Bogor, Javanusa—Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026 menjadi ajang untuk mendorong peningkatan kualitas dan daya saing peternak sapi di Indonesia.
Lebih dari 250 peserta mengikuti kontes yang berlangsung di kawasan Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/10/2026). Dari jumlah tersebut, lebih dari 100 peserta berasal dari Jawa Barat.
Tingginya partisipasi peternak Jawa Barat menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan yang digelar Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) tersebut.
Ketua MPR RI sekaligus Ketua Dewan Pembina APPSI, Ahmad Muzani, menilai kehadiran peternak dari berbagai daerah menunjukkan semakin kuatnya perhatian masyarakat terhadap pengembangan peternakan sapi.
Menurut Muzani, peternak terus meningkatkan kualitas ternak melalui berbagai cara. Salah satunya dengan mengembangkan persilangan sejumlah jenis sapi unggul.
Kontes Sapi Jadi Ruang Pengembangan Peternak
Muzani mengatakan kontes ternak tidak sekadar menjadi ajang mencari sapi terbaik. Kegiatan tersebut juga dapat mendorong peternak meningkatkan kemampuan dan menerapkan pola pemeliharaan yang lebih modern.
Di balik sapi yang tampil dalam kontes, terdapat proses panjang yang mencakup pemilihan bibit, pengaturan reproduksi, penyediaan pakan, pemeliharaan kesehatan, hingga perawatan ternak.
“Karena ternyata beternak sapi itu menyenangkan, menggembirakan, menguntungkan dan memberi harapan terhadap masa depan,” kata Muzani.
Ia juga melihat perubahan komposisi peserta sebagai perkembangan positif. Selama ini, kontes sapi banyak diikuti peternak dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Kini, peternak Jawa Barat mulai menunjukkan kehadiran yang lebih kuat. Muzani menilai kondisi tersebut dapat membuka peluang baru bagi pengembangan pasar sapi di wilayah tersebut.
“Sehingga Jawa Barat ingin mengambil pasar itu dan itu saya kira bagus, sehingga ada persaingan sehat di antara para peternak,” ujar Muzani.
Bogor Dinilai Punya Potensi Peternakan
Muzani juga menilai Kabupaten Bogor memiliki sejumlah faktor pendukung untuk pengembangan peternakan sapi.
Ketersediaan pakan dan kondisi lingkungan menjadi modal penting untuk mengembangkan usaha peternakan di daerah tersebut.
Menurutnya, peningkatan produksi daging bukan satu-satunya fokus pengembangan peternakan nasional. APPSI juga mulai mengarahkan perhatian pada sektor sapi perah.
Langkah tersebut berkaitan dengan kebutuhan susu nasional yang masih tinggi. Terlebih, kebutuhan susu ikut meningkat seiring pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Setelah ini APPSI akan berkonsentrasi kepada upaya untuk melakukan swasembada susu karena ini sangat penting,” kata Muzani.
“Kebutuhan susu kita kurang itu sejak sebelum ada MBG, apalagi ada MBG, lebih banyak lagi,” ujarnya.
Muzani berharap pengembangan sektor susu melibatkan seluruh unsur. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta peternak kecil, menengah, dan besar perlu bergerak bersama.
“Harapannya ke depan pemerintah daerah terlibat semua, peternak kecil, besar, menengah terlibat dan kita semua terlibat,” katanya.
Kementan Perkuat Kualitas dan Produktivitas Ternak
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Agung hadir mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam membangun ekosistem peternakan yang berkelanjutan.
Peran tersebut mencakup peningkatan kualitas ternak, produktivitas usaha, kesehatan hewan, hingga kesejahteraan peternak.
Dalam kegiatan itu, Kementerian Pertanian melalui Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang juga menyerahkan hibah dua ekor sapi kepada APPSI.
Masing-masing sapi memiliki bobot sekitar 1 ton. Bantuan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap peternak yang terus meningkatkan kualitas dan produktivitas ternaknya.
Kementan menilai pengembangan peternakan tidak cukup hanya menghasilkan sapi dengan kualitas fisik yang baik.
Produktivitas perlu berjalan beriringan dengan efisiensi usaha, kesehatan ternak, akses pasar, serta peningkatan nilai ekonomi yang diterima peternak.
Dengan pendekatan tersebut, kontes sapi diharapkan tidak berhenti sebagai ajang kompetisi. Kegiatan ini juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat inovasi, kualitas genetik, produktivitas, dan daya saing peternakan nasional. (*)






