Padang, Javanusa—Ketua DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Muhidi, mendorong mahasiswa memperkuat literasi, kemampuan berpikir kritis, dan penguasaan teknologi untuk menghadapi persaingan di era digital.
Ia juga menekankan pentingnya pengalaman organisasi, jejaring profesional, serta karakter yang baik dalam membangun masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Muhidi saat menghadiri temu alumni IKIP Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) serta FMIPA Universitas Negeri Padang (UNP), Jumat (23/10/2026).
Kegiatan itu sekaligus menjadi kesempatan baginya untuk mengenang masa kuliah di IKIP Padang yang ia mulai pada 1984.
Dalam pertemuan tersebut, Muhidi mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal. Menurutnya, ilmu pengetahuan, kebiasaan membaca, dan kemauan mengembangkan diri menjadi bekal penting untuk menghadapi perubahan zaman.
“Kalau ingin sukses dunia dan akhirat, kita harus memiliki ilmu. Karena itu, semangat menuntut ilmu jangan pernah berhenti, terutama bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri menghadapi masa depan,” ujarnya.
Muhidi Tekankan Pentingnya Belajar dan Budaya Membaca
Muhidi menjelaskan tiga cara untuk memperluas pengetahuan, yakni belajar dari guru atau mentor, membangun kebiasaan membaca, dan mengiringi usaha dengan doa.
Ia menilai, proses belajar tidak terbatas pada ruang kelas atau lingkungan kampus. Seseorang juga dapat mengembangkan kemampuan melalui bimbingan orang yang berpengalaman di bidangnya.
“Jalur pertama adalah berguru. Kalau ingin menjadi pengusaha, kita membutuhkan mentor. Kalau ingin menjadi atlet, kita membutuhkan pelatih. Begitu juga dalam bidang lainnya, kita perlu belajar dari orang yang memiliki pengalaman dan keahlian,” katanya.
Selain bimbingan, Muhidi menyoroti peran literasi dalam membentuk pola pikir mahasiswa. Ia mengajak generasi muda menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan menganalisis persoalan.
Menurutnya, keberhasilan tidak hanya bergantung pada gelar akademik. Kemampuan memahami informasi, mengolah gagasan, dan menghasilkan inovasi juga berperan penting dalam mendorong kemajuan masyarakat.
“Tidak perlu langsung membaca dalam waktu yang lama. Mulailah dengan satu wawasan setiap hari, yang penting dilakukan secara rutin. Orang-orang yang berhasil dan para ilmuwan banyak membaca, menganalisis, kemudian melahirkan inovasi untuk kepentingan orang banyak,” ungkapnya.
Muhidi juga mengingatkan mahasiswa untuk menyeimbangkan usaha intelektual dengan doa. Ia memandang keduanya sebagai bagian dari upaya membangun keteguhan diri saat menghadapi berbagai tantangan.
Lima Bekal untuk Menjadi Pemimpin
Dalam kesempatan itu, Muhidi memaparkan lima konsep yang perlu dikembangkan untuk membentuk kepemimpinan. Kelimanya meliputi niat yang baik, motivasi yang kuat, kemampuan menjadi penggerak, pola pikir positif, dan wawasan yang luas.
Ia menilai, mahasiswa perlu menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini. Dengan begitu, mereka tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga arah, karakter, dan kesungguhan untuk membawa perubahan.
“Untuk menjadi pemimpin, kita harus memiliki niat, motivasi yang kuat, kemampuan menjadi penggerak, berpikir positif, serta wawasan yang luas. Kepemimpinan tidak cukup hanya dengan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan karakter dan kesungguhan,” tuturnya.
Menurut Muhidi, kepemimpinan membutuhkan perpaduan antara pengetahuan, pola pikir, dan kemampuan menggerakkan orang lain. Karena itu, mahasiswa perlu mengembangkan kapasitas diri melalui pembelajaran dan pengalaman nyata.
Mahasiswa Perlu Menguasai Teknologi Digital dan AI
Muhidi turut menyoroti keterampilan yang semakin dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi. Ia menyebut kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah kompleks sebagai kompetensi penting bagi mahasiswa.
Selain itu, generasi muda perlu meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum atau public speaking, berkomunikasi secara efektif, serta memahami teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI).
“Perkembangan zaman berlangsung sangat cepat. Karena itu, mahasiswa harus mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, berpikir kritis, memecahkan masalah yang kompleks, serta memahami teknologi digital dan AI. Keterampilan tersebut akan sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan ke depan,” jelasnya.
Penguasaan keterampilan tersebut, menurutnya, dapat membantu generasi muda beradaptasi dengan perubahan dan memperluas peluang di berbagai bidang pekerjaan. Namun, mahasiswa juga perlu menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh melalui pengalaman langsung.
Untuk itu, Muhidi mendorong mahasiswa aktif berorganisasi, mengikuti kegiatan sosial, dan mencari kesempatan untuk mengasah kemampuan di luar perkuliahan.
“Jangan hanya belajar di dalam kelas. Pengalaman dan jam terbang juga penting. Semakin banyak pengalaman yang kita miliki, semakin terasah kemampuan dalam membaca situasi dan mengambil keputusan,” katanya.
Networking dan Integritas Menjadi Modal Penting
Selain keterampilan, Muhidi menekankan pentingnya membangun jejaring atau networking. Menurutnya, silaturahmi dan hubungan baik dengan berbagai pihak dapat membuka peluang kolaborasi serta mendukung perkembangan profesional maupun sosial.
Meski demikian, ia mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mengejar luasnya jaringan pertemanan. Mereka juga perlu menjaga reputasi melalui kejujuran, tanggung jawab, dan konsistensi dalam memenuhi kepercayaan.
Bagi Muhidi, karakter yang baik menjadi modal penting untuk membangun hubungan jangka panjang. Kompetensi dan jejaring akan lebih bermakna apabila seseorang mampu menjaga integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Muhidi Ajak Generasi Muda Peduli Peredaran Narkoba
Muhidi juga mengajak mahasiswa mengambil peran dalam menghadapi persoalan peredaran narkoba di Sumatera Barat. Ia menilai, ancaman tersebut membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk generasi muda.
“Kita perlu memberikan perhatian serius terhadap persoalan narkoba. Jika Sumatera Barat dijadikan daerah transit dan peredaran narkoba, maka kita semua harus ikut mengambil bagian dalam upaya mengatasinya. Generasi muda harus menjadi bagian dari solusi, bukan membiarkan persoalan ini terus berkembang,” tegasnya.
Ia mendorong mahasiswa berkontribusi dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan narkotika.
Menutup pesannya, Muhidi berharap mahasiswa mampu memadukan ilmu pengetahuan, literasi, keterampilan, pengalaman, jejaring, dan integritas sebagai bekal menghadapi masa depan.
Ia menegaskan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh pencapaian akademik. Kemauan untuk terus belajar, beradaptasi, menjaga kepercayaan, dan memberi manfaat bagi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang berdaya saing.
“Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi yang berdaya saing, berkarakter, dan mampu mengambil peran dalam pembangunan daerah maupun bangsa,” ujarnya. (*)






