Jakarta, Javanusa—Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat upaya mewujudkan swasembada susu nasional dengan membangun ekosistem industri persusuan yang terintegrasi.
Pemerintah menyiapkan berbagai langkah, mulai dari skema pembiayaan berbunga 0 persen, peningkatan populasi sapi perah, hingga penguatan kemitraan antara peternak dan industri pengolah susu.
Peningkatan kebutuhan susu nasional, termasuk untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), mendorong pemerintah mempercepat pengembangan industri persusuan.
Fokusnya bukan hanya menambah jumlah sapi perah, tetapi juga membangun sistem yang menghubungkan peternak, koperasi, industri, lembaga pembiayaan, dan pemerintah.
Melalui ekosistem tersebut, produksi susu segar dalam negeri diharapkan meningkat secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, kesejahteraan peternak dapat terdongkrak dan ketergantungan terhadap impor produk susu berangsur berkurang.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan percepatan pengembangan sapi perah memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Kami ingin membangun ekosistem persusuan nasional yang kuat. Target penambahan populasi sapi perah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Tetapi juga membutuhkan keterlibatan koperasi, industri pengolah susu, perusahaan peternakan, lembaga keuangan, hingga peternak rakyat,” ujar Agung dalam rapat koordinasi bersama asosiasi, koperasi, industri pengolah susu, perusahaan peternakan, serta pelaku usaha persusuan di Kantor Kementan, Senin (3/8/2026).
Pemerintah Siapkan Skema Kredit Berbunga 0 Persen
Untuk mempercepat peningkatan populasi sapi perah, pemerintah sedang menyiapkan sejumlah instrumen kebijakan. Salah satunya berupa usulan pembiayaan dengan bunga 0 persen.
Skema tersebut mencakup masa tenggang pembayaran selama dua tahun, jangka waktu pinjaman hingga tujuh tahun. Serta plafon kredit yang disesuaikan dengan kebutuhan usaha peternak. Kebijakan ini diharapkan memperluas akses modal sekaligus mendorong peternak meningkatkan kapasitas usahanya.
Selain pembiayaan, Kementan juga memperluas sumber pengadaan indukan sapi perah produktif dari berbagai negara. Negara yang menjadi alternatif antara lain Brasil, Chili, Meksiko, dan Selandia Baru.
Diversifikasi tersebut bertujuan mempercepat penambahan populasi sapi perah nasional, mengurangi ketergantungan pada satu negara pemasok, serta menjaga keberlanjutan pengembangan industri persusuan di tengah meningkatnya permintaan global.
Momentum Perkuat Industri Persusuan Nasional
Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Hilirisasi Peternakan, Prof. Ali Agus, menilai kondisi saat ini menjadi kesempatan penting untuk mempercepat transformasi sektor persusuan.
“Saat ini kita memiliki momentum yang sangat baik karena pengembangan persusuan telah menjadi perhatian pemerintah. Yang perlu kita pastikan adalah seluruh kebijakan dapat dijalankan secara realistis, mulai dari penyediaan sapi, pembiayaan, pakan, asuransi ternak, hingga kepastian pasar. Kalau seluruh mata rantai ini tersambung, swasembada susu bukan lagi sekadar cita-cita,” kata Prof. Ali Agus.
Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada keterhubungan seluruh rantai usaha, mulai dari penyediaan sapi hingga pemasaran hasil produksi.
Kemitraan Industri dan Peternak Diperkuat
Kementan juga mendorong industri pengolah susu memperluas pola kemitraan dengan peternak rakyat. Melalui kerja sama tersebut, industri tidak hanya membeli susu segar, tetapi juga memberikan pendampingan, membantu peningkatan produktivitas, mendukung pengembangan populasi sapi perah, serta menjamin penyerapan hasil produksi.
Model kemitraan ini diyakini mampu mempercepat peningkatan produksi susu nasional sekaligus meningkatkan daya saing peternak dalam negeri.
Sebagai langkah lanjutan, Kementan meminta seluruh asosiasi dan perusahaan segera menyampaikan proyeksi kebutuhan indukan sapi perah untuk 2027 beserta rencana pengembangannya.
Data tersebut akan menjadi dasar pemerintah dalam menyiapkan protokol kesehatan hewan, memperkuat kerja sama antarnegara. Serta menyusun sistem logistik agar proses pengadaan ternak berjalan tepat waktu dan sesuai kebutuhan.
Melalui penguatan investasi, kemudahan pembiayaan, pengembangan populasi sapi perah, serta kolaborasi lintas sektor, pemerintah optimistis produksi susu segar nasional terus meningkat.
Langkah itu diharapkan mempercepat terwujudnya swasembada susu sekaligus memperkuat ketahanan pangan menuju Indonesia Emas 2045. (*)






