Sepuluh Ribu Rupiah untuk Masa Depan

Penulis -

Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Rusli penjual hanger jilbab.

Ilustrasi Rusli penjual hanger jilbab.

Penulis: Intan Suryani

Javanusa.com—Hujan baru saja berhenti ketika Rusli mulai berteriak.

“Hanger jilbab, sepuluh ribu satu, Buk! Tisu dua lima ribu! Murah, Buk!”

Orang-orang berlalu-lalang di Pasar Raya. Sebagian mengangkat ujung celana agar tidak terkena genangan. Sebagian lagi mempercepat langkah. Langit masih kelabu. Bau tanah basah bercampur dengan aroma ikan, sayur, dan gorengan dari kios-kios di sekitar pasar.

Tidak banyak yang menoleh kepada Rusli.

Ia berdiri di pinggir jalan dengan beberapa hanger jilbab warna-warni di tangannya.

“Hanger jilbab, Buk…”

Suaranya terdengar berat.

Seolah ada sesuatu yang menahannya keluar dari mulut.

Memang ada.

Di sisi kanan wajah Rusli, sebuah benjolan membuat pipinya tampak tidak seperti pipi laki-laki berusia empat puluh sembilan tahun pada umumnya. Gusi yang sakit itu telah bertahun-tahun tinggal bersamanya. Kadang membesar. Kadang mengecil. Tetapi tidak pernah benar-benar pergi.

Rusli sudah sepuluh tahun hidup bersamanya.

Sepuluh tahun.

Orang mungkin bisa menghitungnya sebagai angka.

Rusli menghitungnya sebagai hari-hari ketika ia tetap harus bangun, meski wajahnya sakit.

Hari-hari ketika ia tetap harus naik angkot.

Hari-hari ketika ia tetap harus tersenyum kepada calon pembeli.

Karena sakit boleh tinggal di tubuhnya.

Tetapi empat anaknya tetap harus makan.

Dan sekolah.

—

Nama Rusli sebenarnya jarang disebut orang di pasar.

Sebagian lebih mengenalnya sebagai Buyuang.

Buyuang yang menjual hanger jilbab.

Buyuang yang membawa tisu.

Buyuang yang selalu berteriak menawarkan dagangan dengan suara yang kurang jelas.

Tidak semua orang tahu bahwa sebelum tiba di Pasar Raya, Buyuang harus naik angkot tiga kali dari Lubuk Bintungan.

Ia berangkat dari rumah sekitar pukul sepuluh pagi.

Ketika tiba di Pasar Raya, hari sudah semakin siang.

Ongkos perjalanan pulang-pergi menghabiskan sebagian uang yang dibawanya.

Kadang, setelah seharian berjualan, uang yang tersisa di tangannya tidak jauh berbeda dengan uang yang sudah keluar dari sakunya.

Baca Juga :  Syikul

Tetapi ia tetap datang esok hari.

Dan esoknya lagi.

Dan hari setelahnya.

“Tidak apa-apa,” katanya suatu kali. “Yang penting berusaha dahulu.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi Rusli mengucapkannya seperti seseorang yang sudah tidak memiliki pilihan lain selain percaya bahwa usaha sekecil apa pun suatu hari akan menghasilkan sesuatu.

—

Hanger-hanger yang dibawanya bukan barang yang dibeli dari pabrik.

Rusli membuatnya sendiri.

Dari besi.

Dari selang kecil berwarna-warni.

Dari cetakan sederhana yang ia rakit dengan tangannya sendiri.

Ia bisa membuat puluhan hanger dalam sehari.

Kemudian ia membawa hasil pekerjaannya ke pasar.

Sebagian dijual kepada orang yang lewat.

Sebagian kepada pedagang.

Kadang ada distributor yang memesan banyak.

Di saat seperti itu, Rusli selalu merasa harapannya ikut membesar.

Pesanan banyak berarti pekerjaan banyak.

Pekerjaan banyak berarti uang lebih banyak.

Uang lebih banyak berarti anak-anaknya bisa sekolah tanpa terlalu banyak memikirkan biaya.

