Apakah Pembalut Bisa Kedaluwarsa? Kenali Tanda-Tanda dan Risiko Menggunakannya

Penulis -

Kamis, 2 Juli 2026 - 17:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pembalut wanita. (Foto: AI Generate)

Ilustrasi pembalut wanita. (Foto: AI Generate)

Javanusa.com—Banyak perempuan belum menyadari bahwa pembalut memiliki masa simpan dan dapat kedaluwarsa.

Menggunakan pembalut yang sudah melewati masa layak pakai berisiko memicu iritasi, infeksi, hingga gangguan kesehatan yang lebih serius jika kualitas produk telah menurun.

Pembalut sekali pakai bukan hanya produk kebersihan, tetapi juga memiliki batas masa penggunaan seperti produk kemasan lainnya.

Setelah melewati masa kedaluwarsa, kualitas bahan dapat menurun sehingga produk tidak lagi aman digunakan saat menstruasi.

Karena itu, sebaiknya hindari memakai pembalut yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa. Selain memeriksa tanggal pada kemasan, pastikan kondisi fisik pembalut tetap baik dan kemasannya masih utuh sebelum digunakan.

Hal yang sama juga berlaku pada tampon. Produk penyerap darah menstruasi tersebut memiliki masa simpan yang relatif panjang, umumnya sekitar lima tahun sejak tanggal produksi. Namun, kualitas tampon tetap dipengaruhi oleh cara penyimpanannya.

Cara Mengetahui Pembalut Sudah Kedaluwarsa

Cara paling mudah memastikan masa pakai pembalut adalah dengan melihat tanggal kedaluwarsa atau expired date (EXP) pada kemasan.

Namun, tidak semua produsen mencantumkan informasi tersebut. Jika hanya tersedia tanggal produksi atau manufacturing date (MFD), Anda masih bisa memperkirakan masa simpannya.

Mengacu pada informasi UNICEF, pembalut umumnya memiliki umur simpan minimal tiga tahun sejak tanggal produksi. Jika sudah melewati periode tersebut, sebaiknya produk tidak lagi digunakan.

Selain memperhatikan tanggal, periksa juga kondisi fisik pembalut. Produk yang masih layak pakai umumnya berwarna putih bersih, tidak berbau, serta bebas dari debu maupun kotoran.

Segera buang pembalut apabila menunjukkan salah satu tanda berikut:

    • Warna berubah.
    • Mengeluarkan bau tidak sedap.
    • Permukaan rusak.
    • Terlihat kotor atau berdebu.
    • Kemasan robek atau terbuka.
    • Terasa lembap atau basah.
Baca Juga :  BGN Wajibkan SPPG Tambah Penerima Manfaat 3B dalam Dua Pekan

Kondisi tersebut menunjukkan kualitas pembalut telah menurun sehingga berpotensi membahayakan kesehatan.

Risiko Menggunakan Pembalut Kedaluwarsa

Menggunakan pembalut yang sudah tidak layak pakai dapat meningkatkan risiko gangguan pada area kewanitaan. Berikut beberapa dampaknya.

1. Memicu iritasi kulit

Kulit pada vulva dan vagina sangat sensitif terhadap gesekan maupun paparan bahan yang sudah mengalami penurunan kualitas. Pembalut kedaluwarsa dapat menyebabkan rasa gatal, perih, hingga sensasi terbakar pada area tersebut.

2. Meningkatkan risiko infeksi

Pembalut yang disimpan terlalu lama atau melewati masa simpan berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri maupun jamur. Jika digunakan, kondisi ini dapat memicu infeksi pada vagina.

3. Berisiko menyebabkan toxic shock syndrome

Walau tergolong jarang, penggunaan produk menstruasi yang sudah kedaluwarsa juga dapat meningkatkan risiko toxic shock syndrome (TSS) akibat pertumbuhan bakteri tertentu. Risiko ini lebih sering dikaitkan dengan penggunaan tampon yang telah melewati masa layak pakainya.

Cara Menyimpan Pembalut agar Tetap Aman Digunakan

Penyimpanan yang benar membantu menjaga kualitas pembalut hingga masa simpannya berakhir.

Simpan pembalut di tempat yang bersih, kering, dan sejuk. Hindari lokasi yang lembap atau terkena panas langsung karena dapat mempercepat pertumbuhan jamur dan menurunkan kualitas produk.

Selain itu, biarkan pembalut tetap berada dalam kemasan aslinya hingga akan digunakan. Kemasan yang rusak atau terbuka memudahkan debu, kotoran, maupun mikroorganisme masuk ke dalam produk.

Sebelum memakai pembalut, biasakan memeriksa tanggal kedaluwarsa dan kondisi fisiknya, terutama jika produk telah disimpan dalam waktu lama.

Selama menstruasi, menjaga kebersihan serta memastikan area kewanitaan tetap kering juga menjadi langkah penting untuk mencegah infeksi. (*/red)

Berita Terkait

Benarkah Kacang Tanah Pemicu Asam Urat? Cek Fakta dan Porsi Amannya
Bintik Kasar Seperti Kulit Ayam di Lengan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Sering Kurang Tidur? Kenali Gejala, Dampak Kesehatan dan Cara Mengatasinya
7 Pilihan Lauk untuk Penderita Darah Tinggi, Sehat dan Mudah Diolah
Anak Makan Banyak tapi Tetap Kurus? Kenali 7 Penyebab dan Cara Mengatasinya
Benarkah Nanas Bisa Meredakan Batuk? Ini Penjelasan dan Faktanya
7 Cara Alami Meredakan Ambeien Tanpa Obat, Efektif Kurangi Nyeri dan Bengkak
7 Minuman yang Bisa Membantu Menurunkan Kolesterol, dari Teh Hijau hingga Susu Kedelai

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:20 WIB

MUI Sesalkan Konser Andrea Bocelli Tetap Digelar, Minta Pemerintah Tinjau Ulang Izin

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:31 WIB

Erick Yusuf: Film Buya Hamka Jadi Tuntunan di Tengah Krisis Keteladanan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:44 WIB

Sinopsis Film Laut Bercerita dan The Doll Ghawiah, Dua Film Lokal Terbaru Tayang Hari Ini!

Rabu, 28 Oktober 2026 - 22:12 WIB

Bunga Nafisa dan Deandra Nadira Rilis Single Dar Der Dor Ser, Usung Musik Endikup

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Lewat Merayu Waktu, Eltasya Angkat Kisah Sulit Melepaskan Masa Lalu

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Gandeng LDR Team, Lindee Cremona Rilis Single Dewasaku Membanggakanmu

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:11 WIB

Ruth Garcia Rilis Lagu Salahkah, Ungkap Pergulatan Batin Usai Dikhianati

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:05 WIB

AI Mampu Bikin Film, Nezar Patria Soroti Tantangan Baru Sensor Film

Berita Terbaru