Jakarta, Javanusa—Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai berdampak pada sejumlah wilayah di Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta warga membatasi aktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Gunung Anak Krakatau saat ini berstatus Siaga atau Level III. Erupsi berlangsung terus-menerus sejak Jumat (4/9/2026). Sementara arah angin turut membawa abu vulkanik ke sejumlah wilayah di sekitarnya.
Menkes Budi mengatakan paparan abu dalam intensitas tinggi dapat memicu berbagai gangguan kesehatan akut. Dampaknya antara lain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan masalah pada kulit.
“Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap di dalam rumah. Namun, jika harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker dan kacamata,” ujar Budi dalam konferensi pers Situasi dan Kondisi Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau secara daring, Minggu (6/9/2026).
Anak-anak dan Lansia Lebih Rentan
Menkes mengingatkan kelompok tertentu memiliki risiko lebih besar saat terpapar abu vulkanik. Kelompok tersebut mencakup anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis.
Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu mengurangi paparan langsung. Warga juga sebaiknya menggunakan perlindungan yang memadai jika harus melakukan aktivitas di luar ruangan.
Selain saluran pernapasan, abu vulkanik juga dapat mengganggu mata dan kulit. Budi meminta masyarakat tidak melakukan tindakan yang justru dapat memperparah iritasi.
“Kalau debu sudah masuk ke mata, jangan dikucek. Bersihkan dengan air dan bila perlu gunakan obat tetes mata. Semua puskesmas sudah kita siapkan untuk menangani kondisi tersebut,” tegas Budi.
Setelah kembali dari luar rumah, warga juga dianjurkan segera membersihkan tubuh dan pakaian. Menurut Budi, partikel abu vulkanik memiliki sifat tajam sehingga dapat menimbulkan iritasi.
Layanan Kesehatan Disiagakan 24 Jam
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengambil sejumlah langkah untuk menghadapi potensi peningkatan kasus kesehatan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kemenkes mengaktifkan Health Emergency Operating Center (HEOC) mulai tingkat pusat hingga kabupaten/kota terdampak. Dinas Kesehatan di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat juga mendapat instruksi untuk menyiagakan puskesmas serta rumah sakit selama 24 jam.
Kesiapsiagaan tersebut bertujuan mempercepat penanganan jika jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan meningkat. Fasilitas pelayanan kesehatan juga disiapkan untuk menangani keluhan akibat paparan abu vulkanik.
Kemenkes Pastikan Logistik Medis Tersedia
Selain memperkuat layanan kesehatan, Kemenkes memastikan distribusi kebutuhan medis tetap berjalan ke wilayah terdampak.
Logistik yang disiapkan mencakup masker medis dan N95, tabung oksigen serta konsentrator. Pemerintah juga menyalurkan nebulizer dan obat-obatan untuk menangani ISPA.
Kebutuhan medis untuk gangguan pada mata dan kulit turut disiapkan. Pasokannya mencakup obat tetes mata serta salep untuk menangani keluhan akibat paparan abu vulkanik.
Koordinasi Pemantauan Sebaran Abu
Kemenkes terus memperbarui koordinasi dengan sejumlah lembaga untuk memantau perkembangan erupsi. Koordinasi melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Kerja sama tersebut mencakup pembaruan informasi mengenai sebaran abu vulkanik dan kesiapan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak.
Menkes Budi juga meminta masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta menggunakan sumber resmi pemerintah sebagai rujukan selama kondisi erupsi berlangsung.
“Sekali lagi, jangan panik. Tetap di rumah apabila tidak ada keperluan untuk keluar, gunakan masker dan lindungi mata. Jika mengalami keluhan, segera datang ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” pungkas Budi. (*)






