Merawat Jalan Kambang-Muaralabuh: Jalan Pintas Strategis Sumbar Saat Bencana

Penulis -

Jumat, 2 Januari 2026 - 11:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jonaidi, SH, MH.

Jonaidi, SH, MH.

Oleh: Advokat Jonaidi, SH, MH

Jejak Sejarah Kambang-Muaralabuh

Javanusa.com—Nagari Kambang di Kabupaten Pesisir Selatan dan Muaralabuh di Kabupaten Solok Selatan sejak dahulu terhubung secara historis, kultural, dan adat.

Kedua wilayah ini hanya dipisahkan oleh Bukit Barisan, dengan lereng sebelah baratnya merupakan wilayah hukum adat Nagari Kambang sebagaimana tercatat dalam Monografi Nagari Kambang, yang membentang dari Ombak Badabua hingga puncak Bukit Barisan.

Penduduk Kambang berasal dari Muaralabuh melalui proses migrasi awal yang dikenal sebagai 62 induk, kemudian berkembang dengan enam suku utama Kampai, Panai, Melayu, Sikumbang, Caniago, dan Jambak, yang dipimpin oleh Ninik Mamak Nan 50. Hingga kini, ikatan adat dan kekerabatan kedua daerah tersebut masih terpelihara kuat.

Jalan Lama yang Menjadi Nadi Persaudaraan

Sebelum kemerdekaan, jalan setapak Kambang-Muaralabuh telah menjadi jalur utama mobilitas masyarakat. Jalur terdekat yang paling sering digunakan ninik mamak terdahulu adalah menyusuri Batang Lengayang, dengan jarak tempuh sekitar 28 kilometer berjalan kaki.

Jalur ini tidak hanya menghubungkan keluarga, tetapi juga menjadi sarana perdagangan tradisional. Masyarakat Kambang membawa ikan dan garam ke Muaralabuh, sementara warga Muaralabuh membawa hasil pertanian ke pesisir. Aktivitas ini bahkan berlangsung hingga masa kakek-nenek penulis, menjadi bukti hidupnya ekonomi rakyat berbasis jalur lokal.

Upaya Perawatan Jalan Pasca Kemerdekaan

Pada tahun 1985, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Kementerian Perhubungan dan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga mulai merawat Jalan Kambang-Muaralabuh agar dapat dilalui kendaraan angkutan barang dan jasa. Jalan ini direncanakan sepanjang kurang lebih 28 kilometer.

Namun, di tengah pengerjaan, proyek tersebut dihentikan karena sebagian jalur masuk ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang saat itu ditetapkan dengan luas sekitar 1,3 juta hektare. Akibat kebijakan tersebut, sebagian besar wilayah Pesisir Selatan masuk kawasan TNKS.

Baca Juga :  Menyiapkan Istithaah Manasik Haji Mandiri
Hilangnya Sumber Penghidupan Masyarakat

Sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai TNKS, masyarakat Kambang, Lakitan, dan sekitarnya menggantungkan hidup pada hasil hutan dan pertanian tradisional. Mereka mengambil kayu secara manual, memanen rotan, damar, manau, gaharu, madu lebah, ikan, serta berbagai hasil alam lainnya secara turun-temurun.

Sejak akses hutan dibatasi, masyarakat kehilangan mata pencaharian utama. Tidak sedikit generasi muda terpaksa merantau ke berbagai daerah di dalam dan luar negeri demi menghidupi keluarga.

Jalan Kambang-Muaralabuh yang Kini Terlupakan

Saat ini, Jalan Kambang-Muaralabuh sepanjang 28 kilometer dalam kondisi tidak terawat dan tertutup semak belukar. Padahal, jika jalur ini difungsikan kembali, jarak tempuh Kambang-Muaralabuh dapat dipangkas drastis.

Melalui jalur eksisting via Kota Padang, jarak tempuh mencapai sekitar 273 kilometer dengan waktu perjalanan hingga tujuh jam. Sementara melalui jalan pintas Kambang-Muaralabuh, jarak dan waktu tempuh dapat dipersingkat secara signifikan.

Jalur Alternatif Saat Bencana

Keberadaan jalan pintas ini sangat strategis sebagai jalur alternatif saat terjadi bencana alam. Ketika banjir dan longsor melanda jalur lintas utama Pesisir Selatan atau Padang-Solok, Jalan Kambang-Muaralabuh dapat menjadi solusi evakuasi dan distribusi logistik.

