Solok, Javanusa—Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Barat (Sumbar) mulai berdampak pada aktivitas masyarakat.
Kondisi tersebut mendorong Anggota DPRD Sumbar Daswippetra Dt Mjj Alam membagikan 20 ribu masker kepada warga dan pelajar di Kota serta Kabupaten Solok.
Bantuan itu disalurkan dalam dua sasaran. Sebanyak 10 ribu masker diberikan kepada masyarakat umum, sedangkan 10 ribu lainnya disalurkan melalui sejumlah sekolah untuk para pelajar.
Langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang tetap menjalankan aktivitas di tengah penurunan kualitas udara. Anak-anak dan pelajar mendapat perhatian khusus karena mereka tetap harus mengikuti kegiatan pendidikan.
Kabut Asap Mulai Ganggu Aktivitas Warga
Kondisi udara yang memburuk tidak hanya mengganggu kenyamanan. Paparan asap juga dapat memengaruhi kesehatan serta aktivitas pendidikan dan mobilitas masyarakat.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Barat. Cuaca yang cenderung kering pada musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta penyebaran asap.
Dampaknya telah terlihat di sejumlah daerah. Pemerintah Kabupaten Solok Selatan pada 17 September 2026 menyesuaikan kegiatan pembelajaran setelah kabut asap mengganggu kualitas udara selama beberapa pekan.
Saat itu, kondisi ISPU masuk kategori tidak sehat. Pemerintah kemudian meliburkan kegiatan pembelajaran PAUD dan TK serta mengarahkan siswa SD dan SMP belajar dari rumah pada 18–19 September 2026.
Daswippetra Pilih Langkah Perlindungan Sederhana
Situasi tersebut turut menjadi perhatian Daswippetra. Ia menilai masyarakat membutuhkan langkah perlindungan, terutama ketika kualitas udara berada dalam kondisi kurang baik.
“Kita melihat kondisi kabut asap mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Karena itu, saya merasa perlu melakukan sesuatu yang manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat,” kata Daswippetra.
Menurutnya, pembagian masker tidak dapat menyelesaikan persoalan kabut asap secara menyeluruh. Namun, masker dapat menjadi perlindungan sederhana bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah.
“Masker memang bukan solusi untuk menyelesaikan kabut asap. Tetapi setidaknya ini menjadi ikhtiar untuk membantu masyarakat, terutama anak-anak yang masih harus menjalani aktivitas pendidikan,” ujarnya.
Wakil Rakyat Diminta Hadir Saat Warga Menghadapi Persoalan
Daswippetra mengatakan kepedulian terhadap kondisi masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai wakil rakyat. Ia menilai persoalan yang disampaikan warga perlu mendapat tindak lanjut sesuai kemampuan yang tersedia.
“Ketika masyarakat menghadapi persoalan, wakil rakyat harus hadir. Jangan hanya melihat dan menyampaikan keprihatinan. Kalau ada yang bisa kita lakukan dan langsung membantu masyarakat, tentu harus kita lakukan,” katanya.
Ia berharap seluruh masker yang telah disalurkan dapat digunakan secara optimal oleh warga dan pelajar. Terutama saat mereka harus menjalankan aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara belum membaik.
Daswippetra juga meminta masyarakat mengikuti perkembangan kualitas udara. Ketika kondisi memburuk, warga sebaiknya mengurangi kegiatan di luar ruangan dan menggunakan masker jika harus bepergian.
“Kita berharap kondisi ini segera membaik. Bantuan ini mungkin sederhana, tetapi mudah-mudahan bisa memberikan manfaat dan menunjukkan bahwa masyarakat tidak menghadapi kondisi ini sendirian,” tuturnya.
Perlindungan Kelompok Rentan Perlu Diperhatikan
Menurut Daswippetra, kabut asap juga menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi penurunan kualitas udara.
Pemantauan kualitas udara perlu terus dilakukan. Langkah perlindungan juga penting, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan agar dampak terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat dapat ditekan. (*)