Tetapi harapan sering kali datang bersama sesuatu yang tidak dimilikinya.

Modal.

Rusli tidak punya cukup uang untuk membuat ribuan hanger.

Ia juga tidak punya pekerja.

Ia hanya memiliki dua tangan.

Dan satu tubuh yang telah sepuluh tahun melawan penyakit.

—

“Dulu lebih besar.”

Rusli menunjuk pipinya.

“Sekarang sudah agak mengecil.”

Ia mengatakannya biasa saja.

Seolah yang dibicarakannya bukan sesuatu yang tinggal di wajahnya selama satu dekade.

Dulu, kata Rusli, semuanya bermula dari sakit gigi.

Infeksi.

Tidak segera berobat.

Lalu penyakit itu tumbuh dan tumbuh.

Ia pernah disarankan menjalani operasi.

Tetapi Rusli takut.

Bagaimana jika gagal?

Bagaimana jika ia tidak bisa bekerja?

Bagaimana jika ia tidak bisa lagi membuat hanger?

Pertanyaan terakhir itulah yang mungkin paling menakutkan baginya.

Sebab bagi Rusli, kehilangan pekerjaan bukan hanya tentang kehilangan penghasilan.

Itu tentang empat anak yang masih membutuhkan ayahnya.

Baca Juga :  Melodi di Balik Jeruji: Saat Sangkar Lokal Jadi Mahakarya Ekonomi Rakyat

Anak-anak yang mungkin setiap pagi tidak memikirkan berapa rupiah yang harus dikeluarkan ayah mereka untuk naik angkot.

Mereka mungkin hanya tahu bahwa ayah pergi bekerja.

Dan pulang membawa sesuatu.

Kadang uang.

Kadang makanan.

Kadang hanya kelelahan.

—

Rusli memiliki empat orang anak.

Yang paling besar sudah duduk di mdrasah aliyah.

Usianya semakin besar.

Biaya sekolahnya juga semakin besar.

Itulah sebabnya Rusli tidak bisa berhenti.

Suatu hari mungkin tubuhnya boleh sakit.

Tetapi hari itu, anaknya tetap membutuhkan uang.

Mungkin untuk buku.

Mungkin untuk ongkos.

Mungkin untuk sesuatu yang tidak pernah diceritakan anak-anak karena mereka tahu ayahnya sedang berjuang.

Rusli tidak ingin anak-anaknya mengetahui terlalu banyak.

Seorang ayah kadang lebih suka anaknya menganggap uang datang dari pekerjaan biasa.

Bukan dari perjalanan panjang.

Bukan dari rasa sakit.

Bukan dari suara yang harus terus berteriak meskipun mulutnya terasa tidak nyaman.

“Hanger jilbab, Buk…”

Seorang perempuan berhenti.

Ia mengambil satu hanger.

“Berapa?”

“Sepuluh ribu.”

Perempuan itu mengeluarkan uang.

Rusli menerima lembaran itu.

Sepuluh ribu rupiah.

Bagi orang lain, mungkin uang itu cukup untuk membeli sesuatu tanpa banyak dipikirkan.

Bagi Rusli, uang itu adalah bagian dari perjalanan pulang.

Bagian dari makan malam.

Bagian dari biaya sekolah.

Bagian dari harapan.

Ia menyimpan uang itu dengan hati-hati.

Lalu kembali berteriak.

“Hanger jilbab… sepuluh ribu, Buk!”

—

Hari semakin sore.

Hanger di tangan Rusli belum habis.

Tisu masih tersisa.

Sesekali ia berhenti di bawah payung pedagang buah.

Ia mengusap wajahnya.

Kemudian berdiri lagi.

Tidak ada yang menyuruhnya.

Tidak ada bos yang mengawasinya.

Tidak ada mesin absensi yang mencatat jam kerjanya.

Tetapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa pulang sebelum mencoba menjual satu barang lagi.

Empat pasang mata.

Empat anak yang sedang tumbuh.

