Jakarta, Javanusa—Indonesia resmi menjadi tuan rumah Sekretariat Regional ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Tourism Professionals (ASEAN MRA-TP).
Kehadiran sekretariat ini diharapkan memperkuat kompetensi, pengakuan kualifikasi, dan mobilitas tenaga profesional pariwisata di Asia Tenggara.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Host Country Agreement (HCA) oleh Sekretaris Kementerian Pariwisata Bayu Aji dan Executive Director ASEAN MRA-TP Regional Secretariat Citra Handayani Nasruddin. Penandatanganan berlangsung di Kantor Sekretariat ASEAN, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Sekretariat Regional ASEAN MRA-TP akan mendukung koordinasi antarnegara anggota ASEAN dalam mengembangkan standar kompetensi tenaga kerja pariwisata. Lembaga ini juga diharapkan menjadi pusat berbagi praktik terbaik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata di kawasan.
Indonesia Perkuat Kerja Sama SDM Pariwisata ASEAN
Sekretaris Kementerian Pariwisata Bayu Aji mengapresiasi dukungan dan pendampingan Sekretariat ASEAN selama proses persiapan operasionalisasi sekretariat regional tersebut.
Menurut Bayu, penandatanganan HCA menjadi landasan penting untuk memulai kegiatan sekretariat. Lembaga ini diharapkan berkembang menjadi pusat keunggulan atau center of excellence dalam pengembangan kompetensi profesional pariwisata.
“Kehadiran Sekretariat Regional di Indonesia diharapkan dapat mendorong peningkatan kompetensi, mobilitas, serta daya saing SDM pariwisata di kawasan Asia Tenggara,” ujar Bayu.
Sementara itu, Asisten Deputi Hubungan Antarlembaga Internasional Kementerian Pariwisata Zulkifli Harahap menilai HCA memberikan dasar hukum bagi Sekretariat Regional ASEAN MRA-TP sebagai organisasi regional.
Ia juga menyebut penandatanganan tersebut sebagai tonggak penting dalam pelaksanaan kesepakatan pengakuan kualifikasi tenaga profesional pariwisata di ASEAN.
“Kolaborasi ini diharapkan dapat terus tumbuh, berkontribusi pada pengembangan ASEAN MRA-TP lebih lanjut, meningkatkan kualitas tenaga kerja pariwisata, dan meningkatkan penerapan pariwisata berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara,” kata Zulkifli.
Perjalanan ASEAN MRA-TP Sejak 2012
ASEAN MRA-TP merupakan kerangka kerja bersama negara-negara anggota ASEAN untuk membangun tenaga profesional pariwisata yang terampil, kompeten, dan terlatih. Kesepakatan ini juga bertujuan memfasilitasi pengakuan kualifikasi serta mobilitas tenaga kerja pariwisata antarnegara di Asia Tenggara.
Seluruh Menteri Pariwisata ASEAN menandatangani ASEAN MRA-TP di Bangkok, Thailand, pada 9 November 2012. Kesepakatan tersebut kemudian mendorong pembentukan sekretariat regional untuk memperkuat koordinasi dan mendukung implementasi program secara efektif.
Indonesia resmi ditetapkan sebagai negara tuan rumah sekretariat pada 30 Desember 2015. Namun, realisasi operasionalisasinya membutuhkan waktu lebih dari satu dekade.
Pandemi COVID-19 turut memperlambat proses tersebut. Negara-negara anggota ASEAN saat itu memprioritaskan penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi sehingga sejumlah pembahasan harus tertunda.
Komitmen untuk mengoperasikan sekretariat kembali menguat dalam Pertemuan ke-60 ASEAN National Tourism Organisations (NTOs) pada 2024. Dalam forum tersebut, Indonesia menyatakan kesiapan menyediakan fasilitas dan dukungan operasional melalui kontribusi nonfinansial (in-kind contribution) untuk tahap awal periode 2026–2028.
Fokus pada Kompetensi dan Mobilitas Tenaga Kerja
Keberadaan Sekretariat Regional ASEAN MRA-TP di Indonesia diharapkan memperluas kerja sama antarnegara anggota dan Badan Profesional Pariwisata Nasional. Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan kompetensi, pengakuan kualifikasi, serta mobilitas tenaga profesional di industri pariwisata.
