Jakarta, Javanusa—Investasi manufaktur 2026 menunjukkan tren pertumbuhan kuat dengan 1.236 perusahaan industri siap berproduksi perdana.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kapasitas baru dan serapan tenaga kerja meningkat signifikan. Data ini memperkuat sinyal ekspansi sektor riil nasional.
Berdasarkan data Kemenperin per 15 Januari 2026, sebanyak 1.236 perusahaan industri telah menuntaskan pembangunan fasilitas produksi sepanjang 2025. Seluruhnya dijadwalkan mulai beroperasi pertama kali pada 2026.
Kehadiran perusahaan baru ini menunjukkan investasi tidak berhenti di tahap komitmen. Investor telah merealisasikan proyek hingga siap masuk tahap produksi komersial.
Perusahaan tersebut berasal dari relokasi industri luar negeri, ekspansi pabrik lama, serta penanaman modal baru di berbagai subsektor manufaktur.
Kemenperin memperkirakan industri baru itu akan menyerap sekitar 218.000 tenaga kerja. Angka ini menambah kontribusi langsung sektor manufaktur terhadap penciptaan lapangan kerja nasional.
Selain itu, tambahan kapasitas produksi diproyeksikan mendorong Produk Domestik Bruto (PDB). Dampaknya juga memperkuat PDB industri pengolahan nonmigas.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan industri manufaktur tetap terjaga di atas 5 persen melalui tambahan investasi tersebut.
Kemenperin: Indikator Riil Lebih Akurat dari Sentimen
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief mengatakan penilaian investasi tidak bisa hanya berbasis sentimen. Menurut dia, indikator riil menunjukkan arah yang berbeda.
“Fakta bahwa lebih dari seribu perusahaan industri siap beroperasi pada 2026 menunjukkan investasi manufaktur berjalan dan berkelanjutan,” ujar Febri dalam keterangan resmi di Jakarta.
Ia menambahkan, data operasional pabrik baru menjadi bukti konkret aktivitas investasi. Karena itu, evaluasi perlu berbasis realisasi, bukan persepsi.
Data BPS: Impor Barang Modal Naik 34,66 Persen
Kemenperin juga merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait perdagangan. Rilis terbaru menunjukkan impor barang modal pada 2025 tumbuh lebih dari 34,66 persen dibanding 2024.
Kenaikan impor terutama terjadi pada mesin dan peralatan mekanis. Komponen ini berkaitan langsung dengan pembangunan pabrik dan perluasan kapasitas produksi.
“Peningkatan signifikan impor barang modal, khususnya mesin dan peralatan mekanis, menjadi indikator kuat bahwa investasi manufaktur tumbuh pesat sepanjang 2025,” kata Febri.
Impor mesin biasanya terjadi saat industri membangun lini produksi baru. Karena itu, lonjakan impor barang modal sering dipakai sebagai penanda ekspansi sektor manufaktur.
Modernisasi peralatan juga menandakan transformasi teknologi produksi. Langkah ini sejalan dengan agenda industri 4.0 yang sedang didorong pemerintah.
Ke depan, Kemenperin memperkuat iklim investasi melalui kebijakan hilirisasi dan pengembangan kawasan industri. Pemerintah juga mendorong transformasi industri 4.0 dan penguatan pasar domestik.
Selain itu, perluasan pasar ekspor terus dipacu agar utilisasi pabrik tetap tinggi. Strategi ini diharapkan menjaga kesinambungan investasi dan produksi.
“Kami optimistis investasi industri manufaktur akan terus tumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Febri.
Dengan kombinasi data perusahaan baru, impor barang modal, dan kebijakan industri, pemerintah menilai fondasi pertumbuhan manufaktur tetap kuat menuju 2026. (*/red)






