Javanusa.com—Banjir bandang menerjang kawasan Rasuwa, Nepal utara, secara tiba-tiba pada Rabu pagi, (26/8/2026). Sedikitnya 157 orang meninggal dunia, sementara 403 wisatawan masih belum diketahui keberadaannya.
Air bercampur lumpur dan material longsor menyapu permukiman, kendaraan, pasar, jalan, serta berbagai fasilitas di sepanjang aliran sungai. Tim penyelamat masih menyisir wilayah Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan kawasan hilir lainnya untuk mencari korban.
Angka korban tersebut mengacu pada laporan saat jumlah jenazah yang ditemukan mencapai 95 orang. Laporan berikutnya pada hari yang sama menyebut jumlah korban terus bertambah seiring proses pencarian.
Banjir Datang Tanpa Peringatan
Dilansir dari Nepal News, banjir mulai menerjang sistem sungai Bhote Koshi sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Gelombang air datang dari wilayah Tibet sebelum memasuki Nepal melalui distrik Rasuwa.
Timure dan Syabrubesi menjadi dua wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. Kedua kawasan tersebut berada dekat perbatasan Nepal-Tiongkok dan menjadi jalur penting perdagangan serta perjalanan menuju sejumlah lokasi ziarah.
Dalam waktu singkat, arus besar menghanyutkan rumah, toko, kendaraan, dan berbagai bangunan di sekitar sungai. Kondisi tersebut membuat warga dan wisatawan kesulitan menyelamatkan diri.
Bencana juga meluas ke Nuwakot dan Dhading hingga wilayah hilir. Material lumpur dan puing kemudian terbawa jauh dari lokasi awal banjir.
Longsoran Es dan Batu Diduga Picu Banjir
Penyebab pasti banjir bandang Nepal masih dalam penyelidikan. Namun, dugaan awal mengarah pada longsoran material es dan batu yang menutup aliran Sungai Lhende.
Material tersebut diduga berasal dari kawasan pegunungan di sekitar perbatasan Nepal-Tibet. Longsoran kemudian menghambat aliran sungai sebelum air menerobos bendungan alami itu dalam volume besar.
Analisis citra satelit juga menunjukkan adanya longsoran salju dan batu di sekitar perbatasan Nepal-Tiongkok. Peneliti menyebut peristiwa tersebut berpotensi memicu banjir beruntun di sepanjang aliran sungai.
Pada waktu yang hampir bersamaan, alat pemantau seismik mencatat gempa berkekuatan 4,4 di kawasan perbatasan Nepal-Tiongkok. Namun, hubungan langsung antara gempa tersebut dan longsoran masih membutuhkan pembuktian ilmiah lebih lanjut.
Para ahli juga mempertimbangkan kemungkinan jebolnya danau glasial atau glacial lake outburst flood (GLOF). Pemerintah Nepal masih menunggu analisis lapangan dan citra satelit untuk memastikan pemicu utama bencana.
95 Orang Tewas, Korban Masih Bertambah
Kepolisian Nepal melaporkan sedikitnya 95 jenazah telah ditemukan hingga Rabu malam. Korban berasal dari sejumlah wilayah yang terdampak aliran banjir dan material puing.
Jenazah ditemukan di sepanjang tepian sungai serta kawasan yang tertutup lumpur. Kuatnya arus membuat material dan korban terbawa jauh dari lokasi banjir pertama.
Kepolisian memperingatkan jumlah korban dapat meningkat. Tim pencarian masih menghadapi medan sulit dan akses menuju sejumlah daerah terdampak juga terputus.
403 Wisatawan Belum Ditemukan
Banjir bandang Nepal juga memutus kontak dengan ratusan wisatawan. Nepal Tourism Board mencatat 403 wisatawan belum diketahui keberadaannya.
Jumlah tersebut terdiri atas 62 warga Nepal dan 341 warga negara asing. Dari keseluruhan wisatawan yang dilaporkan hilang, 203 merupakan laki-laki dan 200 perempuan.
Warga India menjadi kelompok terbesar dengan 133 orang. Daftar tersebut juga mencakup 47 warga Amerika Serikat, 34 Australia, 33 Inggris, 24 Kanada, dan 19 Malaysia.
Selain itu, terdapat tujuh warga Ukraina, enam warga Singapura, enam Afrika Selatan, serta masing-masing lima warga Selandia Baru dan Jepang. Data juga mencatat warga Jerman, Prancis, Rusia, Spanyol, Irlandia, dan Belanda.
Para wisatawan tersebut melakukan perjalanan menuju Gosaikunda dan Kailash Mansarovar melalui sejumlah perusahaan perjalanan. Pihak berwenang masih melakukan verifikasi karena jaringan komunikasi di sejumlah wilayah terdampak belum sepenuhnya pulih.
Puluhan Personel Keamanan Juga Hilang
Banjir turut memutus kontak dengan personel keamanan yang bertugas di kawasan terdampak. Pada laporan awal, 28 anggota kepolisian Nepal tercatat belum ditemukan.
Laporan yang lebih baru dari pemerintah Nepal menyebut total 85 personel keamanan dari tiga institusi masih belum terhubung. Jumlah itu mencakup anggota Angkatan Darat Nepal, Kepolisian Nepal, dan Armed Police Force.
Kondisi tersebut menunjukkan luasnya dampak bencana. Korban dan orang yang belum ditemukan berasal dari warga setempat, pekerja, wisatawan, hingga petugas keamanan.
Infrastruktur dan Jalur Perdagangan Rusak
Banjir menghantam kawasan Timure dan Syabrubesi yang memiliki peran penting dalam aktivitas perdagangan Nepal-Tiongkok. Jalan, jembatan, kendaraan, bangunan komersial, serta fasilitas perbatasan mengalami kerusakan.
Sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air juga terdampak. Pemerintah Nepal melaporkan kerusakan pada infrastruktur listrik dan pembangkit akibat banjir serta material longsor.
Sekitar 19 jembatan dan puluhan kilometer ruas jalan turut terdampak. Kerusakan tersebut menyulitkan tim penyelamat mencapai sejumlah lokasi dan memperlambat proses evakuasi.
Tim Penyelamat Terus Mencari Korban
Pemerintah Nepal mengerahkan aparat keamanan dan helikopter untuk mendukung operasi pencarian serta evakuasi. Tim penyelamat bekerja di tengah lumpur, puing bangunan, dan akses jalan yang rusak.
Petugas juga membawa korban yang berhasil dievakuasi menuju fasilitas kesehatan. Pada saat yang sama, pemerintah meminta warga di kawasan berisiko untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir susulan.
Hingga laporan ini disusun, penyebab pasti banjir masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. Proses pencarian korban dan pendataan orang yang belum ditemukan juga terus berlangsung. (*)






