Jakarta, Javanusa—Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat sinergi antar Politeknik Pariwisata (Poltekpar). Langkah ini untuk mencetak SDM pariwisata unggul dan berdaya saing.
Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar, Martini M. Paham, menyampaikan hal itu melalui Rapat Koordinasi Poltekpar di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Rapat berlangsung daring dan luring di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat. Agenda berlangsung pada 8–10 April 2026.
Ia menjelaskan rapat ini menjadi langkah strategis. Tujuannya memperkuat sinergi pembangunan SDM antar Poltekpar.
“Rapat ini memastikan rekomendasi strategis berjalan terarah dan terukur. Periode 2025–2029 menjadi momentum menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Martini.
Peran Strategis Poltekpar
Dalam konteks tersebut, Poltekpar memegang peran strategis. Lembaga ini menjadi lokomotif pendidikan vokasi pariwisata. Perannya mencakup inovasi, inklusivitas, dan daya saing global.
“Penguatan SDM pariwisata harus secara komprehensif. Caranya melalui penyelarasan kebijakan, tata kelola adaptif, serta peningkatan kualitas pendidikan,” kata Diah.
Ia menambahkan penguatan melalui penyelarasan kebijakan dengan kebutuhan industri. Perkuat tata kelola agar lebih lincah. Perencanaan, penelitian, dan pengabdian dikembangkan agar aplikatif dan berdampak nyata.
SDM juga menjadi kunci dalam optimalisasi kebijakan karier dosen. Pembentukan task force dan percepatan profesionalisme tenaga pendidik turut didorong.
“Kolaborasi perlu kita perluas. Sinergi antara pendidikan, industri, dan ekonomi harus diperkuat. Rapat ini kita harapkan melahirkan langkah konkret dan terukur,” ujarnya.
Fokus Hari Pertama
Pada hari pertama, pembahasan fokus pada penguatan kelembagaan pendidikan vokasi. Agenda juga mencakup penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Poltekpar dan penataan organisasi serta tata kelola.
Fokus utama pada revitalisasi pendidikan vokasi. Pendekatan job matching digunakan untuk menyesuaikan kebutuhan industri. Kurikulum berbasis industri juga diperkuat.
“Pendidikan vokasi harus menjawab kebutuhan dunia kerja. Keterkaitan lulusan dengan industri menjadi kunci,” ujar Diah.
Kerja Sama Internasional
Memasuki hari kedua, pembahasan mengarah pada kerja sama internasional dan pengembangan kurikulum berbasis industri. Kemenpar menggandeng Swisscontact.
Program Sustainable Tourism Education Development (STED) sudah berjakan sejak 2018. Program ini diperluas di berbagai Poltekpar. Fokusnya pada Industry-Based Curriculum (IBC) dan structured internship.
Program juga mendorong peningkatan kualitas pengajaran. Metode SVEB dan project-based learning diterapkan. Dampaknya mulai terlihat pada peningkatan kompetensi lulusan.
Regulasi dan Karier Dosen
Pada hari ketiga, agenda diawali sosialisasi Permendikti Saintek Nomor 52 Tahun 2025. Regulasi ini mengatur profesi, karier, dan penghasilan dosen.
Aturan tersebut menekankan penguatan kompetensi dan kinerja dosen. Sistem karier disusun lebih terstruktur. Peran dosen dalam tridharma diperkuat secara kolaboratif.
Mekanisme sertifikasi, promosi, dan tunjangan berbasis kinerja juga dibahas. Tantangan masih muncul pada integrasi penilaian kinerja dan beban kerja.
Diah menyebut rapat juga membahas pembentukan task force percepatan karier dosen. Langkah ini untuk mendorong peningkatan jabatan akademik secara sistematis.
Dorong Kewirausahaan Pariwisata
Kemenpar juga membahas rencana kerja sama dengan Kementerian UMKM. Fokusnya pada pengembangan kewirausahaan pariwisata.
Poltekpar didorong menjadi hub kewirausahaan. Skema co-incubation, living lab, dan business matching akan diterapkan. Tujuannya melahirkan wirausaha inovatif dan berdaya saing.
Rapat koordinasi ini menghadirkan narasumber lintas sektor. Hadir perwakilan Kemendiktisaintek, Bappenas, Kementerian PANRB, dan Kementerian UMKM. Akademisi Universitas Gadjah Mada dan Swisscontact Indonesia juga terlibat. (*/red)






