Javanusa.com—Menentukan waktu terbaik untuk menikah tidak cukup hanya berdasarkan perasaan atau tekanan sosial.
Sejumlah penelitian dan pendapat pakar menunjukkan bahwa usia tertentu dinilai lebih ideal karena berkaitan dengan kematangan emosional, kesiapan finansial, hingga peluang membangun rumah tangga yang lebih stabil.
Perdebatan mengenai usia ideal menikah terus menjadi perhatian banyak orang. Selain dipengaruhi budaya dan harapan keluarga, keputusan menikah juga kini banyak dikaji melalui penelitian ilmiah dan pandangan para profesional.
Mengutip ulasan YourTango, sejumlah ahli menilai akhir usia 20-an hingga awal 30-an merupakan fase yang paling menjanjikan untuk memasuki kehidupan pernikahan. Pada periode tersebut, seseorang umumnya telah memiliki kematangan emosional, pengalaman hubungan, serta arah karier yang lebih jelas.
Terapis pernikahan Nicole Cullins menyebut usia 28 tahun sebagai waktu yang ideal bagi perempuan di Amerika Serikat.
“Pada usia 28 tahun, calon pengantin saya menunjukkan kesadaran diri dan kepercayaan diri dalam memilih pasangan mereka,” kata Cullins.
Menurutnya, perempuan pada usia tersebut biasanya telah mengenali jati diri, memahami kualitas pasangan yang diharapkan, serta belajar dari pengalaman hubungan sebelumnya. Kondisi itu dinilai membantu mereka mengambil keputusan menikah dengan lebih matang.
Algoritma Sebut Usia 26 Tahun sebagai Angka Ideal
Selain pandangan para ahli, pendekatan matematika juga memberikan perspektif berbeda mengenai waktu terbaik untuk menikah.
Dalam buku Algorithms to Live By: The Computer Science of Human Decisions, jurnalis Brian Christian dan ilmuwan kognitif Tom Griffiths memperkenalkan konsep aturan 37 persen (37 percent rule).
Prinsip tersebut menyatakan bahwa seseorang cenderung membuat keputusan terbaik setelah mengevaluasi sekitar 37 persen dari seluruh pilihan yang tersedia. Dengan kata lain, seseorang tidak disarankan mengambil keputusan terlalu cepat, tetapi juga tidak menunggu hingga seluruh pilihan habis.
Jika konsep itu diterapkan pada pencarian pasangan dalam rentang usia 18 hingga 40 tahun, hasil perhitungannya mengarah pada usia 26 tahun. Pada fase tersebut, seseorang dianggap telah memiliki cukup pengalaman untuk menentukan pasangan hidup tanpa terlalu banyak keraguan.
Akhir Usia 20-an hingga Awal 30-an Dinilai Paling Ideal
Meski algoritma menghasilkan angka 26 tahun, sebagian besar pakar justru lebih sepakat bahwa akhir usia 20-an hingga awal 30-an merupakan waktu terbaik untuk menikah.
Psikolog Wyatt Fisher menilai rentang usia tersebut ideal karena kebanyakan orang telah menyelesaikan pendidikan dan mulai membangun karier.
Pandangan serupa disampaikan Pekerja Sosial Klinis Kelsey Torgerson. Ia menekankan pentingnya menunggu hingga perkembangan otak mencapai kematangan penuh, yang umumnya terjadi setelah usia 25 tahun, sebelum memutuskan mencari pasangan hidup.
Nicole Cullins juga memberikan rekomendasi berbeda bagi laki-laki. Menurutnya, usia 32 tahun menjadi waktu yang lebih tepat untuk menikah.
“Menunggu hingga usia 32 memberi pria kesempatan untuk mapan dalam karier dan berpotensi mengejar kemajuan profesional sebelum menikah,” jelasnya.
Cullins menambahkan bahwa pria pada usia tersebut umumnya memiliki pengalaman sosial yang lebih luas. Mereka juga dinilai lebih siap membahas rencana memiliki anak serta memahami tanggung jawab dalam pengasuhan bersama, sehingga dapat mendukung kualitas hubungan jangka panjang.
Data Perceraian Tunjukkan Pola Berdasarkan Usia Menikah
Data di Amerika Serikat juga memperlihatkan adanya hubungan antara usia saat menikah dengan risiko perceraian.
Rata-rata usia pernikahan pertama di negara tersebut berada pada 28 tahun untuk perempuan dan 30 tahun untuk laki-laki. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan usia 26 tahun yang dihasilkan melalui aturan 37 persen.
Penelitian pada 2015 menunjukkan bahwa perempuan yang menikah sebelum usia 26 tahun memiliki peluang perceraian lebih tinggi. Risiko itu bahkan meningkat signifikan pada pasangan yang menikah saat berusia 15 hingga 20 tahun.
Namun, menunda pernikahan terlalu lama juga bukan berarti bebas dari tantangan. Perempuan yang menikah setelah usia 45 tahun juga menghadapi sejumlah persoalan dalam kehidupan rumah tangga.
Temuan sosiolog Nick Wolfinger dari University of Utah menyebut peluang perceraian paling rendah terjadi pada pasangan yang menikah pada rentang usia 28 hingga 32 tahun. Terutama selama lima tahun pertama pernikahan.
Wolfinger juga menemukan bahwa risiko perceraian terus menurun sejak masa remaja hingga akhir usia 20-an dan awal 30-an. Setelah melewati usia sekitar 32 tahun, peluang perceraian kembali meningkat sekitar 5 persen setiap tahun, terutama menjelang akhir usia 30-an hingga awal 40-an. (*/red)






