Pessel, Javanusa—Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hijrah Medinah, Nagari Lakitan Utara, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), menggelar Wisuda Tahfiz dan Akhirussanah angkatan ke-IV di ruang UDKP Kantor Camat Lengayang, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan bertema “Tumbuh Bersama Al-Qur’an, Bersemi dalam Kebaikan” itu diikuti oleh 130 santri dari total 280 siswa yang menempuh pendidikan di lembaga tersebut.
Mewakili Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Syahrizal Antoni, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada para hafiz dan hafizah yang diwisuda.
Ia menegaskan capaian tersebut menjadi titik awal dalam membangun generasi Qurani yang tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Dari itu saya berharap wisuda tersebut menjadi awal lahirnya generasi yang lebih baik dan berakhlak mulia di masa depan,” katanya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Pessel yang diwakili Kabid SMP, Dedi Eka Putra, Kementerian Agama (Kemenag) Pessel yang diwakili Kasi Pontren Sudirman, Camat Lengayang Novri, Wali Nagari Lakitan Utara Afrizal, anggota DPRD Pessel Dapil III, Muhamad Dardak, Pembina Yayasan, Medina Hakim, serta para tamu undangan lainnya.
Wisuda Tahfiz Jadi Momentum Pengamalan Al-Qur’an
Syahrizal Antoni menambahkan wisuda tahfiz tidak boleh dimaknai sekadar seremonial, melainkan harus menjadi momentum untuk menginternalisasi ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai kegiatan tersebut berpotensi melahirkan generasi yang mampu berprestasi dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten maupun provinsi pada tahun-tahun mendatang.
“Oleh karena itu, saya minta dukungan semua pihak, terutama jajaran Kemenag dan para guru, agar terus membina dan mengarahkan para santri di tengah tantangan era digital saat ini,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, juga ditegaskan bahwa program unggulan (Progul) Nagari Mangaji dan Nagari Pandai yang dicanangkan pemerintah daerah sejalan dengan keberadaan pondok pesantren.
“Kegiatan wisuda tahfiz ini dinilai memberikan kontribusi nyata dalam mendukung lahirnya masyarakat yang religius dan berilmu, sekaligus memperkuat budaya membaca dan memahami Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat,” kata Antoni lagi.
Ingatkan Generasi Muda Hadapi Tantangan Era Digital
Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai pengaruh negatif di era digital, termasuk fenomena LGBT yang belakangan menjadi perhatian publik.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, terutama generasi muda, agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan budaya yang berlaku. Pengaruh negatif seperti perilaku menyimpang dapat berkembang dengan cepat melalui media sosial jika tidak disikapi dengan bijak,” ujarnya.
Ia menegaskan, peran guru sangat penting dalam memberikan contoh yang baik kepada siswa, khususnya dalam penggunaan media sosial.
“Guru harus menjadi teladan, tidak hanya dalam proses belajar mengajar, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bermedia sosial. Hindari konten yang tidak mendidik dan berikan edukasi kepada siswa agar mampu memilah informasi yang bermanfaat,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Syahrizal Antoni juga menekankan perlunya kewaspadaan terhadap berbagai pengaruh negatif yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk fenomena LGBT yang dinilai dapat mempengaruhi perilaku generasi muda jika tidak diantisipasi dengan baik.
Ia mengingatkan agar masyarakat tetap berpegang pada nilai-nilai agama serta budaya lokal sebagai benteng utama dalam menghadapi arus informasi yang begitu cepat.
Ponpes Hijrah Medinah Terus Berkembang
Pimpinan Ponpes Hijrah Medinah, Irwan Gusrianto, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan atas dukungan terhadap perkembangan pesantren.
Ia menjelaskan wisuda tahun ini diikuti 130 santri dengan capaian hafalan mulai dari juz 1 hingga juz 6. Menurutnya, hafalan Al-Qur’an tidak hanya berhenti pada kemampuan mengingat, tetapi harus diiringi dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari sehingga melahirkan pribadi yang berakhlak Qurani.
Irwan juga mengungkapkan selama perjalanan lebih dari satu dekade, Ponpes Hijrah Medinah terus berkembang sejak berdiri pada 2016. Saat ini, lembaga tersebut menaungi pendidikan mulai dari TKIT, SDIT, SMPIT hingga MA Terpadu dengan total 356 siswa dan didukung sekitar 50 tenaga kependidikan.
“Para santri tidak hanya dibekali hafalan Al-Qur’an, tetapi juga didorong untuk berprestasi di bidang akademik sebagai bekal menghadapi masa depan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengimbau para orang tua agar terus menjaga hafalan anak-anaknya di rumah. Menurutnya, peran keluarga sangat penting dalam mempertahankan dan menguatkan hafalan agar tetap terjaga sesuai tuntunan Islam.
Ia juga menyampaikan pelaksanaan wisuda di luar lingkungan sekolah merupakan yang pertama kali dilakukan, karena pesantren tengah melakukan pembangunan dua ruang belajar baru yang didukung melalui pokok pikiran anggota DPRD Pessel, Muhamad Dardak.
Akhirussanah Tandai Selesainya Masa Pendidikan
Lebih jauh ia menjelaskan, Akhirussanah merupakan penanda berakhirnya masa pendidikan bagi siswa tingkat SD dan SMP di lingkungan pesantren.
Sedangkan dari 130 wisudawan dan wisudawati saat itu capaian predikat kelulusan terbagi dalam bentuk Mumtaz (istimewa), Jayyid Jiddan (sangat memuaskan), Jayyid (memuaskan), dan Maqbul (cukup).
“Saya berharap momentum ini juga menjadi langkah awal bagi para santri Akhirussanah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan bekal ilmu dan akhlak yang kuat,” harapnya.
Sementara itu, Kasi Pontren Kemenag Pessel, Sudirman, menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada para santri yang diwisuda serta siswa kelas VI dan IX yang mengikuti Akhirussanah.
Ia menegaskan Kementerian Agama mendukung penuh program pemerintah daerah dalam pengembangan pendidikan keagamaan di Pesisir Selatan.
“Saat ini terdapat 13 pesantren di Pesisir Selatan dengan berbagai pola pendidikan, mulai dari umum, madrasah, hingga salafiyah,” ujarnya.
Kemenag, lanjutnya, terus berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan pesantren sesuai standar yang ditetapkan, sekaligus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat pendidikan keagamaan.
Sudirman juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi pergaulan anak, terutama di tengah maraknya pengaruh negatif seperti kenakalan remaja, pergaulan bebas, narkoba, dan fenomena sosial lainnya.
Ia menegaskan menjauh dari nilai-nilai Al-Qur’an menjadi salah satu penyebab utama munculnya perilaku menyimpang tersebut, sehingga para santri diharapkan tetap menjaga hafalan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. (niks)