Empat masa depan yang tidak boleh berhenti hanya karena ayahnya sakit.

Baca Juga :  Delapan Tahun Menjaga Nyawa di Rel Kereta, Begini Kisah Afrizul

Rusli menatap hanger-hanger buatannya.

Besi itu sudah dibentuk.

Selang warna-warni sudah dipasang.

Ia membuatnya dengan tangannya sendiri.

Tiba-tiba ia tersenyum.

Mungkin besok ada pesanan besar.

Mungkin suatu hari ada orang yang mau memberinya modal.

Mungkin ia bisa membeli lebih banyak bahan.

Mungkin ia bisa mempekerjakan orang lain.

Mungkin ia tidak perlu lagi naik angkot tiga kali hanya untuk menjual hanger satu per satu.

Mungkin.

Rusli hidup dari kata itu.

—

Seorang ibu muda berhenti di hadapannya.

“Pak, hangernya masih ada?”

Rusli mengangguk.

“Ada, Buk.”

“Ini kuat?”

“Kuat, Buk. Saya yang buat sendiri.”

Perempuan itu tersenyum.

“Kalau begitu saya ambil dua.”

Dua puluh ribu rupiah.

Rusli menerima uang itu.

Tangannya menggenggamnya beberapa detik lebih lama.

Lalu ia memasukkannya ke saku.

Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Mungkin tentang ongkos pulang.

Mungkin tentang beras.

Mungkin tentang anaknya yang paling besar.

Mungkin tentang modal.

Atau mungkin tentang satu hal yang lebih sederhana:

*besok ia masih harus datang lagi.*

Hujan sudah benar-benar berhenti.

Langit di atas Pasar Raya perlahan berubah warna.

Rusli mengangkat hanger-hanger yang masih tersisa.

Kemudian, dengan wajah yang masih menyimpan sakit sepuluh tahun dan tubuh yang belum menyerah pada hidup, ia kembali berjalan di antara orang-orang.

“Hanger jilbab, Buk…”

Suaranya berat.

Tidak terlalu jelas.

Namun kali ini, seorang perempuan menoleh.

Lalu perempuan lain berhenti.

Dan Rusli kembali mengangkat dagangannya.

Ia tidak sedang menjual hanger.

Ia sedang menjual waktu.

Sedikit demi sedikit.

Sepuluh ribu rupiah.

Sepuluh ribu rupiah.

Sepuluh ribu rupiah.

Untuk memastikan, ketika malam tiba, empat anaknya masih boleh percaya bahwa masa depan mereka sedang diperjuangkan oleh seorang ayah yang belum menyerah.

Bahkan ketika tubuhnya sendiri sudah terlalu lama meminta berhenti. (*)

Berita Terkait

Prakiraan Cuaca Sumbar 4 September 2026: Didominasi Cerah Berawan, Hujan Berpotensi Turun di Sejumlah Wilayah
Rahasia yang Tertinggal di Balik Bangku Belakang
Si Galimbing 2: Bukan Pejabat Lagi
Syikul

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:59 WIB

Gulat Kota Padang Juara Umum Porprov XVI Sumbar, Raih 16 Medali Emas

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Usai Bertugas di FIFA ASEAN Cup 2026, Pedro Rodriguez Umumkan Pensiun

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Stefano Cugurra Resmi Tangani Semen Padang FC, Targetkan Promosi ke Super League

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:04 WIB

Gateball Kota Padang Raih Emas Perdana Porprov Sumbar 2026 lewat Double Putra

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:54 WIB

Edo Vernando Sumbang Emas Pertama Biliar Kota Padang di Porprov Sumbar 2026

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Jadwal Lengkap Pertamina Grand Prix Indonesia: MotoGP, Sprint, hingga Balapan Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

MotoGP Mandalika 2026: Perebutan Gelar Memanas, Martin dan Marquez Cuma Terpaut 2 Poin

Berita Terbaru

Mikel Arteta sepakat memperpanjang kontrak di Arsenal. (Foto: IG @mikelarteta)

Olahraga

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Okt 2026 - 08:06 WIB