Forum Internasional di Wina, Kementan Perkuat Jejaring Diagnostik Veteriner Indonesia

Penulis -

Rabu, 19 Agustus 2026 - 06:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kementan memperkuat jejaring diagnostik veteriner Indonesia melalui forum VETLAB Network di Wina dan kerja sama regional ASEAN. (Foto: Ditjen PKH Kementan)

Kementan memperkuat jejaring diagnostik veteriner Indonesia melalui forum VETLAB Network di Wina dan kerja sama regional ASEAN. (Foto: Ditjen PKH Kementan)

Wina, Javanusa—Indonesia memperkuat posisi dalam jejaring kesehatan hewan regional dengan mengembangkan sistem laboratorium veteriner nasional.

Upaya ini ditujukan untuk mempercepat deteksi penyakit, meningkatkan surveilans, serta mendukung pengendalian penyakit berbasis bukti.

Kementerian Pertanian (Kementan) memaparkan langkah tersebut dalam Coordination Meeting of the Veterinary Diagnostic Laboratory Network (VETLAB Network) with Directors of African and Asian Veterinary Laboratories di Markas Besar International Atomic Energy Agency (IAEA), Wina, Austria, 17–21 Agustus 2026.

Forum internasional itu mempertemukan sekitar 50 direktur dan pimpinan laboratorium veteriner dari Asia dan Afrika. Para peserta juga berdiskusi dengan pakar kesehatan hewan dari IAEA, Food and Agriculture Organization (FAO), World Organisation for Animal Health (WOAH), serta laboratorium rujukan WOAH.

Indonesia Punya Sembilan Disease Investigation Centre

Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki jejaring laboratorium kesehatan hewan yang tersebar di berbagai wilayah.

Jejaring tersebut mencakup sembilan Disease Investigation Centre (DIC). Setiap pusat melayani kebutuhan kesehatan hewan di tiga hingga lima provinsi.

“Indonesia memiliki jejaring laboratorium kesehatan hewan yang tersebar di berbagai wilayah, dengan sembilan Disease Investigation Centre yang masing-masing melayani tiga hingga lima provinsi. Jejaring ini menjadi bagian penting dalam mendukung investigasi penyakit, surveilans, diagnosis laboratorium, dan program pengendalian penyakit hewan di tingkat nasional,” ucapnya pada agenda yang dilaksanakan pada Senin (17/8/2026).

Kesembilan DIC menjalankan dukungan teknis bagi program kesehatan hewan sesuai wilayah kerja masing-masing. Selain jaringan tersebut, Indonesia juga memiliki sejumlah laboratorium nasional dengan fungsi khusus.

Pusat Veteriner Farma (PUSVETMA), misalnya, menangani produk biologis veteriner, termasuk vaksin dan bahan biologis lainnya. Sementara itu, National Veterinary Drug Assay Laboratory (NVDAL) atau Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) menjalankan pengujian serta pengendalian mutu obat hewan.

Baca Juga :  Uji Jalan B50 Sektor Otomotif Tunjukkan Hasil Aman, Implementasi Biodiesel 2026 Dipercepat

Indonesia juga memiliki laboratorium nasional yang mendukung penilaian mutu dan keamanan produk hewan. Infrastruktur tersebut menjadi fondasi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan hewan nasional sekaligus memperluas kontribusi Indonesia di tingkat regional.

DIC Wates Perkuat Bioinformatika Asia Tenggara

Salah satu kapasitas yang menjadi perhatian dalam forum tersebut ialah peran DIC atau Balai Besar Veteriner Wates sebagai ASEAN Regional Reference Centre for Bioinformatics.

DIC Wates telah berkontribusi meningkatkan kemampuan bioinformatika laboratorium kesehatan hewan di Indonesia dan Asia Tenggara. Fokusnya mencakup analisis serta interpretasi data genom patogen.

Kemampuan tersebut mendukung diagnosis penyakit dan investigasi epidemiologi. Data genom juga membantu pemerintah melakukan penilaian risiko dan menentukan kebijakan pengendalian penyakit secara berbasis bukti.

“DIC Wates memiliki peran strategis sebagai Asian Regional Reference Centre for Bioinformatics. Kapasitas ini tidak hanya mendukung kebutuhan Indonesia, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan analisis genomik dan bioinformatika di kawasan Asia Tenggara,” tambah Hendra.

Penguatan kemampuan tersebut juga berkaitan dengan ketahanan pangan. Informasi mengenai karakteristik dan persebaran patogen dapat membantu pemerintah menentukan respons pengendalian secara lebih tepat.

BBPMSOH Jadi Rujukan Pengujian Vaksin Hewan

Kontribusi Indonesia di kawasan juga terlihat melalui BBPMSOH. Laboratorium tersebut berperan sebagai ASEAN Regional Reference Laboratory for Animal Vaccine Testing.

BBPMSOH ikut mengembangkan ASEAN Standards for Animal Vaccines. Standar bersama itu menjadi rujukan untuk mutu, keamanan, efikasi, dan pengujian vaksin hewan.

Laboratorium tersebut juga berkontribusi dalam pengembangan ASEAN Good Manufacturing Practices (GMP) for Animal Vaccines. Inisiatif ini bertujuan mendorong konsistensi mutu dan pengendalian proses produksi vaksin.

