Padang, Javanusa—Kawasan bersejarah Taman Kota Tua di Kelurahan Pondok, Kecamatan Padang Barat, kini memiliki daya tarik baru yang sukses memikat perhatian masyarakat luas.
Pada Sabtu (9/5/2026) malam, denyut nadi pariwisata di kawasan warisan budaya tersebut kembali berdetak kencang melalui gelaran bertajuk Pentas Seni dan Budaya.
Agenda yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota (Pemko) Padang melalui Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ini berhasil mengubah suasana akhir pekan menjadi ruang interaksi publik yang meriah.
Lebih dari sekadar hiburan sesaat, acara ini merupakan langkah nyata dari peta jalan besar revitalisasi pariwisata di ibu kota Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).
Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, yang hadir langsung memantau jalannya acara, mengaku takjub melihat antusiasme ribuan pengunjung serta semangat para penampil yang melibatkan siswa-siswi se-Kota Padang.
“Sebenarnya pada hari ini saya cukup terkejut. Hari ini pertama kali (saya) mengikuti acara ini, kegiatannya cukup menyita waktu masyarakat karena jalan cukup padat dan antusiasnya sangat baik,” tutur Yeni Yuliza.
Menurut Yeni, keramaian masif yang tercipta membuktikan masyarakat sangat merindukan dan membutuhkan ruang panggung seni budaya.
Hal ini tidak hanya menjadi wadah unjuk kreativitas, tetapi juga memupuk nilai-nilai pelestarian budaya yang beriringan dengan visi Program Unggulan (Progul) Jelajah Padang.
Menilik sejarahnya, kegiatan ruang publik ini sejatinya telah dirintis sejak pertengahan tahun 2025 dengan nama Nongkrong Kreatif, yang awalnya dipusatkan di Gelanggang Medan Nan Bapaneh, Pujasera Pantai Padang.
Memasuki tahun 2026, guna menepati komitmen untuk menghidupkan kembali kawasan bersejarah, acara ini secara resmi dipindahkan ke kawasan Kota Tua. Pasca-Lebaran tahun ini, kegiatan tersebut berganti jenama menjadi Pentas Seni dan Budaya.
Kehadiran panggung seni ini merupakan aktivasi langsung dari berbagai inisiatif strategis pemerintah, mulai dari Padang Balomba, Padang Juara, hingga UMKM Naik Kelas. Ke depannya, Dinas Pariwisata telah merancang integrasi yang lebih solid antara sektor hiburan dan pemberdayaan ekonomi kreatif.
“Ke depannya kita akan mencoba menggabungkan dengan kegiatan kuliner. Jadi di samping ada kegiatan wisata, kita gabungkan dengan UMKM-UMKM yang ada,” jelas Yeni.
Langkah pengembangan ini diharapkan mampu memperpanjang durasi kunjungan wisatawan dan meningkatkan perputaran ekonomi lokal. “Kita akan tata dengan penonton melihat dan juga belanja, di situ akan meningkatkan UMKM sehingga inisiatif Gastronomi Padang akan terwujud,” tambahnya.
Di atas panggung, kemeriahan yang disuguhkan tak kalah memukau. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari delegasi SD Negeri 21 Sungai Bangek.
Walau berlokasi di area pinggiran kota, sekolah ini sukses menggebrak pusat kota dengan membawakan tiga tarian lintas etnis, meliputi Tari Sisi Batu Manikam dari Sumatera Utara, tarian bernuansa India, hingga atraksi budaya Tionghoa.
Santi Ramadani, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SD Negeri 21 Sungai Bangek, menceritakan kebanggaannya melihat keberanian para siswa saat tampil malam itu.
“Anak-anak saya tampil tiga kegiatan malam ini, ketiga-tiganya seni tari dan beragam dari berbagai etnis budaya,” ujar Santi menceritakan semangat anak didiknya.
Baginya, panggung yang padat penonton ini adalah sarana penting untuk melatih keberanian dan kompetensi diri generasi muda.
Dengan perpaduan arsitektur kolonial yang estetik, atraksi budaya lintas etnis yang memukau, serta sajian kuliner lokal yang menggoda, kawasan Kota Tua Padang kini bersiap menyongsong era baru.
Bukan sekadar tempat singgah akhir pekan, melainkan destinasi wisata malam unggulan yang menggerakkan roda ekonomi kreatif dan pariwisata masyarakat. (*/red)






