Jakarta, Javanusa—Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat langkah mitigasi kekeringan untuk menjaga produktivitas sektor perkebunan nasional menghadapi musim kemarau.
Langkah ini difokuskan pada komoditas rentan seperti kopi, kakao, kelapa sawit, dan tebu yang berpotensi terdampak penurunan produksi akibat cuaca kering.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah mendorong penerapan budidaya adaptif guna menekan dampak kemarau.
Upaya tersebut meliputi penggunaan benih unggul tahan kekeringan, pengelolaan kebun yang efisien dalam penggunaan air, serta peningkatan pendampingan kepada pekebun.
Selain itu, konservasi tanah dan air menjadi bagian penting untuk menjaga kelembapan lahan dan mendukung pertumbuhan tanaman.
Penguatan Pengelolaan Air dan Informasi Iklim
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menyebut pemanfaatan informasi iklim dan pengelolaan air menjadi faktor kunci menjaga produktivitas.
Pemerintah juga memperkuat tata kelola air, termasuk di lahan gambut melalui pembangunan sekat kanal guna mempertahankan kelembapan tanah.
Demplot dan Pelatihan Pekebun
Sebagai langkah implementasi, Kementan mengembangkan demplot mitigasi dan adaptasi iklim. Melalui kebun percontohan ini, pekebun dilatih menerapkan teknik hemat air, pengelolaan kebun saat kemarau, serta pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik.
Pendampingan juga mencakup antisipasi hama dan penyakit tanaman yang berpotensi meningkat selama musim kemarau.
Pencegahan Kebakaran Lahan
Upaya mitigasi turut diperkuat melalui program Pembukaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB). Selain itu, dibentuk Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) serta Kelompok Tani Peduli Api di tingkat lapangan.
Pekebun dianjurkan menerapkan langkah adaptif seperti efisiensi pemupukan, penggunaan pupuk organik, serta pemantauan rutin kondisi tanaman.
Teknologi konservasi air seperti rorak dan biopori juga direkomendasikan untuk meningkatkan cadangan air di lahan.
Salah satu pekebun binaan Kementan menyebut pendampingan yang diberikan membantu dalam menghadapi perubahan pola musim.
Ia menyatakan pekebun mulai menyesuaikan pola tanam dan pengelolaan air untuk menghadapi kemarau yang lebih panjang dan tidak menentu. (*/red)






