Javanusa.com—Munculnya jerawat setelah mengonsumsi telur membuat sebagian orang menduga makanan tersebut menjadi penyebabnya. Namun, hubungan telur dan jerawat ternyata tidak sesederhana itu.
Jerawat terjadi ketika folikel rambut mengalami penyumbatan akibat penumpukan minyak dan sel kulit mati. Kondisi tersebut kemudian dapat berkembang menjadi peradangan pada kulit.
Lantas, apakah telur memang dapat menyebabkan jerawat?
Dikutip dari Halodoc, hingga kini, belum terdapat bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa konsumsi telur secara langsung menyebabkan jerawat pada semua orang.
Meski demikian, sejumlah kandungan dalam telur berpotensi memengaruhi kondisi kulit pada orang tertentu. Efek tersebut terutama dapat muncul pada individu yang memiliki sensitivitas terhadap komponen tertentu.
Salah satu kandungan yang menjadi perhatian adalah yodium atau iodine, terutama pada bagian kuning telur. Asupan yodium yang berlebihan dapat berkontribusi terhadap peradangan pada folikel rambut.
Kondisi itu berpotensi mempercepat munculnya lesi jerawat pada individu yang rentan. Karena itu, reaksi setiap orang terhadap makanan tidak selalu sama.
Alergi Telur Juga Bisa Memperburuk Peradangan
Selain kandungan telur, faktor alergi juga perlu mendapat perhatian. Orang yang memiliki alergi terhadap protein telur dapat mengalami respons imun setelah mengonsumsinya.
Respons tersebut melibatkan pelepasan berbagai mediator inflamasi. Pada individu tertentu, proses ini dapat memperburuk kondisi peradangan kulit yang sudah ada.
Telur juga mengandung progesteron alami. Konsumsi dalam jumlah sangat banyak disebut berpotensi memengaruhi keseimbangan hormonal tubuh.
Namun, hal tersebut tidak berarti setiap orang yang mengonsumsi telur akan mengalami jerawat. Faktor hormonal, kondisi kulit, pola makan, dan sensitivitas individu juga ikut berperan.
Telur Tetap Memiliki Nilai Gizi
Di sisi lain, telur merupakan sumber protein yang penting bagi tubuh. Makanan ini juga menyediakan sejumlah zat gizi, termasuk vitamin A dan biotin.
Karena itu, seseorang tidak perlu langsung menghindari telur hanya karena memiliki jerawat. Pengurangan konsumsi lebih tepat dipertimbangkan jika terdapat pola reaksi kulit yang konsisten setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Jika jerawat meradang muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu, perawatan kulit yang tepat dapat membantu mengendalikan kondisinya. Produk atau obat jerawat topikal juga dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi kulit.
Cara Mengurangi Risiko Jerawat dari Pola Makan
Mengamati hubungan antara makanan dan kondisi kulit dapat membantu menemukan faktor pemicu. Salah satu caranya dengan mencatat perubahan kulit setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Jika telur terbukti berkaitan dengan munculnya komedo atau jerawat baru, pertimbangkan untuk mengurangi porsinya. Langkah tersebut dapat dilakukan sambil tetap menjaga kecukupan nutrisi dari sumber makanan lainnya.
Pola makan seimbang juga penting. Perbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan, dan makanan kaya serat untuk mendukung asupan nutrisi harian.
Selain pola makan, perawatan kulit sehari-hari tetap berperan. Bersihkan wajah dua kali sehari menggunakan pembersih yang lembut dan sesuai dengan kondisi kulit.
Asupan air yang cukup juga penting untuk menjaga kebutuhan cairan tubuh. Namun, air putih bukan pengganti pola makan sehat atau terapi khusus untuk mengatasi jerawat. (*)






