Javanusa.com—Kabut asap dapat menjadi masalah serius bagi penderita asma. Partikel halus dan polutan di udara bisa mengiritasi saluran napas hingga memicu batuk, sesak, dada terasa berat, dan napas berbunyi.
Oleh karena itu, penderita asma perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. Paparan kabut asap dapat memperbesar risiko munculnya gejala atau membuat kondisi yang sudah ada menjadi lebih berat.
Udara tercemar dapat membawa partikel halus dan berbagai polutan ke dalam saluran pernapasan. Pada penderita asma, saluran napas cenderung lebih sensitif terhadap paparan tersebut.
Polusi dapat memicu peradangan dan penyempitan saluran napas. Akibatnya, keluhan seperti batuk, sesak napas, dada terasa berat, atau napas berbunyi lebih mudah muncul.
Dampak paparan kabut asap juga tidak selalu sama pada setiap penderita asma. Karena itu, setiap orang perlu mengenali kondisi tubuh dan mengurangi paparan ketika kualitas udara menurun.
6 Kebiasaan yang Sebaiknya Dihindari
Melansir Klik Medika, ada sejumlah kebiasaan yang dapat meningkatkan paparan polutan atau memperburuk gangguan pernapasan saat kabut asap terjadi.
1. Tetap melakukan olahraga berat di luar ruangan
Jogging, bersepeda, dan olahraga dengan intensitas tinggi membuat frekuensi serta kedalaman napas meningkat. Kondisi tersebut dapat membuat tubuh menghirup lebih banyak udara tercemar.
Saat kualitas udara memburuk, pindahkan aktivitas fisik ke ruangan dengan kualitas udara lebih baik. Pilihan lainnya ialah mengurangi intensitas olahraga hingga kondisi udara membaik.
2. Keluar rumah tanpa memeriksa kualitas udara
Jangan menentukan keamanan udara hanya berdasarkan kondisi yang terlihat. Kabut asap yang tampak tipis belum tentu menunjukkan rendahnya konsentrasi partikel.
Sebelum beraktivitas di luar rumah, periksa informasi kualitas udara setempat. Langkah ini membantu menentukan apakah aktivitas luar ruangan masih aman dilakukan.
3. Mengabaikan gejala awal
Batuk yang semakin sering, dada terasa berat, napas berbunyi, dan sesak perlu mendapat perhatian. Jangan langsung menganggap keluhan tersebut sebagai efek biasa dari cuaca.
Dengan mengenali perubahan gejala sejak awal, penderita dapat segera mengambil langkah yang sesuai. Penanganan lebih awal juga dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.
4. Menghentikan obat asma tanpa arahan dokter
Penderita asma yang mendapat obat pengontrol atau obat pereda perlu menggunakannya sesuai petunjuk dokter. Jangan menghentikan pengobatan hanya karena gejala sudah membaik.
Perubahan dosis juga sebaiknya tidak dilakukan secara mandiri. Konsultasikan perubahan pengobatan dengan dokter yang menangani kondisi tersebut.
5. Merokok atau menghirup asap rokok
Asap rokok mengandung iritan yang dapat mengganggu saluran pernapasan. Paparan tersebut semakin tidak menguntungkan ketika udara luar sudah tercemar kabut asap.
Karena itu, hindari merokok dan jauhi lingkungan yang banyak mengandung asap rokok. Upaya ini juga membantu mengurangi sumber iritan tambahan di sekitar penderita.
6. Membakar sampah di rumah
Menutup rumah untuk mengurangi masuknya kabut asap tidak akan banyak membantu jika terdapat sumber polusi dari dalam ruangan. Membakar sampah, dupa, atau bahan lain dapat meningkatkan konsentrasi asap di dalam rumah.
Hindari aktivitas yang menghasilkan banyak asap. Pastikan pula kondisi rumah tetap mendukung kualitas udara yang lebih baik.
Cara Mengurangi Paparan Kabut Asap
Ketika kualitas udara memburuk, penderita asma sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Pilih ruangan dengan kualitas udara lebih baik dan singkirkan sumber polusi dari dalam rumah.
Jika harus keluar, gunakan perlindungan pernapasan yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel. Namun, penggunaan perlindungan tersebut tidak berarti aktivitas fisik berat di luar ruangan menjadi aman saat polusi sangat tinggi.
Obat asma juga perlu tetap tersedia sesuai rencana penanganan dari dokter. Jangan menunggu gejala memburuk sebelum memastikan obat yang diresepkan tersedia.
Apakah Air Purifier Membantu?
Air purifier dengan filter yang sesuai dapat membantu mengurangi partikel di udara dalam ruangan. Perangkat tersebut sebaiknya dipilih berdasarkan ukuran ruangan dan dirawat sesuai petunjuk.
Penggantian atau pembersihan filter secara berkala juga penting agar perangkat dapat bekerja sebagaimana mestinya. Meski demikian, air purifier bukan pengganti obat asma.
Perangkat tersebut juga tidak menghilangkan kebutuhan untuk mengurangi sumber polusi. Mengendalikan paparan tetap menjadi langkah penting ketika kualitas udara memburuk.
Kenali Tanda Serangan Asma Berat
Penderita asma perlu segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas berat. Kesulitan berbicara karena kehabisan napas juga menjadi tanda yang perlu mendapat perhatian segera.
Bibir atau wajah yang tampak kebiruan, rasa sangat lemas, serta gejala yang tidak membaik setelah penggunaan obat pereda sesuai resep juga perlu diwaspadai.
Gejala tersebut dapat menunjukkan serangan asma berat. Kondisi seperti ini membutuhkan penanganan medis segera dan tidak sebaiknya ditunda. (*)