Indonesia turut mengusulkan Regional Reference-Laboratory Network for Animal Vaccine Testing. Jaringan tersebut diarahkan untuk memperkuat kolaborasi, pengujian rujukan, pertukaran keahlian teknis, serta kapasitas laboratorium pengujian vaksin di kawasan.

Baca Juga :  Indonesia dan Maroko Jajaki PTA, Bidik Perluasan Ekspor Manufaktur dan Pasokan Fosfat Industri

“Selain diagnosis penyakit, Indonesia juga memiliki kapasitas dalam pengujian mutu vaksin melalui National Veterinary Drug Assay Laboratory. Kapasitas ini menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam mendukung penjaminan mutu vaksin dan penguatan standar produk veteriner di kawasan Asia,” ungkap Hendra.

Peran tersebut memperkuat posisi Indonesia dalam membangun referensi teknis. Sistem pengujian vaksin bersama juga dapat membantu meningkatkan konsistensi standar veteriner di Asia Tenggara.

Kerja Sama Lintas Negara Jadi Kunci

Kementan menilai kerja sama laboratorium antarnegara semakin penting karena penyakit hewan tidak mengenal batas wilayah. Pertukaran data, pengalaman, dan keahlian menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan regional.

Melalui forum VETLAB Network, Indonesia tidak hanya membagikan pengalaman. Delegasi juga memperoleh kesempatan mempelajari praktik negara lain dalam pengembangan diagnostik dan pengendalian penyakit hewan.

Pandangan serupa disampaikan Friedrich Schmoll dari Austrian Agency for Health and Food Safety (AGES) Austria. Ia menekankan pentingnya sistem peringatan dini, komunikasi cepat, serta kolaborasi lintas negara.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan dalam menghadapi penyakit hewan menular maupun penyakit yang kembali muncul.

“Peringatan dini dan komunikasi ilmiah lintas batas sangatlah penting,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Friedrich dalam paparannya.

Indonesia Dorong Penguatan Jejaring Veteriner

Kementan mendorong pengembangan kerja sama melalui pertukaran pengetahuan dan teknologi. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan jejaring laboratorium, serta pengembangan standar dan metode diagnostik juga menjadi perhatian.

Dengan sembilan DIC dan sejumlah laboratorium nasional khusus, Indonesia memiliki infrastruktur untuk memperkuat sistem kesehatan hewan. Peran DIC Wates dan BBPMSOH di tingkat ASEAN turut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas kontribusi regional.

Bagi Kementan, penguatan laboratorium memiliki dampak langsung terhadap pengendalian penyakit. Deteksi yang lebih cepat dapat menghasilkan keputusan yang lebih tepat, melindungi peternak, serta menjaga keamanan pangan masyarakat.

Baca Juga :  Menkeu Purbaya Yakinkan IMF dan Bank Dunia soal Kekuatan Fundamental Ekonomi Indonesia

Indonesia kini tidak hanya membangun kapasitas untuk kebutuhan dalam negeri. Melalui kerja sama regional, Indonesia juga berbagi pengetahuan dan keahlian untuk memperkuat kesehatan hewan serta ketahanan pangan di kawasan. (*)

Berita Terkait

Azerbaijan Larang Siswi Berhijab Masuk Sekolah, Aksi Protes Meluas hingga Istanbul
Sulam Kapalo Samek Padang Pariaman Tampil di Belgia, Bawa Kriya Minang ke Panggung Eropa
Banjir Bandang Nepal Tewaskan 157 Orang, 403 Wisatawan Hilang
Fadly Amran Perkuat Kerja Sama dengan Foshan Polytechnic, Program Padang Juara Siapkan Dual Degree ke China
Kunjungan Balasan ke Tiongkok, Wali Kota Fadly Amran Perkuat Kerja Sama Pendidikan Padang-Guangdong
Gema Takbir di Paris, Diaspora Indonesia Rasakan Kehangatan di Tanah Rantau
Presiden Prabowo Salat Iduladha 1447 H di Paris, Silaturahmi Hangat dengan Diaspora Indonesia
Tiongkok Konsisten Bidik Produk Pertanian Indonesia, Ekspor Tembus Miliaran Dolar

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:59 WIB

Progres Flyover Sitinjau Lauik I Capai 35,275 Persen, Jembatan 1 Rampung

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:17 WIB

Pemerintah Siapkan Storage di Dalam Negeri, Impor Crude Tak Lagi Mampir ke Negara Lain

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:02 WIB

Pemko Padang Lengkapi Fasilitas Basement Blok II dan III Pasar Raya, Pedagang Diminta Mulai Berjualan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Tekan Gejolak Harga Pangan, Pemerintah Gelar GPM Serentak di 38 Provinsi

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Gerakan Pangan Murah Payakumbuh, Cabai Merah Dijual Rp50 Ribu per Kg

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Pemko Padang dan UPTD PPD Padang Perkuat Sinergi, Optimalkan PAD Lewat Inovasi Layanan Pajak Kendaraan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:14 WIB

Gandeng BRI, Pemko Padang Pacu PAD Lewat Digitalisasi Retribusi dan Pajak Daerah

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:25 WIB

Optimalkan PAD Lewat Digitalisasi, Pemko Padang Jajaki Kerja Sama dengan BRI

Berita Terbaru