Sekretariat ini juga memiliki peran penting dalam mempersiapkan tenaga kerja menghadapi transformasi digital dan perubahan kebutuhan wisatawan. Perkembangan industri pariwisata menuntut tenaga profesional menguasai keterampilan baru agar tetap relevan dan kompetitif.
Selain itu, sekretariat akan mendukung Komite Model Profesional Pariwisata ASEAN dalam meningkatkan kapasitas dan menyebarluaskan praktik terbaik. Upaya tersebut juga menyasar tenaga profesional, pemberi kerja, serta lembaga pendidikan dan pelatihan agar memahami peluang yang tersedia melalui ASEAN MRA-TP.
Dukungan seluruh negara anggota dan pemangku kepentingan menjadi faktor penting bagi keberhasilan sekretariat. Kolaborasi yang berkelanjutan diharapkan meningkatkan kualitas tenaga kerja sekaligus memperkuat daya saing industri pariwisata ASEAN.
Pariwisata ASEAN Menopang 46 Juta Lapangan Kerja
Mewakili Sekretaris Jenderal ASEAN Dr. Kao Kim Hourn, Deputy Secretary-General of ASEAN for Community and Corporate Affairs Nararya S. Soeprapto menegaskan pentingnya tenaga kerja terampil bagi keberlanjutan sektor pariwisata.
Pada 2025, ASEAN mencatat sekitar 147 juta kunjungan wisatawan internasional. Perjalanan intra-ASEAN menyumbang hampir 42 persen dari total kedatangan tersebut.
Sektor pariwisata juga berkontribusi sekitar 414 miliar dolar AS atau 9,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ASEAN. Industri ini turut menopang sekitar 46 juta lapangan kerja di kawasan.
Nararya menilai kualitas tenaga kerja menjadi salah satu fondasi utama untuk membangun industri pariwisata yang kompetitif, berkelanjutan, dan tangguh.
“Setiap perjalanan melibatkan orang-orang, mulai dari resepsionis yang menyambut wisatawan, koki yang berbagi warisan kuliner, pengemudi, porter, dan lainnya. Itulah mengapa tenaga kerja pariwisata yang terampil, profesional, dan terlatih merupakan fondasi sektor pariwisata yang kompetitif, berkelanjutan, dan tangguh. ASEAN MRA-TP diciptakan untuk memperkuat fondasi tersebut,” kata Nararya.
Sekretariat Siap Lanjutkan Fondasi Kerja Sama ASEAN
Executive Director ASEAN MRA-TP Regional Secretariat Citra Handayani Nasruddin mengapresiasi kepercayaan Pemerintah Indonesia yang bersedia menjadi tuan rumah sekretariat regional.
Citra menegaskan bahwa sekretariat tidak memulai pekerjaan dari nol. Lembaga tersebut akan melanjutkan dan mengembangkan fondasi yang telah dibangun negara-negara anggota ASEAN, Sekretariat ASEAN, serta berbagai lembaga nasional selama bertahun-tahun.
Ia berkomitmen membangun sekretariat yang praktis, responsif, dan berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, sekretariat diharapkan mampu menjawab kebutuhan negara anggota sekaligus mendukung pelaksanaan ASEAN MRA-TP secara nyata.
“Namun, ini bukan sesuatu yang dapat dicapai oleh sekretariat sendirian. MRA-TP merupakan upaya kolektif ASEAN. Oleh karena itu, kemajuan berkelanjutannya akan bergantung pada keterlibatan negara-negara anggota ASEAN, Sekretariat ASEAN, badan-badan profesional dan sertifikasi pariwisata nasional, industri, lembaga pendidikan dan pelatihan, serta mitra-mitra kami di seluruh kawasan dan sekitarnya,” ujar Citra.
Melalui operasionalisasi sekretariat regional, Indonesia diharapkan berperan lebih besar dalam memperkuat kerja sama pengembangan SDM pariwisata ASEAN. Kolaborasi lintas negara tersebut menjadi bagian penting untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kerja dan menjaga daya saing pariwisata Asia Tenggara di tengah perubahan industri global. (*)






