Sleepwalking atau Tidur Berjalan: Kenali Gejala, Penyebab, Bahaya, dan Cara Mengatasinya

Penulis -

Sabtu, 4 Juli 2026 - 22:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi sleepwalking atau tidur berjalan. (Foto: AI Generate)

Ilustrasi sleepwalking atau tidur berjalan. (Foto: AI Generate)

Javanusa.com—Terbangun di ruang tamu, dapur, atau bahkan di luar kamar tanpa mengingat bagaimana bisa sampai ke sana bukan sekadar kebiasaan tidur yang unik.

Kondisi tersebut dapat menjadi tanda sleepwalking atau tidur berjalan, gangguan tidur yang membuat seseorang melakukan berbagai aktivitas saat masih tertidur.

Sleepwalking atau somnambulisme merupakan gangguan tidur yang membuat seseorang bangun sebagian dari fase tidurnya, lalu berjalan atau melakukan aktivitas tertentu tanpa benar-benar sadar.

Penderita dapat meninggalkan tempat tidur, berpindah ruangan, hingga melakukan berbagai kegiatan meski kondisi otaknya masih berada dalam fase tidur. Setelah terbangun, sebagian besar tidak mengingat apa yang telah dilakukan.

Gangguan ini lebih sering terjadi pada anak usia 4–16 tahun. Meski demikian, orang dewasa juga dapat mengalaminya dan perlu lebih waspada karena risikonya cenderung lebih besar.

Gejala Sleepwalking yang Perlu Diwaspadai

Sleepwalking tidak selalu hanya ditandai dengan berjalan saat tidur. Penderita juga bisa memperlihatkan berbagai perilaku lain, antara lain:

    • Bangun dari tempat tidur lalu berjalan.
    • Mata terbuka dengan tatapan kosong.
    • Berbicara, berganti pakaian, atau makan saat masih tertidur.
    • Tidak merespons ketika diajak berbicara.
    • Mengantuk berlebihan pada siang hari.
    • Bersikap agresif ketika dibangunkan.

Pada kondisi yang lebih berat, seseorang bahkan dapat memasak atau mengemudikan kendaraan tanpa sadar. Situasi tersebut meningkatkan risiko kecelakaan maupun cedera serius.

Tidak sedikit penderita yang menemukan memar atau luka ketika bangun tidur tanpa mengetahui penyebabnya.

Penyebab Sleepwalking Belum Diketahui Secara Pasti

Hingga kini, penyebab sleepwalking belum dapat dipastikan. Namun, seseorang dengan anggota keluarga yang memiliki riwayat serupa diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan ini.

Selain faktor keturunan, sejumlah kondisi juga dapat memicu munculnya episode tidur berjalan, di antaranya:

    • Kurang tidur.
    • Kelelahan fisik.
    • Stres.
    • Depresi.
    • Gangguan kecemasan.
    • Demam.
    • Perubahan jadwal tidur.
    • Efek samping obat antipsikotik, stimulan, antihistamin, maupun konsumsi alkohol.
Baca Juga :  Puskesmas se-Kota Padang Gelar Skrining TBC Gratis Setiap Sabtu

Beberapa penyakit juga berkaitan dengan meningkatnya risiko sleepwalking, seperti obstructive sleep apnea, narkolepsi, restless legs syndrome, penyakit refluks asam lambung (GERD), migrain, gangguan tiroid, cedera kepala, hingga stroke.

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Episode sleepwalking yang hanya terjadi sesekali umumnya tidak berbahaya. Namun, pemeriksaan medis perlu dilakukan apabila kondisi tersebut:

    • Terjadi lebih dari satu hingga dua kali dalam seminggu.
    • Menyebabkan cedera pada diri sendiri maupun orang lain.
    • Baru muncul pertama kali saat dewasa.
    • Disertai kualitas tidur yang buruk.
    • Berlangsung sejak masa kanak-kanak hingga remaja atau dewasa.
Risiko Komplikasi Sleepwalking

Meski sering membaik seiring bertambahnya usia, sleepwalking tetap tidak boleh dianggap sepele.

Gangguan ini dapat menyebabkan cedera akibat jatuh, keluar rumah tanpa sadar, mengonsumsi benda yang tidak semestinya, atau melakukan aktivitas berbahaya ketika masih tertidur.

Selain itu, kualitas tidur yang terganggu dapat memicu kantuk pada siang hari, menurunkan konsentrasi, mengurangi produktivitas, hingga meningkatkan risiko melukai orang lain.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan menggali riwayat gangguan tidur, kondisi kesehatan, riwayat gangguan mental, penggunaan obat-obatan, serta kemungkinan penyalahgunaan zat.

Jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan berupa polisomnografi untuk memantau aktivitas tubuh selama tidur. Pemeriksaan ini merekam gelombang otak, kadar oksigen, denyut jantung, pola napas, dan pergerakan tubuh.

Dokter juga dapat menyarankan elektroensefalografi (EEG) guna mengukur aktivitas listrik otak apabila dibutuhkan.

Pengobatan Sleepwalking

Sebagian besar kasus sleepwalking tidak memerlukan terapi khusus karena dapat membaik dengan sendirinya. Penanganan biasanya diberikan jika gangguan sudah membahayakan atau dipicu oleh penyakit tertentu.

Beberapa pilihan penanganan meliputi:

1. Membangunkan sebelum episode terjadi

Apabila pola tidur berjalan terjadi pada waktu yang relatif sama setiap malam, anggota keluarga dapat membangunkan penderita sekitar 15 menit sebelum episode biasanya muncul. Setelah tetap terjaga selama sekitar lima menit, penderita dapat kembali tidur.

Baca Juga :  Camat Lubeg Tutup Praktik Lapangan Kebidanan Mahasiswa FK Unand
2. Penyesuaian obat

Jika sleepwalking berkaitan dengan efek samping obat, dokter dapat mempertimbangkan perubahan jenis maupun dosis terapi. Pasien tidak dianjurkan menghentikan atau mengganti obat tanpa persetujuan dokter.

3. Psikoterapi

Pada kasus yang berulang, dokter dapat merekomendasikan terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk membantu memperbaiki pola pikir dan perilaku yang berkaitan dengan gangguan tidur.

Cara Mengurangi Risiko Sleepwalking di Rumah

Lingkungan yang aman menjadi langkah penting untuk mencegah cedera ketika episode sleepwalking terjadi.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

    • Menyingkirkan benda tajam dan benda berbahaya dari kamar.
    • Mengunci pintu serta jendela rumah.
    • Menutup jendela kaca dengan gorden tebal.
    • Memasang alarm atau bel pada pintu kamar.
    • Memberi tahu pasangan maupun anggota keluarga mengenai riwayat sleepwalking.
Tips Mencegah Sleepwalking

Penerapan sleep hygiene atau kebiasaan tidur yang baik menjadi cara utama untuk menurunkan risiko sleepwalking.

Beberapa kebiasaan yang dianjurkan meliputi:

    • Tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari.
    • Menghindari kafein dan alkohol menjelang waktu tidur.
    • Melakukan aktivitas relaksasi sebelum tidur.
    • Buang air kecil sebelum beristirahat.
    • Menjaga suhu dan pencahayaan kamar tetap nyaman.
    • Mengelola stres, berpikir positif, serta rutin berolahraga.

Dengan menjaga kualitas tidur dan mengenali faktor pemicunya, risiko munculnya episode sleepwalking dapat dikurangi sekaligus mencegah komplikasi yang membahayakan. (*/red)

Berita Terkait

Lem Gigi Palsu: Jangan Asal Pilih, Ini Cara Menggunakannya dengan Aman
Jerawat Pasir di Wajah Sulit Hilang? Ini 5 Cara Mengatasinya dengan Aman
Jantung Koroner: Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Menurunkan Risikonya
Cacar Air pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Kapan Harus ke Dokter
Cara Membaca Hasil USG 4D Saat Hamil, Ini Istilah dan Angka yang Perlu Dipahami
Rutin Minum Jus Wortel, Apa Benar Bisa Menyehatkan Mata dan Kulit?
Toilet Jongkok atau Duduk, Mana yang Lebih Sehat? Ini Posisi yang Disarankan
Jangan Salah, Begini Cara Menghibur Orang Sedih agar Tidak Makin Tertekan

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:20 WIB

Balap Motor Kota Padang Sabet 3 Emas di Porprov Sumbar 2026, Target Juara Umum Makin Terbuka

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:13 WIB

Muhammad Fakhri Ramadan Raih Emas Lompat Tinggi Porprov Sumbar 2026

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:55 WIB

Debut Manis, Alfarel Radhiya Bawa Emas MMA Kota Padang di Porprov Sumbar 2026

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:59 WIB

Gulat Kota Padang Juara Umum Porprov XVI Sumbar, Raih 16 Medali Emas

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:50 WIB

David Silva Comeback dari Pensiun, Gabung Klub Hong Kong Supreme Sha Tin

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Usai Bertugas di FIFA ASEAN Cup 2026, Pedro Rodriguez Umumkan Pensiun

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Stefano Cugurra Resmi Tangani Semen Padang FC, Targetkan Promosi ke Super League

Berita Terbaru