Shanghai, Javanusa—Kemitraan Indonesia dan Tiongkok terus menunjukkan posisi penting dan menjanjikan dalam perdagangan global.
Tiongkok menjadi mitra utama ekspor sektor pertanian dan pangan Indonesia dengan kontribusi yang terus meningkat setiap tahun.
Permintaan domestik Tiongkok terhadap produk pertanian dan makanan olahan Indonesia juga terus mengalami pertumbuhan signifikan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri pada Forum Bisnis Indonesia–Tiongkok bertema Advancing Trade, Enhancing Partnership.
Kegiatan berlangsung di Hotel Intercontinental Jing’an, Shanghai, Tiongkok, Selasa (19/5), dan dihadiri 80 peserta. Forum ini digelar bersamaan dengan pameran SIAL Shanghai.
Nilai Ekspor Pertanian dan Pangan Terus Tumbuh
Wamendag Roro menyampaikan Tiongkok menjadi salah satu importir terbesar dunia untuk produk pertanian dan makanan olahan. Permintaan dari Tiongkok terus meningkat termasuk untuk produk asal Indonesia.
Pada 2025, nilai ekspor sektor pertanian Indonesia ke Tiongkok mencapai USD 1,55 miliar. Pertumbuhan rata-rata tercatat 10,8 persen dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, ekspor makanan olahan mencapai USD 386,48 juta. Pertumbuhan tahunan sektor ini berada pada angka 2 persen selama periode 2021–2025.
Komoditas Unggulan Indonesia ke Tiongkok
Komoditas utama ekspor Indonesia ke Tiongkok mencakup sarang burung walet, buah-buahan, hasil perikanan, dan rumput laut.
Selain itu, produk kelapa, rempah, dan kopi juga menjadi komoditas unggulan. Minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya berperan penting dalam hubungan dagang kedua negara.
Nilai ekspor CPO dan turunannya ke Tiongkok tercatat mencapai USD 3,29 miliar pada 2025. Komoditas ini memperkuat posisi Indonesia di pasar Tiongkok.
Dukungan Perjanjian Perdagangan Internasional
Hubungan ekonomi Indonesia–Tiongkok diperkuat melalui berbagai perjanjian perdagangan bebas.
Instrumen tersebut meliputi ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Pelaku usaha diharapkan memanfaatkan perjanjian ini untuk meningkatkan perdagangan bilateral.
Potensi Pasar dan Peluang Ekspor
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyampaikan Tiongkok merupakan mitra dagang strategis Indonesia.
Potensi permintaan produk pertanian RRT mencapai USD 31 miliar. Pelaku usaha Indonesia diharapkan dapat menangkap peluang pasar yang masih terbuka luas ini.
Forum bisnis ini turut dihadiri Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun dan Konsul Jenderal RI Shanghai Berlianto Situngkir.
Hadir pula Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan Miftah Farid dan Bank Indonesia Anastuty Kusumowardani.
Sebanyak 22 perusahaan Indonesia ikut serta membawa produk pertanian, buah, kopi, gula kelapa, hasil perikanan, makanan olahan, teripang, dan turunan kelapa.
Penandatanganan MoU dan Transaksi Dagang
Dalam forum tersebut, ditandatangani tujuh Nota Kesepahaman (MoU) antara perusahaan Indonesia dan importir Tiongkok.
Produk yang tercakup meliputi sarang burung walet, rumput laut, kopi, rempah, teripang, produk kelapa, durian beku, dan buah tropis.
Wamendag Roro menyampaikan potensi transaksi dari MoU di SIAL Shanghai dan Misi Dagang mencapai USD 60,3 juta.
Sementara itu, business matching mencatat potensi transaksi USD 25,78 juta. Produk yang diminati meliputi rumput laut, arang kelapa, lada hitam, bubuk kakao, dan buah tropis.
Peluang Pasar Rumput Laut dan Durian
Perwakilan PT Bahari Agro Indonesia, Hanum, menyampaikan apresiasi atas peluang pertemuan dengan buyer baru.
Perusahaan mendapat permintaan rumput laut kering jenis cotoni dan spinosum dari Tiongkok, termasuk Shanghai Briliant Gum.
Sekjen Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia Adityo Pradewo menyebut permintaan durian beku sangat tinggi. Sebanyak 4.077 ton durian beku telah diekspor ke Tiongkok pada Januari–April tahun ini. Indonesia berharap protokol ekspor durian segar segera disepakati kedua negara.
Kunjungan ke Industri Pengolahan Rumput Laut
Wamendag Roro meninjau pabrik Shanghai Briliant Gum (BLG), perusahaan bioteknologi pengolah hidrokoloid.
Produk BLG digunakan di industri makanan, kesehatan, kosmetik, farmasi, dan konstruksi. Perusahaan ini memiliki pabrik di Tiongkok dan satu pabrik di Pinrang, Sulawesi Selatan sejak 2017.
BLG berharap dapat menambah pemasok rumput laut dari Indonesia untuk kebutuhan produksi. Wamendag menyampaikan apresiasi atas investasi BLG dan memperkenalkan PT Bahari Agro Indonesia sebagai mitra potensial.
Sekilas Perdagangan Indonesia–Tiongkok
Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Periode 2021–2025 mencatat pertumbuhan perdagangan 7,24 persen.
Pada tahun lalu, ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai USD 67 miliar. Sementara impor dari Tiongkok mencapai USD 87,5 miliar. Pada triwulan I–2026, ekspor tercatat USD 16,9 miliar dan impor USD 22,1 miliar.
Ekspor Indonesia didominasi mineral, batu bara, besi dan baja, nikel, serta CPO. Impor dari Tiongkok didominasi elektronik, kendaraan listrik, bahan baku kimia, mesin, dan barang modal industri. (*/red)






