Payakumbuh, Javanusa—Produksi pupuk kompos Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang melonjak dari 300 kilogram menjadi 8 ton per minggu.
Inovasi pengelolaan sampah itu sekaligus mengurangi residu yang masuk ke TPA Payakumbuh hingga dua ton setiap hari.
Capaian tersebut menjadi salah satu inovasi yang dipaparkan Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang dalam tahapan Pemaparan dan Wawancara Calon Juara Penjaringan Desa dan Kelurahan Berprestasi Tingkat Nasional 2026.
Pemaparan berlangsung di Aula Josrizal Zain, Balai Kota Payakumbuh, Rabu (7/10/2026). Dalam kesempatan itu, kelurahan tersebut menampilkan berbagai program yang mencakup pelayanan publik, lingkungan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi warga.
Pelayanan Publik Dipangkas Menjadi 10 Menit
Lurah Sawah Padang Aua Kuniang Deop Darius mengatakan, seluruh inovasi lahir dari pemetaan potensi serta kebutuhan masyarakat di wilayahnya.
“Kami berupaya agar inovasi tidak berhenti sebagai kegiatan semata, tetapi memberikan manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.
Di sektor administrasi, kelurahan mengandalkan inovasi Sapaku Kece. Program tersebut memangkas durasi pelayanan publik dari sebelumnya 45 menit menjadi sekitar 10 menit.
Digitalisasi pelayanan juga diperkuat melalui Taman Digital dan Peta Digital Sapaku. Sementara itu, inovasi Sang Utama membantu kelurahan memperbarui data kependudukan secara lebih presisi.
“Kami ingin pelayanan lebih cepat sekaligus ditopang data yang terus diperbarui agar program pemerintah lebih tepat sasaran,” ujar Deop.
Sampah Diolah Menjadi Pupuk Kompos
Pada bidang lingkungan, Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang menjalankan Sapaku Tanggap. Program ini mendorong warga memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.
Sampah organik kemudian diproses menjadi pupuk kompos yang dapat mendukung kebutuhan petani lokal. Produksinya kini mencapai 8 ton per minggu.
Pengelolaan tersebut juga berdampak pada pengurangan residu. Setiap hari, program itu mampu menekan volume sampah yang menuju TPA Payakumbuh hingga dua ton.
Lahan Tidur Diubah Menjadi Kawasan Produktif
Kelurahan juga mengembangkan Sapaku Tampan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membantu mengendalikan inflasi.
Pada 2025, program tersebut mengubah lahan tidur seluas 4,1 hektare menjadi kawasan produktif. Pengelolaannya menghasilkan perputaran uang hingga Rp318 juta.
Program itu melibatkan Kelompok Tani, Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK, dan unsur Dasawisma. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Pengembangan ekonomi juga berlangsung melalui Kampung Bambu yang melibatkan 95 kepala keluarga. Selain itu, Kampung Itik diarahkan pada produksi telur serta pengembangan produk olahannya.
“Potensi pertanian, bambu, itik, dan UMKM kami dorong menjadi sumber pendapatan yang dapat memperkuat ekonomi keluarga,” papar Deop.
Program Kesehatan Sasar TBC hingga Stunting
Di bidang kesehatan, Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang telah melacak 144 orang yang terduga tuberkulosis.
Kelurahan juga menangani 15 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan merevitalisasi tiga Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
Upaya tersebut turut berjalan melalui Dapur Bunda Satya. Program ini membantu menekan angka kekerdilan anak hingga Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang kini berstatus bebas kasus stunting.
Wawako Apresiasi Dampak Inovasi
Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta melalui Wakil Wali Kota Elzadaswarman yang hadir dalam penilaian memberikan apresiasi terhadap berbagai inovasi tersebut.
Menurut Elzadaswarman, rangkaian program itu menunjukkan kemampuan pemerintah kelurahan menggabungkan peningkatan pelayanan dengan pemberdayaan masyarakat.
“Programnya sangat komprehensif. Dampaknya bukan hanya pada pelayanan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat di tingkat bawah,” puji Wawako Elzadaswarman.
Ia mengatakan, digitalisasi pelayanan turut mendapat dukungan jaringan serat optik yang kini menjangkau hampir 98 persen wilayah Payakumbuh.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah dan penanganan stunting juga menunjukkan kuatnya partisipasi masyarakat dalam menjalankan program kelurahan.
“Yang penting, masyarakat ikut bergerak. Sampah menjadi bernilai ekonomi, pelayanan lebih cepat, dan penanganan stunting menunjukkan hasil,” ujarnya.
Partisipasi warga juga terlihat dari nilai swadaya masyarakat yang mencapai sekitar Rp1,6 miliar.
Siapkan Lapau Sapaku sebagai Destinasi Lokal
Setelah mengikuti tahapan penilaian tingkat nasional, Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang menyiapkan pengembangan Lapau Sapaku.
Program tersebut diproyeksikan menjadi destinasi wisata sekaligus pusat kegiatan kreatif yang memanfaatkan potensi lokal.
Tim penilai regional turut memberikan apresiasi terhadap kemampuan kelurahan mengintegrasikan pelayanan pemerintahan, lingkungan, dan penguatan ekonomi dalam satu rangkaian pembangunan.
Deop menegaskan, pihaknya ingin memastikan berbagai inovasi tersebut terus berjalan dan berkembang setelah tahapan penilaian selesai.
“Kami ingin inovasi ini terus berjalan dan berkembang menjadi kekuatan ekonomi, budaya, dan lingkungan yang manfaatnya dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (*)






