Produksi Gula Nasional 2025 Capai 2,67 Juta Ton, Kementan Percepat Program Swasembada

Penulis -

Minggu, 8 Februari 2026 - 07:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat produksi gula nasional 2025 menembus 2,67 juta ton. (Foto: Kementan)

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat produksi gula nasional 2025 menembus 2,67 juta ton. (Foto: Kementan)

Jakarta, Javanusa—Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat produksi gula nasional 2025 menembus 2,67 juta ton berdasarkan evaluasi akhir musim giling.

Angka ini setara 97,54 persen dari target dan menjadi sinyal penguatan pasokan gula dalam negeri menuju swasembada.

Kementan menyebut kenaikan produksi didorong lonjakan hasil tebu dan intervensi program di tingkat hulu hingga hilir. Pemerintah kini mempercepat sejumlah langkah strategis agar target swasembada gula 2027 tercapai.

Sepanjang 2025, produksi tebu nasional tercatat mencapai 39,07 juta ton. Produktivitas rata-rata menyentuh 69,35 ton per hektare dan melampaui target Rencana Strategis (Renstra) Perkebunan.

Kementan menilai capaian ini menunjukkan dampak nyata program perbaikan budidaya. Pendampingan teknis dan peremajaan tanaman menjadi faktor pendorong utama di lapangan.

Selain itu, peningkatan produktivitas terjadi di sejumlah sentra tebu lama maupun kawasan pengembangan baru. Data ini menjadi dasar optimisme pemerintah terhadap penguatan stok gula domestik.

Target Swasembada Gula Nasional 2027

Pemerintah menargetkan produksi gula nasional mencapai 3,27 juta ton pada 2027. Target itu tertuang dalam Roadmap Swasembada Gula Nasional sesuai Kepmenko Nomor 418 Tahun 2023.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan swasembada gula menjadi agenda prioritas sektor pangan. Pemerintah ingin menekan ketergantungan terhadap impor gula konsumsi.

“Swasembada gula adalah keharusan. Pemerintah fokus meningkatkan produktivitas tebu, memperluas areal, menyediakan benih unggul, serta melakukan modernisasi industri gula,” kata Amran dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).

Plt Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menjelaskan peningkatan produksi didorong program bongkar ratoon dan penggunaan varietas tebu unggul. Program ini disertai pendampingan teknis intensif kepada petani.

Menurut dia, perbaikan varietas dan pola tanam berdampak langsung pada rendemen dan hasil panen. Pemerintah juga memperkuat sistem perbenihan nasional untuk menjaga mutu bibit.

Baca Juga :  Pj Wako Andree Algamar dan Kapolresta Padang Ikuti Rakor Ketahanan Pangan Bersama Mentan RI

“Capaian ini didorong berbagai intervensi pemerintah, mulai dari bongkar ratoon, penggunaan varietas unggul, hingga pendampingan petani,” ujar Roni.

Sentra Produksi Tebu Masih Didominasi Jawa Timur

Sebaran produksi tebu nasional masih terkonsentrasi di Jawa Timur sebagai sentra utama. Wilayah lain yang berkontribusi besar antara lain Lampung dan Jawa Tengah.

Namun, pemerintah mulai memperluas pengembangan tebu ke luar Jawa. Kawasan baru tumbuh di Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Langkah ekstensifikasi ini diarahkan untuk memperkuat basis produksi dan mengurangi risiko pasokan. Diversifikasi wilayah juga dinilai penting menghadapi dampak perubahan iklim.

Kementan juga mempercepat revitalisasi pabrik gula untuk meningkatkan efisiensi pengolahan. Modernisasi peralatan diharapkan mampu menekan kehilangan hasil dan menaikkan rendemen.

Dukungan pembiayaan diperluas melalui KUR Khusus Tebu. Petani juga mendapat bantuan alat dan mesin pertanian serta penguatan kelembagaan usaha tani.

Program terintegrasi dari hulu ke hilir ini ditujukan untuk memperbaiki rantai pasok gula nasional. Pemerintah menilai respons petani cukup positif karena berdampak pada produktivitas dan pendapatan.

Tantangan Iklim dan Lahan Masih Jadi Catatan

Pemerintah mengakui sektor pergulaan masih menghadapi tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan. Efisiensi industri gula juga masih perlu ditingkatkan di beberapa daerah.

Meski begitu, Kementan memastikan program peningkatan produksi akan terus berjalan. Konsistensi kebijakan dinilai menjadi kunci mengejar target swasembada.

Dengan tren produksi gula nasional 2025 yang meningkat, pemerintah optimistis peta jalan swasembada tetap berada di jalur. Fokus berikutnya adalah menjaga produktivitas dan kualitas hasil tebu secara berkelanjutan. (*/red)

Berita Terkait

Empat Pasar di Pariaman Dapat Tambahan Anggaran Rehabilitasi Rp4,1 Miliar
Gebyar Pajak 2026, Mahyeldi Dorong Warga Sumbar Makin Taat Bayar Pajak
Rp115 Miliar Disiapkan untuk Pulihkan 38.000 UMKM Terdampak Bencana di Sumbar
SPKLU Center Pertama di Sumbar Diresmikan, Langkah Baru Menuju Green Province  
FIFA ASEAN CUP 2026 Jadi Berkah UMKM, Sehari Bisa Raup Omzet hingga Rp 1 Juta Sehari
Pertamina Cek Kualitas Pertalite di Padang, Sampel Diuji hingga Laboratorium Lemigas
Resmikan Al Harris Umrah, Fadly Amran Dorong Penguatan Ekonomi Haji dan Umrah
Pertalite Diduga Tercampur Material Asing, Pertamina Periksa 6 SPBU di Padang dan Agam

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:59 WIB

Gulat Kota Padang Juara Umum Porprov XVI Sumbar, Raih 16 Medali Emas

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:50 WIB

David Silva Comeback dari Pensiun, Gabung Klub Hong Kong Supreme Sha Tin

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Usai Bertugas di FIFA ASEAN Cup 2026, Pedro Rodriguez Umumkan Pensiun

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Stefano Cugurra Resmi Tangani Semen Padang FC, Targetkan Promosi ke Super League

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:04 WIB

Gateball Kota Padang Raih Emas Perdana Porprov Sumbar 2026 lewat Double Putra

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:54 WIB

Edo Vernando Sumbang Emas Pertama Biliar Kota Padang di Porprov Sumbar 2026

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Jadwal Lengkap Pertamina Grand Prix Indonesia: MotoGP, Sprint, hingga Balapan Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

MotoGP Mandalika 2026: Perebutan Gelar Memanas, Martin dan Marquez Cuma Terpaut 2 Poin

Berita Terbaru