Javanusa.com—Kabut asap tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat memengaruhi saluran pernapasan dan mata.
Tenggorokan gatal, batuk, mata merah, hingga sesak napas menjadi sejumlah tanda yang perlu diperhatikan setelah beraktivitas di udara tercemar.
Paparan kabut asap sulit dihindari bagi masyarakat yang harus bekerja, bepergian, atau menjalankan aktivitas di luar rumah.
Karena itu, mengenali respons tubuh sejak awal dapat membantu mengurangi paparan sebelum keluhan berkembang menjadi lebih berat. Dilansir dari Klik Medika, berikut 5 tanda tubuh mulai terdampak kabut asap.
1. Tenggorokan gatal dan terasa kering
Tenggorokan yang mendadak terasa gatal, kering, atau mengganjal dapat muncul setelah seseorang menghirup udara tercemar.
Partikel dan polutan dapat mengiritasi saluran pernapasan. Kondisi tersebut juga dapat memicu rasa tidak nyaman hingga batuk.
Jika keluhan muncul setelah cukup lama berada di luar ruangan, segera kurangi paparan. Berpindahlah ke lingkungan dengan kualitas udara yang lebih baik.
2. Batuk muncul atau semakin sering
Batuk merupakan respons alami tubuh untuk mengeluarkan zat yang mengiritasi saluran pernapasan.
Paparan kabut asap dapat memicu batuk kering. Kondisi ini juga dapat membuat batuk yang sudah ada menjadi semakin sering.
Orang dengan asma atau penyakit paru tertentu perlu lebih waspada. Polusi udara dapat memperburuk keluhan pernapasan pada kelompok tersebut.
3. Mata perih, merah, atau berair
Mata juga dapat merasakan dampak langsung dari udara yang tercemar.
Partikel dan zat iritan dapat membuat mata terasa perih, panas, kering, berair, atau kemerahan. Keluhan tersebut dapat muncul setelah seseorang berada di area dengan kabut asap.
Hindari menggosok mata meski terasa gatal atau perih. Tangan yang tidak bersih dapat memperburuk iritasi.
4. Bersin dan hidung tersumbat
Saluran hidung dapat memberikan respons ketika terkena udara yang mengandung partikel dan polutan.
Respons tersebut bisa berupa bersin, hidung berair, atau hidung tersumbat. Tingkat keluhannya dapat berbeda pada setiap orang.
Orang dengan alergi atau saluran pernapasan sensitif mungkin merasakan gejala lebih kuat ketika kualitas udara memburuk.
5. Napas terasa berat atau tidak nyaman
Kesulitan bernapas menjadi tanda yang perlu mendapat perhatian lebih serius. Keluhannya dapat berupa sesak, napas terasa berat, atau muncul suara napas berbunyi.
Risiko tersebut perlu menjadi perhatian khusus bagi penderita asma, penyakit paru, atau penyakit jantung.
Jika kondisi pernapasan memburuk setelah terpapar kabut asap, hentikan aktivitas. Segera cari tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.
Kelompok yang Perlu Lebih Waspada
Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap polusi udara. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru dan jantung termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
Kelompok tersebut sebaiknya mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Langkah ini dapat membantu menekan jumlah paparan polutan yang masuk ke tubuh.
Langkah Saat Gejala Mulai Muncul
Mengurangi paparan menjadi langkah awal ketika tubuh mulai menunjukkan keluhan.
Jika memungkinkan, segera masuk ke ruangan dengan kualitas udara lebih baik. Hindari aktivitas fisik berat di luar ruangan dan gunakan perlindungan pernapasan yang sesuai saat harus bepergian.
Pastikan tubuh tetap terhidrasi dan jauhi sumber iritan lain, termasuk asap rokok. Bagi orang yang memiliki obat resep untuk kondisi tertentu, gunakan obat sesuai petunjuk dokter.
Jangan Abaikan Gejala Berat
Beberapa gejala membutuhkan pertolongan medis segera. Kondisi tersebut antara lain sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, pingsan, serta bibir atau wajah yang membiru.
Kesulitan bernapas yang terus memburuk juga memerlukan pemeriksaan segera. Begitu pula batuk yang disertai darah.
Dengan mengenali tanda-tanda tersebut, masyarakat dapat lebih cepat mengurangi paparan kabut asap dan mengambil tindakan ketika kondisi mulai mengganggu kesehatan. (*)






