Javanusa.com—Benjolan di belakang telinga tidak selalu menandakan penyakit serius. Namun, rasa nyeri, kemerahan, demam, atau pembengkakan yang terus membesar perlu mendapat perhatian.
Kondisi tersebut dapat muncul akibat infeksi, pembengkakan kelenjar getah bening, kista, lipoma, hingga gangguan pada telinga. Karena setiap penyebab membutuhkan penanganan berbeda, pemeriksaan medis dapat membantu memastikan sumber benjolan.
Benjolan di Belakang Telinga dan Gejalanya
Ukuran benjolan dapat berbeda pada setiap orang. Letaknya juga tidak selalu tepat di belakang telinga, tetapi dapat muncul di bawah daun telinga atau jaringan di sekitarnya.
Selain benjolan, sejumlah gejala dapat menyertai kondisi tersebut. Keluhan yang muncul bergantung pada penyebabnya. Dikutip dari Halodoc, berikut beberapa tanda yang umum antara lain:
-
- Nyeri atau rasa tidak nyaman pada area benjolan.
- Kulit sekitar benjolan tampak merah atau mengalami peradangan.
- Benjolan terasa lunak atau keras ketika disentuh.
- Benjolan dapat bergerak atau terasa berada di bawah permukaan kulit.
- Demam, terutama ketika penyebabnya berkaitan dengan infeksi.
- Pembengkakan kelenjar getah bening di bagian tubuh lain, seperti leher atau ketiak.
8 Penyebab Benjolan di Belakang Telinga
Berbagai kondisi dapat memicu munculnya benjolan di belakang telinga. Sebagian bersifat ringan, tetapi beberapa kondisi membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan dokter.
Berikut sejumlah penyebab yang perlu diketahui.
1. Infeksi
Infeksi akibat bakteri maupun virus dapat menyebabkan pembengkakan di belakang telinga. Kondisi ini dapat terjadi pada anak maupun orang dewasa.
Beberapa penyakit infeksi yang dapat memicu pembengkakan kelenjar antara lain infeksi streptokokus, mononukleosis akibat virus Epstein-Barr, campak, dan cacar air.
Infeksi HIV dan AIDS juga dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening.
2. Abses atau bisul bernanah
Abses merupakan benjolan berisi nanah akibat infeksi. Kondisi ini dapat muncul di belakang telinga pada bayi maupun orang dewasa.
Area tersebut biasanya terasa nyeri dan hangat. Kulit di sekitar benjolan juga dapat berubah menjadi merah karena respons tubuh terhadap infeksi.
3. Limfadenopati
Limfadenopati terjadi ketika kelenjar getah bening mengalami pembesaran. Infeksi menjadi salah satu penyebab yang sering memicu kondisi tersebut.
Benjolan dapat terasa sakit dan kulit di sekitarnya tampak merah atau hangat. Keluhan lain dapat berupa pilek, batuk, sakit tenggorokan, demam, tubuh lemas, hingga keringat berlebihan pada malam hari.
4. Kista sebasea
Kista sebasea berkaitan dengan penyumbatan kelenjar minyak. Benjolan dapat terasa cukup keras dan muncul di sekitar belakang telinga.
Pada umumnya, kista tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, ukurannya yang semakin besar dapat menyebabkan rasa tidak nyaman.
5. Lipoma
Lipoma merupakan benjolan yang terbentuk dari jaringan lemak. Kondisi ini termasuk jinak dan biasanya tidak menyebabkan nyeri.
Meski demikian, lipoma dapat mengganggu ketika ukurannya bertambah atau berada pada lokasi yang menimbulkan tekanan.
6. Mastoiditis
Mastoiditis merupakan infeksi pada tulang mastoid yang berada di belakang telinga. Kondisi ini dapat menimbulkan benjolan yang terasa sakit ketika ditekan.
Gejala lain dapat berupa demam tinggi, keluarnya cairan dari telinga, peradangan di sekitar telinga, serta sakit kepala yang berlangsung terus-menerus.
7. Otitis media
Infeksi telinga tengah atau otitis media juga dapat berkaitan dengan munculnya pembengkakan di belakang telinga.
Kondisi ini dapat dialami anak maupun orang dewasa. Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, infeksi telinga tengah dapat menyebabkan komplikasi, termasuk kerusakan atau lubang pada gendang telinga.
8. Jerawat
Jerawat di sekitar telinga dapat muncul ketika pori-pori tersumbat oleh minyak dan kotoran. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan benjolan kecil yang terasa nyeri.
Menjaga kebersihan kulit dapat membantu mengurangi risiko jerawat di area tersebut.
Cara Mengatasi Benjolan di Belakang Telinga
Penanganan benjolan bergantung pada penyebabnya. Karena itu, dokter perlu menentukan diagnosis sebelum memilih metode pengobatan.
Jika benjolan tidak menunjukkan tanda berbahaya, dokter dapat menyarankan pemantauan tanpa tindakan khusus. Sementara itu, infeksi tertentu mungkin membutuhkan antibiotik atau obat antiinflamasi sesuai hasil pemeriksaan.
Dokter juga dapat mempertimbangkan tindakan operasi untuk mengangkat benjolan tertentu. Jika pemeriksaan menemukan kanker, pasien dapat menjalani terapi sesuai jenis dan stadium penyakit, termasuk kemoterapi atau radioterapi.
Perawatan Rumahan untuk Meredakan Keluhan
Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman. Kompres hangat, misalnya, dapat membantu meredakan peradangan dan memberikan rasa nyaman.
Bahan seperti bawang putih, kunyit, jahe, madu, atau propolis juga sering digunakan sebagai pengobatan tradisional. Namun, bahan tersebut tidak boleh menggantikan terapi medis, terutama jika benjolan berkaitan dengan infeksi atau penyakit tertentu.
Sebelum menggunakan obat maupun bahan herbal untuk mengatasi benjolan di belakang telinga, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan terapi yang sesuai. (*)






