Padang, Javanusa—Investasi di Kota Padang pada awal 2026 menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat.
Sepanjang Triwulan I tahun ini, nilai realisasi investasi tercatat mencapai Rp643,6 miliar.
Capaian tersebut menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha di ibu kota Sumatra Barat itu.
Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Padang, total investasi yang masuk hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp643.629.798.126.
Dari jumlah itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih mendominasi dengan nilai sekitar Rp524 miliar. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang sekitar Rp119 miliar.
Sektor Jasa Jadi Penopang Utama Investasi
Kepala DPMPTSP Kota Padang, Fauzan Ibnovi, mengatakan investasi yang masuk ke Kota Padang saat ini masih didominasi sektor jasa dan layanan. Menurutnya, sektor tersebut menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi perkotaan.
“Kontribusi sektor tersier mencapai 96,24 persen dari total investasi yang masuk ke Kota Padang,” ujar Fauzan, Kamis (28/5/2026).
Sementara itu, sektor sekunder memberikan kontribusi sebesar 4,66 persen dan sektor primer hanya 0,11 persen.
Fauzan menjelaskan, aliran investasi terbesar berasal dari sektor konstruksi, transportasi, pergudangan, telekomunikasi, hotel, restoran, serta berbagai usaha jasa dan perdagangan lainnya.
Dominasi sektor jasa menunjukkan posisi Kota Padang yang semakin kuat sebagai pusat perdagangan dan layanan di Sumbar.
Selain itu, kondisi tersebut juga mencerminkan meningkatnya ketertarikan investor terhadap sektor penunjang pertumbuhan kawasan perkotaan.
Pertumbuhan Usaha Mikro Ikut Menguat
Tidak hanya investasi berskala besar, geliat ekonomi masyarakat juga terlihat dari pertumbuhan usaha mikro.
Hingga April 2026, DPMPTSP Kota Padang telah menerbitkan sebanyak 1.548 Nomor Induk Berusaha (NIB). Mayoritas NIB tersebut berasal dari usaha mikro perorangan dengan kategori risiko rendah.
Kecamatan Koto Tangah menjadi wilayah dengan jumlah penerbitan NIB terbanyak, yakni mencapai 392 NIB. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Kuranji sebanyak 232 NIB dan Kecamatan Lubuk Begalung dengan 156 NIB.
Jenis usaha yang paling banyak berkembang masih didominasi perdagangan eceran tradisional dan usaha kuliner skala kecil. Fauzan menilai sektor tersebut tetap menjadi penopang utama perputaran ekonomi masyarakat.
“Usaha kuliner dan perdagangan tradisional masih menjadi sektor yang paling banyak diminati masyarakat,” katanya.
Menurut Fauzan, pertumbuhan investasi dan usaha mikro menunjukkan ekonomi Kota Padang berkembang secara simultan, baik melalui investasi besar maupun penguatan ekonomi masyarakat.
Pemko Padang Perkuat Pelayanan Perizinan
Untuk menjaga tren positif tersebut, Pemerintah Kota Padang terus meningkatkan kualitas pelayanan investasi dan perizinan melalui sistem layanan terpadu di Mal Pelayanan Publik (MPP).
Pemko Padang berharap kemudahan proses perizinan dapat mempercepat legalitas usaha sekaligus menarik lebih banyak investor untuk menanamkan modal di daerah itu.
Langkah tersebut juga sejalan dengan Program Unggulan “Padang Melayani” yang menempatkan pelayanan publik dan kemudahan berusaha sebagai prioritas utama.
“Semakin baik layanan perizinan yang diberikan, maka peluang masuknya investasi baru ke Kota Padang juga akan semakin besar,” ujar Fauzan.
Pemko Padang optimistis tren investasi yang terus meningkat dapat memberikan dampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Kondisi itu diharapkan mampu mendorong pembukaan lapangan kerja dan meningkatkan aktivitas usaha masyarakat. (*/red)