Pengalaman kemacetan panjang hingga puluhan jam di jalur utama menunjukkan pentingnya memiliki jalur cadangan yang siap digunakan dalam kondisi darurat.

Penting untuk Mitigasi dan Penanggulangan Bencana

Dalam kondisi bencana besar seperti gempa bumi, banjir, longsor, atau tsunami, akses darat menjadi faktor krusial dalam penyelamatan korban. Jalan Kambang-Muaralabuh berpotensi menjadi jalur penyelamat jika jalur lain terputus.

Belajar dari sejumlah daerah terdampak bencana, keterlambatan penanganan sering kali disebabkan oleh putusnya akses transportasi. Kondisi ini seharusnya tidak kembali terulang.

Upaya dan Harapan kepada Pemerintah

Upaya pengusulan perawatan Jalan Kambang-Muaralabuh telah dilakukan sejak lama. Bupati Pesisir Selatan pernah menyurati Presiden pada tahun 2016. Gubernur Sumatera Barat juga beberapa kali menyatakan akan mengusulkan kembali kepada pemerintah pusat, termasuk setelah audiensi ninik mamak dari Nagari Kambang, Lakitan, dan Lalam Sarambi Sungai Pagu pada Maret 2021.

Baca Juga :  Safari Ramadhan Tim I Pemkab Pessel di Masjid Al Mukaromah Tarusan, Perkuat Silaturahmi dan Dorong Pembangunan Nagari
Harapan kepada Presiden RI

Masyarakat Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Muaralabuh, Kabupaten Solok Selatan, berharap kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar memberikan perhatian serius terhadap perawatan dan pemanfaatan kembali Jalan Kambang-Muaralabuh.

Jalan ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi transportasi, memperlancar distribusi hasil pertanian dan perikanan, memperkuat hubungan kekerabatan, serta mendukung konektivitas Sumatera Barat dengan jalur lintas tengah menuju Pulau Jawa.

Jika kawasan ini tetap berada dalam wilayah TNKS, maka skema kerja sama pemanfaatan kawasan hutan untuk kepentingan jalan umum dapat menjadi solusi. Sebagaimana disampaikan Presiden bahwa kebijakan harus berpihak pada kepentingan rakyat banyak, maka harapan masyarakat Sumatera Barat terhadap jalan ini layak untuk dipertimbangkan secara adil dan bijaksana. (*)

Berita Terkait

Fauzi Bahar, Sang “Pamberang” yang Tampil sebagai Panglima di Tengah Gempa
Menanti Remaja Masjid Reborn
Menyiapkan Istithaah Manasik Haji Mandiri
Jaga Pesisir Selatan dari Rantau: Menguatkan Generasi Melalui Badan Diklat DPP PKPS
Tri Sukses Haji dan Ikhtiar yang Tidak Pernah Selesai
Kesuksesan Debut Kemenhaj 2026 dan Visi Baru Ekosistem Haji Indonesia
Foto AI dalam Jurnalistik: Pendukung Berita atau Ancaman Kebenaran?
Penerbangan Internasional Belitung Kembali Dibuka: Konektifitas Jadi Kunci Emas Pariwisata Indonesia

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:59 WIB

Gulat Kota Padang Juara Umum Porprov XVI Sumbar, Raih 16 Medali Emas

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Usai Bertugas di FIFA ASEAN Cup 2026, Pedro Rodriguez Umumkan Pensiun

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Stefano Cugurra Resmi Tangani Semen Padang FC, Targetkan Promosi ke Super League

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:04 WIB

Gateball Kota Padang Raih Emas Perdana Porprov Sumbar 2026 lewat Double Putra

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:54 WIB

Edo Vernando Sumbang Emas Pertama Biliar Kota Padang di Porprov Sumbar 2026

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Jadwal Lengkap Pertamina Grand Prix Indonesia: MotoGP, Sprint, hingga Balapan Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

MotoGP Mandalika 2026: Perebutan Gelar Memanas, Martin dan Marquez Cuma Terpaut 2 Poin

Berita Terbaru

Mikel Arteta sepakat memperpanjang kontrak di Arsenal. (Foto: IG @mikelarteta)

Olahraga

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Okt 2026 - 08:06 WIB