Jakarta, Javanusa—Produk fesyen dan aksesori Indonesia mencatat potensi transaksi sebesar USD 1 juta atau sekitar Rp17 miliar dalam ajang Pop Up Store Kobe-Jepang 2026.
Capaian ini menunjukkan peningkatan daya saing produk kreatif nasional di pasar Jepang yang dikenal ketat dan berstandar tinggi. Ajang promosi tersebut berlangsung pada 15–21 April 2026 di Kobe, Jepang.
Potensi transaksi sebesar USD 1 juta terepresentasi melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Dan Liris dari Indonesia dan Bee-First Co, Ltd dari Jepang pada Jumat (17/4).
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi dan Konsul Jenderal RI di Osaka John Tjahjanto menyaksikan penandatanganan secara daring. Sementara itu, Kepala Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Osaka Didit Akhdiat Suryo hadir langsung.
Puntodewi menilai capaian tersebut menjadi indikator meningkatnya daya saing produk Indonesia di pasar global. Ia menegaskan bahwa produk Indonesia semakin diterima, terutama pada segmen yang menuntut kualitas dan desain tinggi.
Strategi Perluasan Pasar dan Kolaborasi
Puntodewi menjelaskan, partisipasi Indonesia dalam Pop Up Store Kobe-Jepang 2026 menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pasar. Selain itu, kegiatan ini memperkuat citra produk fesyen, aksesori, dan perhiasan Indonesia di Jepang.
Kemendag melalui ITPC Osaka berkolaborasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Osaka dalam kegiatan ini. Sebanyak 16 jenama Indonesia berpartisipasi melalui Paviliun Indonesia bertema “Spring 2026: Indonesia Fashion and Cultural Promotion Event in Kobe-Japan”.
Peserta pameran terdiri atas lima jenama aksesori, dua jenama perhiasan, dan sembilan jenama fesyen. Jenama aksesori meliputi Kay Leather, Shamara, Miumosa, Malva, dan Long Story Short.
Jenama perhiasan terdiri dari Komang Tri Kreasi dan Manika Jewelry. Sementara itu, jenama fesyen mencakup Prosa Archive, Kain Ibu, Neu Men, Dama Kara, Aruna Creative, Rosita Batik Shibori, Tieka Huza, Dan Liris, dan JS Cultura.
Produk yang ditampilkan menonjolkan desain, kualitas, serta sentuhan budaya sebagai keunggulan produk kreatif nasional.
Dukungan Diplomasi Ekonomi Indonesia
Konsul Jenderal RI di Osaka, John Tjahjanto, menyatakan KJRI Osaka terus mendukung promosi produk Indonesia di Jepang. Ia menegaskan bahwa langkah ini sekaligus memperkuat diplomasi ekonomi.
Menurutnya, perpaduan kreativitas Indonesia dengan preferensi pasar Jepang menjadi keunggulan dalam mengembangkan produk fesyen yang kompetitif.
Kepala ITPC Osaka Didit Akhdiat Suryo menekankan pentingnya promosi yang terarah dan berkelanjutan. Ia menyebut pendekatan storytelling dan koneksi emosional dengan konsumen Jepang menjadi kunci penetrasi pasar.
Kerja Sama dan Ekspansi Bisnis
CEO PT Dan Liris, Michelle Tjokrosaputro, menyampaikan bahwa kerja sama ini membuka peluang ekspansi yang lebih luas. Ia menilai kolaborasi dengan mitra lokal membantu memahami kebutuhan pasar Jepang.
Menurutnya, langkah tersebut memastikan produk yang ditawarkan sesuai dengan standar dan preferensi konsumen Jepang yang selektif.
Promosi Terintegrasi dan Peragaan Busana
Rangkaian promosi di Kobe semakin kuat melalui peragaan busana di kawasan Sannomiya Central Street pada Minggu (19/4). Lokasi ini menjadi pusat keramaian Kota Kobe dengan estimasi pengunjung mencapai 100 ribu orang.
Sebanyak 39 model asal Jepang menampilkan 230 koleksi produk Indonesia. Kegiatan ini menjadi salah satu ajang promosi paling masif di ruang publik Jepang.
Acara tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Kobe, President Kobe Chambers of Commerce and Industry Woman’s Association, Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, serta pelaku industri fesyen Jepang.
Penjajakan Bisnis dan Tren Pasar Jepang
Delegasi Indonesia juga mengunjungi sejumlah perusahaan tekstil Jepang seperti Stylem, Uni Textile, dan Caitac. Kunjungan tersebut dirangkai dengan penjajakan kerja sama bisnis (business matching) pada Senin (20/4).
Hasil pertemuan menunjukkan konsumen Jepang cenderung menyukai desain sederhana. Namun, mereka tetap terbuka terhadap sentuhan etnik yang proporsional.
Sebagai penutup, panitia menggelar seminar strategi pemasaran digital pada Selasa (21/4). Seminar ini membekali pelaku usaha Indonesia untuk memahami perilaku konsumen Jepang dan mengoptimalkan promosi melalui media sosial.
Kinerja Perdagangan Indonesia-Jepang
Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 32,08 miliar. Nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 17,61 miliar.
Di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), Jepang menjadi tujuan ekspor terbesar kedua dengan nilai USD 1,02 miliar atau 8,53 persen dari total ekspor nasional.
Tren positif berlanjut pada awal 2026. Ekspor TPT periode Januari–Februari mencapai USD 180 juta atau meningkat 3,59 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor tersebut meliputi pakaian jadi, kain, benang, serat sintetis, serta produk kreatif fesyen dan interior. (*/red)






