kisah Keberanian Menjadi Diri Sendiri

Kamis, 8 Oktober 2026 - 20:03 WIB

satchi! Rilis All the Almost, Lagu Indie-Folk tentang Cinta yang Tak Kunjung Terungkap

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:29 WIB

Setelah 18 Tahun, Ifan Resmi Mundur dari GOVINDA

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:47 WIB

Gavendri Rilis Album Kedua Sympathy/Empathy, Rekam Pergulatan Hidup sebagai Orang Dewasa

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Patras Jalani Tur Jepang Perdana, Bawa Cha-Cha Boo! ke Empat Panggung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:16 WIB

Tak Harus Menang untuk Bahagia, Lafa Pratomo dan Ari Lesmana Hadirkan Juara Dua

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:22 WIB

Sinopsis Film Uniform: Cinta di Balik Seragam, Kisah Perwira Muda Bongkar Kematian Kekasih

Berita Terbaru